Ada sesuatu yang sangat manusiawi tentang writer's block—rasanya seperti tembok bata yang tiba-tiba tumbuh di depan meja kerja, dan kita hanya bisa menatapnya dengan frustrasi. Tapi pengalamanku justru menunjukkan bahwa diam-diam, otak kita terus bekerja di belakang layar. Dulu aku pernah stuck selama berminggu-minggu tidak bisa menulis satu paragraf pun untuk cerita pendek, sampai akhirnya aku memutuskan berhenti memaksakan diri. Aku beralih ke aktivitas lain: nonton film absurd seperti 'Paprika', baca komik indie, bahkan coba resep masakan baru. Tanpa disadari, tiga minggu kemudian ide-ide mulai mengalir deras saat sedang mencuci piring. Proses kreatif itu aneh—kadang perlu 'fermentasi' waktu dimana kita merasa tidak produktif, padahal sebenarnya otak sedang meracik solusi.
Yang menarik, beberapa teman di komunitas penulis sering bilang writer's block itu semacam mekanisme pertahanan—tanda bahwa kita perlu mengisi ulang 'bahan bakar kreatif'. Aku setengah-setengah percaya ini. Kadang dengan membaca puisi tua atau jalan-jalan ke taman, tiba-tiba muncul perspektif baru. Tapi ada juga kasus dimana block bertahan sampai perlu intervensi aktif: buat daftar 20 ide buruk dulu sebagai pemanasan, atau tulis surat untuk karakter fiksi. Kuncinya mungkin terletak pada pengakuan bahwa kreativitas punya siklus alami, dan 'penyembuhan' bisa datang dari kombinasi kesabaran dan eksperimen kecil yang tidak terduga.