Masukคบกันมาตั้งสองปีแต่พึ่งจะมาเห็นค่าตอนที่โดนบอกเลิก "การปล่อยเธอไปนั่นก็อาจจะเป็นความรักอีกรูปแบบหนึ่ง แต่ไม่ใช่แบบของผมครับ"
Lihat lebih banyak"Ibu cari siapa ya?"
Seorang perempuan bertanya pada Laras. Seingat Laras, dia adalah Reina. Dia sahabat dekat putri semata wayangnya, Dina. Pakaian Reina rapi, khas seorang sekretaris. Tapi bagi Laras, pakaian yang dikenakan Reina sangat minim. 'Apa mungkin begini pakaian orang kota zaman sekarang?' batin Laras, mencoba berpikir positif. Wajah Reina sangat cantik dan mulus. Jauh lebih cantik dari terakhir kali aku bertemu dengannya. Meski begitu, ia tidak secantik Dina. 'Apa sekarang dia menjabat sebagai asisten pribadi Leo, ya? Jika memang iya, kenapa sepagi ini dia udah ada di sini?' batin Laras. "Apa benar ini rumah Leo?" tanya Laras, khawatir ia salah alamat atau mungkin Leo dan Dina sudah pindah ke rumah yang jauh lebih besar. Laras sengaja tidak menyapa Reina. Laras merasa, Reina sudah lupa dengannya. Karena mereka hanya pernah bertemu sekali. "Iya, benar. Ibu siapanya Bang Leo, ya?" 'Bang? Kok dia manggil Leo dengan sebutan Bang?' batin Laras kembali merasakan kejanggalan. "Ah! Saya Tantenya. Leo ada di rumah?" tanya Laras lagi, sedikit berbohong. Karena khawatir jika Laras jujur, dia tidak diperkenankan masuk ke dalam. "Ada. Kebetulan dia lagi siap-siap di kamar," ucapnya, lebih lembut dari sebelumnya. Ia juga membantuku membawa barang dan masuk ke dalam rumah. "Tunggu di sini sebentar ya, Tante. Saya panggil Bang Leo dulu." Laras duduk di sofa, menunggu kedatangan Leo, sambil melihat sekitar, mencari keberadaan anak semata wayangnya. "Tante siapa sih, Beb? Kenapa nggak nanya yang jelas dulu sih!" ucap Leo. Suaranya semakin mendekat menuju tempat Laras berada saat ini. Saat mereka akan sampai di hadapan Laras, perempuan yang Laras yakini adalah Reina sedang bergandengan tangan dengan Leo. Namun, saat mata Leo menangkap wajah Laras, dengan cepat ia melepas tangannya. "I-Ibu? Kenapa Ibu nggak bilang-bilang kalau mau datang ke sini?" "Ibu?" gumam Reina. Ia mengerutkan kening. Melihat pemandangan yang tidak nyaman membuat Laras bangkit dari duduknya. "Di mana Dina? Dan ngapain kamu sama perempuan itu?" "Di-Dia asisten pribadi Leo, Bu! Dia ada di sini karena harus mengantar dokumen penting untuk Leo bawa ke luar kota pagi ini!" ucap Leo, beralasan. 'Kalo cuma asisten pribadi, kenapa panggilan dan hubungan mereka keliatannya dekat banget!' pikir Laras. Tapi ia tidak mau mempermasalahkannya sekarang. Karena baginya yang penting saat ini adalah mengetahui di mana keberadaan Dina. "Di mana Dina?" tanya Laras lagi. "Di-Dina lagi di dalam Bu! Dia... " Belum sempat Leo melanjutkan ucapannya, Laras sudah berhambur masuk ke dalam. Ia mencari Dina di kamar utama, namun ia tidak menemukannya. Leo mengekor Laras dari belakang. Ia sangat khawatir akan sikapnya selama ini diketahui oleh Ibu Mertuanya. Saat Laras masih sibuk mencari di beberapa ruangan, Dina malah ke luar dari dapur. Tempat yang tidak pernah Dina sentuh dulu, saat belum menikah dengan Leo. "Din... " panggil Laras. Bulir hangat mulai jatuh membasahi pipinya saat melihat kondisi putrinya sekarang. Tubuh Dina jauh lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu dulu. Wajahnya juga sangat pucat. Sepertinya ia sedang kurang sehat. Padahal, dulu tubuh Dina cukup berisi dan menggiurkan. Wajahnya pun putih kemerahan. Sangat kontras dengan kondisinya saat ini. "I-Ibu..." Dina langsung berhambur masuk ke dalam pelukkan Laras. Sudut-sudut bibirnya sedikit terangkat. Berbeda dengan yang Laras lihat tadi. Tadi, wajah Dina terlihat masam dan menyedihkan. "Sayang, kamu lagi apa? Kamu lagi kurang sehat ya?" Baru saja Laras bertanya, tubuh Dina sudah merosot jatuh ke bawah. Badannya sangat panas. Laras mencoba mengangkatnya. Namun dengan cepat, Leo menghampiri dan mengangkat tubuh kurus Dina. Saat tubuh Dina diangkat dan pakaiannya sedikit tersingkap, terlihat beberapa luka di tubuh Dina. Hal itu lantas membuat darah Laras mendidih, tapi ia tidak mengungkapkannya. Laras sengaja menahannya. Karena Ia masih membutuhkan Leo untuk mengangkat Dina dan membawanya ke rumah sakit. "Mau di bawa ke mana Bang?" tanya Reina. "Rumah sakit, dia pingsan!" "Hah! Ngapain? Kompres aja pakai air dingin, nanti juga sembuh!" ucap Reina, acuh tak acuh. Reina lupa kalau di sana ada Laras, Ibu kandung Dina. "Siapa kamu ngatur-ngatur, hah!" ucap Laras, ketus. "Cepat bawa Dina ke rumah sakit, Leo!" "Dina udah biasa begini! Paling istirahat sebentar juga sembuh, Bu!" ucap Reina. Reina bergegas menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia sadar kalau sudah salah bicara di depan Laras. Laras mengerutkan kening. "Udah biasa kata kamu?" Leo menatap tajam ke arah Reina. "Reina hanya salah bicara, Bu! Jangan terlalu dipikirkan! Ayo, kita ke rumah sakit aja!" Laras melihat ke arah Reina, lalu beralih kembali ke Leo yang sedang menggendong Dina. Benar, saat ini kesehatan Dina yang utama. Untuk hal lainnya akan ia selesaikan nanti!“ดูแลวาให้ดี ๆ หน่อยสิ”“ก็นี่ไงดูแลอยู่ อาบน้ำให้ด้วย”ว่าแล้วเขาก็รวบร่างบางเข้ามาแนบชิดทันที หญิงสาวที่ยังมีฤทธิ์แอลกอฮอล์หลงเหลืออยู่ในร่างรี่ตามองคนตรงหน้าอย่างจับผิด“อาบน้ำให้หรือตั้งใจจะจับนมวากันแน่”“หึ!”ภูผาเค้นหัวเราะในลำคอก่อนจะเลื่อนมือไปปิดน้ำแล้วดันร่างบางให้ชิดกับผนังสีเทาเข้ม ก่อนจะโน้มใบหน้าลงใกล้แล้วยกยิ้มมุมปากอย่างเจ้าเล่ห์“แสนรู้จริง ๆ เลยนะ” ภูผาว่าเสียงเบาพร้อมเลื่อนมือมาปลดตะขอเสื้อชั้นในของหญิงสาวอย่างชำนาญ“อ้ะ!”เอวายังไม่ทันตั้งตัวก็ถูกรวบตัวอุ้มขึ้นกลางอากาศ ความตกใจทำให้เรียวขารีบตวัดรัดเอวสอบไว้แน่น ขณะที่มือบางเผลอกอดคอเขาไว้โดยไม่รู้ตัวริมฝีปากหนาประกบจูบริมฝีปากอวบทันทีที่เธอเผลอ ภูผาบดขยี้เรียวปากอย่างเร่าร้อน ขณะที่มือหนาก็ขย้ำก้นงามงอนของเธออย่างปลุกเร้าอารมณ์“อื้อ พี่ผา”เอวาเอ่ยเสียงแผ่วเบาทันทีที
--ผ่านไปหลายเดือน—ตั้งแต่กลับมาคบกันอีกครั้ง ดูเหมือนความรักของทั้งสองจะหวานชื่นราวกับข้าวใหม่ปลามัน เพราะจากคนที่ไม่เคยสนใจใครนอกจากตัวเองอย่างภูผา กลับกลายเป็นคนรักที่ใส่ใจในทุกรายละเอียดของแฟนสาว ไม่ว่าจะเป็นอาหารที่เธอชอบ รายการโปรดที่เธอดู หรือแม้แต่จังหวะอารมณ์เล็ก ขึ้น ๆ ลง ๆ ของเธอส่วนเอวาเองก็เปลี่ยนไปเช่นกัน จากที่เคยปากแข็ง ไม่ยอมแสดงความรู้สึก ก็เริ่มกล้าแสดงออกมากขึ้น รู้สึกไม่โอเคสิ่งไหนก็พูดออกมาตรง ๆ ไม่เก็บให้ถมทับความรู้สึกเหมือนเมื่อก่อนอีกต่อไปแล้วพอเป็นแบบนี้ก็ยิ่งกระชับความสัมพันธ์ของทั้งสองมากยิ่งขึ้น อาจจะมีทะเลาะ แง่งอนกันบ้าง แต่ก็ทะเลาะกันเพื่อปรับความเข้าใจ ไม่ใช่เพื่อเลิกราเหมือนเมื่อก่อน“อยู่นิ่ง ๆ ก่อน”“ก็วาเจ็บ! เบา ๆ มือหน่อยได้ไหม”เสียงหวานเอ็ดคนที่จับกลุ่มผมตัวเอง แล้วหันไปมองชายหนุ่มที่นั่งบนโซฟาด้วยสายตาเขม้นอย่างไม่พอใจ ภูผาไหวไหล่ไม่สะทกแล้วจับร่างเล็กที่นั่งอยู่บนพื้นให้หันไปดังเดิม ก่อนจะก้มลงสนใจผมยาวสลวยในมือที่แบ่งเป็นสามส่วน แล้วเร
“อ๊า ซี้ดดด”เสียงทุ้มครางต่ำอย่างสะกดกลั้น เขากัดกรามแน่นจนนูนเป็นสันอย่างเห็นได้ชัด สายตาจ้องมองริมฝีปากเล็กที่กำลังครอบครองท่อนเอ็นอวบยาวราวกับเป็นเพียงแท่งไอศกรีมที่เธอดูดกินภูผาเลื่อนมือหนาจับศีรษะแล้วขย้ำเส้นผมยาวไว้แน่นก่อนจะกดใบหน้าสวยลงไปจนแก่นกายเข้าลึกไปถึงคอ เอวาเหลือกตาพลางกลั้นหายใจส่งเสียงอื้ออึงออกมาเมื่อภูผาไม่ปล่อยสักที มือเล็กตบเข้าที่หน้าขาแกร่งเบา ๆ อย่างบอกเป็นนัยว่าเธอหายใจไม่ออก เป็นแบบนั้นภูผาจึงยอมปล่อยให้เธอเป็นอิสระ“เฮ้ออ พี่ผา!”เอวาละริมฝีปากจากท่อนเอ็นแล้วหันไปตวัดสายตาเอ็ดคนยกยิ้มกรุ่มกริ่มทันที“ก็มันเสียวนิครับ”“แต่วาจะตายแล้ว”“โหห~ จะตายคาKวยพี่เลยหรอ”ชายหนุ่มว่าพร้อมกระตุกมุมปากเล็กน้อยพลางเค้นหัวเราะในลำคออย่างชอบใจ ก่อนจะดันกายให้นั่งพิงกับหัวเตียงเก้าสิบองศา พอเห็นหญิงสาวทำหน้ามุ่ยแก้มป่องจึงเลื่อนมือหนาไปคว้าแขนเรียวแล้วกระตุกเข้าหาตัวเองอย่างแรง“มาเร็ว”เขาเอ่ยบอกน้ำเสียงออดอ้อนพร้อม
ภายในห้องกว้าง สองร่างเปลือยเปล่านอนแนบชิดกันบนเตียงขนาดใหญ่ ท่ามกลางความเงียบงันที่อบอวลไปด้วยความเร่าร้อน ใบหน้าหล่อซุกไซร้ซอกคอระหงพลางขบเม้มเบา ๆ พร้อมสูดดมกลิ่นกายเข้าเต็มปอด ก่อนจะเลื่อนต่ำลงเรื่อย ๆ หยุดอยู่ที่เนินอวบ ริมฝีปากร้อนครอบงำเม็ดประทุมที่แข็งเป็นไตอย่างหื่นกระหายหญิงสาวผู้ถูกปรนเปรอบิดเร้าร่างกายด้วยความเสียวซ่าน เมื่อมือหนาข้างหนึ่งเลื่อนมาคลึงเนินสวาทพร้อมทั้งขยี้เม็ดเสียวจนเธอเผลอครางเสียงหลงไปหลายที“อ้า อื้ออ”สะโพกมนยกขึ้นสู้กับนิ้วมือที่พยายามสอดใส่เข้ามาในช่องทางรัก เอวาจับท่อนแขนแกร่งไว้แน่นเพื่อระบายความรู้สึกเสียดเสียวภายในกาย ไม่นานริมฝีปากร้อนก็ละออกจากยอดอกก่อนจะจูบซับต่ำลง ผ่านหน้าท้องแบนราบและมาหยุดที่เนินสาว“ดะ...เดี๋ยว”เอวารีบผงกศีรษะร้องห้ามเสียงหลงเมื่อเรียวขาของตัวเองถูกจับให้กางออกอีกทั้งยังยกพาดบ่าแกร่ง ภูผาเงยขึ้นมองหญิงสาวด้วยสายตาหวานเยิ้มก่อนจะเอียงใบหน้าเล็กน้อยอย่างตั้งคำถาม“มะ...ไม่มีอะไร”เอวาถอนหายใจออกเบา ๆ ก่อนจะยอมนอนราบอย่างไม่ม