Asmaraloka Sang Putri Pusaka
Awan-awan tebal menggantung rendah, membawa hawa berat yang menandakan musim hujan akan segera datang.
Di halaman, Rakai memandang Raras dari jauh. Ia berdiri di bawah pohon beringin tua, tangan bersedekap, matanya lembut menatap wanita yang kini memenuhi benteng dengan tawa dan cahaya, sesuatu yang dulu nyaris tak pernah ada di tempat ini.
Namun di balik tawa itu, pikirannya tak tenang.
Sejak pagi, utusan dari kota Wirutama belum kembali membawa laporan. Ia tahu ada sesuatu yang aneh, seolah badai sedang menunggu waktu untuk datang.
Hot Chapters