Pembantu Berbahaya
Air hangat segera mengguyur tubuhnya.
Di luar, Axton merasakan tenggorokannya tercekat. Ia melonggarkan dasinya, cengkeramannya pada kain sutra itu begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa bersalah dan kemarahan yang tadinya ia rasakan karena kelancangannya kemarin, kini tergantikan oleh gelombang gairah yang lebih panas, mendidih, dan menghanyutkan. Ia mencoba menahan gejolak itu, mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia harus pergi dari sana.
Namun, kakinya terpaku. Matanya terpaku pada siluet buram di balik kaca, yang kini beriak karena guyuran air.
Hot Chapters