LOGINKamila, gadis muda yang cantik dan lugu jatuh cinta kepada Dion Sugara, seorang mahasiswa yang tengah melaksanakan kegiatan KKN di kampungnya. Dion melamarnya tanpa sepengetahuan kedua orangtua. Ternyata mereka tidak direstui. Persiapan pernikahan sudah hampir rampung oleh ayah Kamila. Akan tetapi, Dion malah membawa Aldin Nabastala untuk menggantikan dirinya menikahi sang gadis. Lelaki itu berencana menitipkan gadisnya kepada duda beranak satu tersebut untuk beberapa waktu. Kamila akhirnya menerima demi menjaga nama baik keluarga. Ia tidak mau sang ayah menerima rasa malu karena kegagalan pernikahan sang anak. Gadis cantik ini pun terjebak di dalam pernikahan bersama Aldin. Sementara hatinya masih bersama Dion. Rasa mulai tumbuh di hati Aldin kepada Kamila si gadis shaliha. Apakah pria itu akan menyerahkan sang istri kembali kepada kekasihnya, sementara benih-benih cinta telah muncul? Jangan lupa vote, komen, dan rate 5 bintang ya, Temans. Makasih ....
View More"Kamu makan yang banyak. Biar bayi kita sehat," ucap Bang Aldin dengan menyunggingkan senyuman. Tangannya terulur memegang sendok, menyuapiku bubur ayam buatan Bi Imah.Kami sudah di rumah dan kini tengah duduk bersama di ruang tengah. Ivan masih akan menginap beberapa hari bersama sang ibu.Walaupun benar-benar tidak berselera, tetapi aku tetap membuka mulut dengan terpaksa karena mengingat janin ini perlu asupan nutrisi. Anak ini tidak bersalah. Entah dari mana keyakinan itu datang. Mengapa Bang Aldin begitu percaya kalau janin yang baru berusia empat pekan ini anaknya? Bahkan aku sendiri bingung menentukan ... aku takut kalau yang dikatakan Bang Dion itu benar."Cukup, Bang," ujarku sembari mengalihkan wajah ketika ia kembali mengulurkan bubur itu untuk ke sekian kalinya."Cukup?" tanyanya sambil menautkan alis lebatnya.Aku mengangguk."Ya udah. Nanti kamu makan buah-buahan ini, ya," suruhnya seraya menunjuk ke arah
Sontak saja aku bangkit berdiri. Dada ini terasa mau pecah karena degupan kerasnya.Bang Dion terkekeh. Wajahnya terkesan mengejek.Bugh!"Kyaaaaaa!" teriakku histeris."Aakh ...." Bang Dion tampak kesakitan, karena baru saja menerima pukulan dari Bang Aldin di wajahnya. Darah segar pun mengalir dari sudut bibir pria itu, "sorry, Bang. Kami memang saling mencintai."Masih sanggup dia menyeringai! Ah!Kaca-kaca bening memburamkan pandangan mata ini.Dada Bang Aldin naik turun karena napas yang tersengal menahan emosi. Tiba-tiba matanya bersorot nyalang ke arahku. "Jadi ini alasan kamu ingin bercerai, hah?!" sergahnya padaku.Aku tidak mampu menjawab. Lidah ini terasa kelu. Ya Rabb ... aku ... aku harus bagaimana? Aku mengarahkan pandangan ke arah Bang Dion. Lelaki yang membawa masalah itu menyunggingkan senyuman sinis sembari mengusap ujung bibirnya yang berdarah. Lelaki itu kemudian bangkit berdiri. "Wah ... jadi Mila sudah meminta cerai?" Wajah itu tampak sangat memuakkan."A-ada ap
Tiba-tiba ia merenggangkan pelukannya. Sesaat kemudian terasa ranjang ini bergerak, pasti ia duduk. Aku masih membelakangi pria itu. "Lihat Abang!" Suara itu terdengar tegas menyuruhku.Aku bergeming."Mila! Lihat Abang sini!" ulangnya lebih tegas.Mau tidak mau aku pun membalikkan badan. Kutatap matanya dengan sendu. Yaa Allah, kuatkan hamba. "Aku mau cerai," ulangku sembari bangkit dan ikut duduk. Aku menyenderkan punggung ke kepala ranjang, menarik bantal ke atas pangkuan.Hening.Ia menatapku dengan sorot heran. Ya, tentu saja. Ia pasti merasakan perubahan sikap dan ia pasti memahami bahwa beberapa waktu ini aku sudah membuka hati untuknya. Bahkan aku memang telah jatuh hati kepada lelaki ini ... beserta sang anak. Aku menyayangi mereka berdua.Sebelah ujung bibirnya terangkat. "Tidak ... nggak akan pernah." Lelaki itu menyeringai, "jangan ajak Abang bercanda soal ini."Aku menatap denga
"Hmmm ... kamu kenapa, sih, Sayang? Seperti banyak pikiran gitu." Bang Aldin mengecup rahangku setelah hajatnya terpenuhi.Aku menggeleng, kemudian menenggelamkan diri di dadanya. "Ya sudah, kita tidur. Abang juga ngantuk banget," ucapnya lirih.Aku hanya berdeham menjawab suamiku. Ya Allah, apa yang harus aku katakan ke Bang Aldin? Bagaimana kalau Bang Dion nekat memperlihatkan foto-foto itu kepadanya? Aku tidak mau kehilangan dirinya juga Ivan. Aku sangat mencintai mereka ya, Rabb ....***Sudah tiga hari semenjak Bang Dion mengirimkan foto-foto itu. Ia beberapa kali menghubungi dengan nomor baru. Tiap nomor barunya masuk, pasti langsung aku blokir.Akan tetapi, pria itu seperti tidak kenal dengan yang namanya lelah. Terus saja menerorku. Diri ini benar-benar stress dibuatnya.Sering aku kehilangan fokus ketika melakukan sesuatu. Beberapa kali Bang Aldin, Ivan, atau Bi Imah mengajak bicara, tetapi aku tidak
"Saya harus segera pulang juga, Yah," sahut Bang Aldin, "Kerjaan sih, masih bisa diatur saat ini ... hanya saja saya khawatir dengan Ivan. Dia baru sembuh dari sakit."Oh, iya. Anak Bang Aldin 'kan ditinggal di sana. Tentu sebagai ayah, dia mengkhawatirkannya. Tidak mungkin terlalu lama meninggalka
"Kenapa belum tidur?" Suara yang kini sudah mulai tak asing bagiku.Aku bangkit dan beringsut menyenderkan punggung ke kepala ranjang. "Be–belum bisa tidur, Bang," jawabku gugup.Dia lalu merebahkan diri di situ. Kedua tangannya diletakkan ke belakang menyanggah kepalanya. "Kamu kalo tidur pake ker
Akhirnya kami sampai di kampung. Di pinggir Kota Bekasi. Ayah menyambut aku dan Kak Mirna dengan wajah cerah ceria. "Apa kabar, Yah?" tanya Kak Mirna sembari mencium tangan ayah."Alhamdulillah, Mirna. Ayah sehat! Suamimu gak ikut?" tanya ayah dengan bibir yang terus tersenyum.Giliranku mencium p
"Mila ... ini hanya sementara ...." Bang Dion ikut bangkit dan mencoba menjelaskan."Abang udah gila?!" jeritku sembari menatap nanar ke arah pria itu."Abang bilang juga apa ...?" tukas Bang Aldin santai dengan rokok yang terus dimainkan di bibirnya. Dia menyeringai."Mila, i–ini terpaksa!" Tampak
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore