LOGINAku istri sah, tapi merasa seperti bayangan. Suamiku sibuk mengkhianati, sampai pria lain membuatku merasa hidup kembali. Masalahnya... dia rival suamiku. Terlarang, tapi memikat. Salah, tapi aku tak bisa berhenti. Mampukah aku melawan pesonanya, atau justru hancur dalam pelukannya?
View More"Rangga,” panggil Wijaya, “selamat, Nak.” “Terima kasih, Pa.” Wijaya menatap Kenna lama, sorot matanya hangat. “Kamu sekarang resmi jadi anak kami. Papi doakan rumah tangga kalian kuat.” Kenna mengangguk kecil. “Amin, Pi. Terima kasih.” Wijaya mengeluarkan dua amplop tebal. “Ini hadiah Papi, bulan madu ke Bora Bora." Rangga sampai melongo. “Pi, serius? Bora Bora ini?” “Kalian baru nikah. Pergilah. Angin segar bagus buat kalian,” jawab Wijaya sambil menepuk bahu Rangga. Tawa pelan terdengar dari para tamu. Najla menggodanya, “Enak banget langsung jalan. Aku sama Evan belum niat nikah sudah disuruh cari wali.” Rangga terkekeh, “Makanya jangan jadi panitia niakh." Suasana mencair lagi. Evan dan Najla tertawa sambil saling dorong. Penghulu juga ikut tersenyum sebelum pamit. Aura acara berubah hangat, ringan, seperti seluruh beban hari itu runtuh bersamaan dengan detik-detik akad tadi. Kenna menarik napas lega. “Kita benar berangkat sekarang?” Rangga menunjuk pintu kel
"Praba, pengantinnya datang!”Suara Najla memecah kerumunan. Beberapa tamu yang semula berdiri langsung menoleh ke arah pintu aula.Seorang perempuan melangkah pelan masuk. Gaun putih sederhana menempel di tubuh mungilnya. Di sebelahnya dia orang ibu dan satu bapak setengah baya. "Kenna.. " Salah satu ibu itu menyapa. Dia ibunya Praba. "Assalamu'alaikum, Tante! " Kenna menyalami perempuan itu. "Selamat ya! " "Terimakasih, Tante. "Gadis berbaju pengantin mengulas senyum. Wajahnya bersih, lembut, dengan senyum malu-malu. Kenna menahan napas. “Winda?” suaranya nyaris bergetar.Sasha menatap sekilas lalu tersenyum kecil. “Winda Windary? Sekelas kita dulu kan?”Kenna mengangguk pelan. “Dia dulu selalu bareng aku dan Sasha.”"Apa khabar kalian? "Tanpa banyak kata, mereka berpelukan. Penghulu menatap arlojinya lalu tersenyum lega. “Alhamdulillah, sudah lengkap sekarang. Mari kita lanjutkan.”Praba melangkah menyambut Winda. Ada sinar bahagia yang belum pernah terlihat sebelumnya di m
"Rangga? " Assalamu'alaikum, Kenna. Apa khabar? Mata Rangga memburam. Inginnya ia memeluk Kenna saat itu juga. Kerinduan tak lagi dapat ia bendung. Kenna hanya bisa mematung. Mata itu bahkan hampir menetes tak terkendali. "Pak, ini kapan dimulainya? " Suara Penghulu terdengar dari dalam. "Van, cepat bawa pengantin perempuannya," ucap Najla pula. "Sebentar, pengantinnya belum datang. ""Apa maksudnya, Evan?" tanya Kenna terbata, matanya beralih dari Evan ke penghulu yang sudah duduk tenang di depan.Evan tersenyum tipis, agak menahan gugup. "Kita tunggu sebentar lagi, Pak biar yang datang lengkap. Setelah itu baru mulai."Najla berdiri di sisi Evan, menggenggam tangan Kenna lembut tapi terasa menekan. "Mas Praba nunggu pengantinnya datang dulu ya, Van" ucap Najla, matanya menusuk penuh arti.Praba mengangguk pelan, lalu menatap Kenna. "Nggak apa-apa, aku tunggu," suaranya tenang, tapi Kenna bisa menangkap nada aneh di sana, seolah dia sendiri tidak yakin apa yang sedang terjadi.K
"Apa benar itu Praba?" bathin Kenna lagi.Evan menegakkan tubuh. Senyumnya menegang saat Kenna menatapnya.Kenna terpaku. Evan berusaha menjaga ekspresi, namun tatapannya sekilas tertuju pada Najla di sampingnya. Najla menatap balik dengan senyum tipis, tapi matanya berbinar. "Jadi itu yang kamu ceritakan bisa membeahagiakan Mbak Kenna?" tanya Najla tanpa suara, hanya melalui gerak bibir.Evan berpura-pura tidak paham. Ia mencondongkan tubuh ke depan, berusaha mengalihkan perhatian pada acara.Kenna menunduk. Jantungnya berdegup aneh. Ia mengingat percakapan singkat dengan Evan seminggu lalu, tentang pria yang katanya tekun beribadah, pekerja keras, dan mapan. Saat itu, Evan bilang, "Orang itu pantas buat kamu, Mbak Kenna. Aku cuma ingin Mbak bahagia."Jadi maksudnya... Praba?Senyum Praba kini tertuju padanya. Tatapan itu hangat, seperti dulu saat mereka masih sama-sama di SMA. Tapi entah kenapa, bukan kehangatan yang Kenna rasakan, melainkan sesak."Kenna?" Praba menghampiri. Sat
"Apa?""Kamu nggak akan pernah jatuh cinta sama dia."Sejenak Evan tergelak. "Aneh banget kamu.""Van, aku serius, janji nggak?"Nada suara Najla kali ini berat, seperti ada yang ia tahan.Evan menatap wajah gadis itu di bawah lampu jalan yang temaram. Rambut Najla sedikit lembap, menempel di pipin
"Mbak Kenna, kamu kelihatan pucat," ucap Evan pelan sambil meletakkan cangkir teh ke meja.Kenna hanya mengangguk kecil. "Aku nggak apa-apa. Cuma capek mikir hidup aku aku di sini."Suara sendok beradu dengan gelas mengisi ruang tamu kecil itu. Udara pagi masuk lewat jendela yang setengah terbuka,
“Daddy…”Suara kecil itu membuat dada Samuel serasa diremas. Bocah berusia lima tahun itu memeluknya erat, pipinya menempel di dada Samuel.Samuel hanya menatapnya dengan mata buram.“Daddy, setelah ini kita nggak akan terpisah lagi, kan?” tanya Andra lirih.Samuel menatap rambut halus itu. “Enggak
Kenna yang berjalan tergesa, tak terasa menabrak seseorang.“Buta, ya?!” hardik Kimmi sambil membetulkan topinya yang agak miring. Suaranya keras, menusuk telinga. “Orang mau jalan, kamu malah nyelonong. Nggak lihat apa ada orang di depanmu?”Kenna menunduk, tidak membela diri. Ujung jarinya mencen












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews