ANMELDEN"Asawa niya ako, pero hindi kailanman minahal." Sa loob ng isang taon, tiniis ni Anessa ang malamig na pagtrato ni Bart Divinagracia—ang CEO na asawa niyang itinuring siyang wala. Isang kasal na itinali ng obligasyon, hindi ng pag-ibig. Isang pusong tahimik na nasasaktan, umaasang mamahalin din siya balang araw. Pero hanggang kailan siya maghihintay? Nang siya’y tuluyang iwan, doon lang napagtanto ni Bart ang halaga ng babaing dati’y hindi niya pinansin. Ngayon, handa siyang bawiin ang pusong sinayang niya—pero may babalikan pa ba kaya siya? O huli na ang lahat?
Mehr anzeigen"Anastasya!"
Clara mendekati Anastasya setelah ia memanggil namanya. Clara melihat Anastasya dari ujung kepala sampai kaki dengan teliti.
Anastasya mencoba untuk tetap tenang karena dia tidak ingin orang itu menyadari bahwa ia adalah benar Anastasya. Karena Anastasya telah mengubah penampilan setelah ia kabur dari rumah 2 tahun lalu.
Clara masih melihat Anastasya dengan penuh perhatian. Anastasya mencoba menunjukkan wajah risi agar Clara segera mengakhiri perhatian padanya. Lita teman Clara bisa melihat bahwa Anastasya merasa tidak senang.
Lita mencoba menarik Clara lalu berkata, "Clara, dia bukan Anastasya. Sudahlah, wajahnya saja berbeda."
Clara menepis tangan Lita kemudian kembali melihat wajah Anastasya. Anastasya menatap Clara dengan wajah sinis.
"Kamu Anastasya kan?"
Dengan tegas Anastasya menyangkal, "Aku bukan orang yang kamu sebutkan itu, namaku adalah Alina Bellezza."
Clara tercengang karena dugaannya salah. Dan Lita yang memang sejak tadi sudah merasa tidak enak langsung menarik tangan Clara dan menjauh seraya meminta maaf.
Setelah melihat mereka berdua menjauh Anastasya merasa sangat lega. Anastasya tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang telah membuat dia sangat menderita. Lalu Anastasya menatap ke arah mereka dengan tatapan tajam dan juga marah.
"Aku dulu pernah jadi gila karena kamu Clara, dan aku tidak ingin hal itu terjadi lagi. Aku bukan lagi Anastasya, sekarang aku Alina Bellezza."
Anastasya adalah seorang wanita yang kini berusia 24 tahun. Sebelum dia kabur dari rumah, dia tinggal bersama Ayahnya yang seorang angkatan darat, Ibu tirinya dan juga ketiga adiknya dari Ibu tiri itu.
Ayah dan Ibu kandung Anastasya sudah bercerai ketika Anastasya masih berumur 8 tahun. Ibu kandung Anastasya mengabaikan Anastasya begitu saja dan mengirimkan Anastasya pada Neneknya dari pihak Ayah untuk tinggal di sana.
Kehidupan Anastasya ketika ia tinggal bersama Nenek penuh dengan kasih sayang, walaupun Anastasya adalah anak yang cukup nakal. Dan setelah Anastasya lulus Sekolah Dasar Anastasya ikut bersama Ayah dan Ibu tirinya.
Ternyata Ibu tiri Anastasya bukanlah Ibu tiri yang baik. Memang Ibu tirinya tidak pernah melakukan kekerasan fisik pada Anastasya, tapi Anastasya selalu mendapatkan kekerasan verbal yang berpengaruh pada mentalnya.
Setelah Anastasya lulus Sekolah Menengah Atas, dia segera bekerja di salah satu lembaga keuangan yang meminjamkan uang kepada pada ibu-ibu. Selama bekerja di sana Anastasya merasa sangat bahagia karena jauh dari Ibu tirinya yang merusak mentalnya.
Lalu beberapa saat kemudian Anastasya harus mutasi ke kantor cabang lain setelah ia naik jabatan. Dan di sana Anastasya bertemu dengan Clara. Anastasya berteman baik dengan Clara walaupun Anastasya adalah atasan Clara.
Akan tetapi ternyata Clara membawa dampak buruk baginya. Clara memiliki kelainan seksual, yaitu suka dengan sesama jenis. Clara juga memiliki teman gaib yang kadang membuat Clara kerasukan.
Dan entah bagaimana Anastasya yang normal tiba-tiba terbujuk rayu oleh Clara. Akhirnya mereka berdua menjalin hubungan yang seharusnya tidak pernah terjadi pada Anastasya.
Selama hubungan itu terjalin, Anastasya menjadi sangat terobsesi pada Clara. Anastasya banyak menghabiskan uang untuknya. Dan Anastasya juga semakin jauh pada Tuhannya.
Dan akhirnya suatu ketika Anastasya mendapatkan musibah kecelakaan yang mengakibatkan kakinya patah. Dan kini dia tidak bisa lagi berjalan dengan normal, kakinya pun tidak bisa ditekuk seperti bagaimana mestinya. Dan Clara tidak pernah membantu Anastasya sama sekali. Clara justru telah menjalin hubungan dengan wanita lain.
Kehidupan Anastasya semakin hancur setelah itu karena kembali tinggal bersama Ibu tirinya. Selama 3 tahun Anastasya hidup berdiam diri di rumah dengan semua rasa takut karena Ibu tirinya. Sampai suatu ketika Anastasya yang memang hobi menghayal dan menonton drama berpikir ingin menjadi penulis.
Anastasya dengan gigih menulis dan menawarkannya ke berbagai platform. Anastasya sering mengalami kegagalan dan penolakan, tapi Anastasya tidak pernah menyerah dan akhirnya setelah beberapa bulan Anastasya berhasil. Novel yang ia buat banyak diminati oleh orang-orang.
Secara diam-diam Anastasya banyak mendapatkan penghasilan. Tapi walaupun begitu, di dalam rumah Anastasya masih mendapatkan kekerasan verbal dari Ibu tirinya yang membuat Anastasya lepas kendali dan memutuskan untuk kabur. Dan setelah ia kabur, Anastasya segera mengganti namanya menjadi Alina Bellezza.
"Alina!"
Ethan Raffanza menepuk pelan pundak Anastasya setelah ia memanggil namanya. Alina menoleh ke arah Ethan Raffanza yang telah menjadi editornya itu.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Dan kamu melihat ke arah mana dengan tatapan marah itu?"
Anastasya tersenyum pada Ethan, "Tidak, tidak ada apa-apa, ayo kita makan siang sekarang!"
Walaupun sedikit heran, Ethan mengabaikannya dan akhirnya mereka makan siang.
Ethan memang seorang editor untuk Anastasya. Tapi sebenarnya Ethan adalah Owner dari perusahaan perhiasan yang terkenal di seluruh Indonesia. Ethan menjadi editor hanya iseng karena ia hobi membaca sejak dulu.
Ethan juga menjadi orang yang berpengaruh besar bagi Anastasya setelah ia kabur dari rumah. Hanya Ethan lah teman yang selalu berada di samping Anastasya. Ethan yang baik hati, lembut dan sangat peduli pada Anastasya. Jika saja bukan Ethan yang menjadi editornya, entah bagaimana Anastasya bisa menjalani kehidupan barunya sendirian.
*****
Clara masih saja memikirkan Anastasya yang ia temui tadi. Clara masih memikirkan bahwa itu adalah Anastasya tidak mungkin orang lain. Lita masih saja terus menyakinkan Clara bahwa itu bukan Anastasya.
"Clara, apa kamu lupa, Anastasya memiliki tahi lalat di wajahnya, sedangkan wanita tadi wajahnya mulus dan bersih, wanita itu juga terlihat cetus sedangkan Anastasya adalah wanita yang ceria."
"Tapi Lita aku sangat yakin dia Anastasya."
Lita menjauh dari Clara, "Lalu jika dia adalah Anastasya kamu mau apa? Kamu sudah melakukan banyak kesalahan padanya, apa kamu pikir dia akan memaafkan kamu?"
Clara melihat ke arah Lita yang kesal, dengan sedikit membentak Clara berkata, "Setidaknya aku harus mencobanya Lita, aku akan meminta maaf padanya dan membuat hubungan pertemanan yang baik lagi dengannya sebelum semua hal yang tidak-tidak terjadi pada kami."
Mendengar Clara berkata seperti itu, Lita bergumam sebelum ia pergi, "Walaupun Anastasya memaafkan kamu, aku yakin dia tidak akan berhubungan baik denganmu lagi."
Clara hanya diam saja mendengar Lita bergumam dan melihat Lita keluar dari rumah. Setelah Lita keluar, Clara segera membuka smartphone-nya dan mencari nomor Nur temannya yang juga teman Anastasya dulu dan segera menghubunginya.
Nur (V.O)
"Ada apa Clara?"
Clara
"Mbak, Mbak ingat Anastasya?"
Nur
"Iya lah, Mbak ingat, dia kan teman Mbak juga, kenapa memangnya Ra?"
Clara
"Mbak tahu enggak dia dimana sekarang?"
Nur diam sejenak sebelum menjawab.
"Kamu enggak tahu Ra, Anastasya kabur dari rumah, aku tahu itu dari atasan ku dulu yang rumahnya tidak jauh dari rumah Anastasya. Dan sampai sekarang Anastasya belum pernah pulang ke rumah."
Clara
"Ooh, jadi begitu ya Mbak."
Nur
"Kenapa memangnya Ra? Atau jangan-jangan kamu ketemu sama dia?"
Clara
"Enggak Mbak, cuma tiba-tiba teringat … kalau begitu udah dulu ya Mbak, Clara mau lanjut beres-beres."
Panggilan telepon terputus.
Clara menatap smartphone-nya seraya memutar-mutarnya, "Aku sekarang menjadi yakin bahwa dia adalah Anastasya," batinnya.
Bersambung…
JYRONENapangiti ako habang nakatingin kina Anessa at Bart na karga-karga ang kambal. Ang saya-saya nilang isinasayaw ang mga bata. ’Yong tawa nila, abot hanggang mata. Kita mo agad na totoo ang kasiyahan nila.At masaya akong naging bahagi ng lahat… Naging saksi sa malungkot at masayang yugto ng buhay nila, at masaya rin akong naging ninong ng kambal.Binyag ng mga bata kanina, kaya heto, nandito kami sa mansyon nila Bart. Nagtipon-tipon ulit kami matapos ang anim na buwan.Ang laki na ng mga bata. Parang kailan lang, ang liit-liit pa nila. Ngayon, ang bibibo na. Mas malakas pa ang tawa nila kaysa tugtog mula sa speaker.“Jyrone…”Napalingon ako nang marinig ang boses na ’yon. Boses ni Ferly.Isa rin siya sa mga ninang. Dahil siya ang OB ni Anessa, naging close na rin sila sa isa’t isa.“Anong ginagawa mo rito?” tanong niya habang nakatanaw din kina Bart at Anessa.“Nagpapahangin lang… in-enjoy ang magandang tanawin.”Ngumiti siya at sumandal sa railing katabi ko. “Magandang tanawin…
BARTNanginginig ang mga kamay at tuhod ko habang nakatayo sa harap ng malaking pinto. Hindi ko alam kung ilang beses ko nang nabigkas ang salitang “Diyos ko, gabayan mo ang asawa ko. Sana ligtas sila…”Ito na kasi ‘yon, ang araw na pinakahihintay namin—ang araw ng panganganak niya.Kanina pa siya sa loob. Kanina pa ako naghihintay na makarinig ng iyak. Pero dalawang oras na ang lumipas, wala pa rin akong naririnig.“Bart… umupo ka nga muna…” sabi ni Mama Bettina. Katabi niya si Mama Anelita na katulad ko ay tahimik ding nagdadasal.Rinig na rinig ko ang sinabi niya, pero parang lutang ako na hindi ‘yon maintindihan. Puro si Anessa at ang kambal ang laman ng utak ko.“Relax ka lang, Bart,” sabi na naman ni Mama Bettina. “Paano po ako mag-relax, dalawang oras na…” Nahagod ko ang buhok ko. “Kakayanin ni Anessa… malakas at matapang ang anak ko,” sabi ni Mama Anelita.Tama… malakas at matapang si Anessa. Pero kahit na, hindi ko pa rin maiwasan na mag-alala. I did my research, alam kong m
ANESSA“Good morning, Mrs. Divinagracia…” Napangiti ako nang marinig ang boses ni Bart. Medyo paos, pero malambing. Ramdam ko ang braso niya sa dibdib ko, mabigat pero ang sarap sa pakiramdam. Ito kasi ang unang araw na magising ako bilang Mrs. Divinagracia, hindi lang sa pangalan, kundi sa puso niya.“Good morning, Mr. Divinagracia,” bulong ko pabalik at humarap sa kanya.Medyo antok pa ako kanina, pero ngayong nakita ko na ang gwapo niyang mukha—gising na gising na ako. Ngumiti siya, kumislap rin ang mga mata gaya ko.“Binuhat mo na naman ako kagabi?” tanong ko habang nililibot ang paningin sa buong silid.“Yeah… ang peaceful ng tulog mo, kaya hindi na kita ginising…” Dinampian niya ako ng mabilis na halik sa labi at saka umupo sa gilid ng kama, hinaplos ang tiyan ko. “Go back to sleep. Alam kong pagod ka… kasi ikaw ang nagmaneho kagabi…”“Bart!” Hinampas ko siya. Pero pilyong ngiti lang ang sagot niyang humihimas na sa hita.“Ang galing mong magmaneho… alam mo ba ’yon?”“Tumigil k
ANESSAKita ko sa gilid ng mga mata ko na lumapit na rin ang ibang mga bisita. Sumasayaw na rin sila, pero kami ni Bart, parang nalulunod pa rin sa sarili naming mundo.Ni saglit, hindi maalis ang tingin namin sa isa’t isa. Hindi rin maalis ang mga ngiti. ‘Yong para bang hindi kayang sukatin ang saya na pareho naming nararamdaman.Maya maya ay inilapit niya ang mukha niya sa tainga ko.“You look unreal tonight,” bulong niya, sakto sa pagdampi ng mainit niyang hininga sa pisngi ko.“Are you saying I don’t look real on normal days?” pilya kong tanong.Tumawa siya. “I’m saying, you don’t look like you belong to this world.”“Gano’n? Eh, saan ako belong?”“With me… in my world… in my heart, my love…”Napaangat ako ng ulo. Pakilig ‘tong asawa ko… Nakagat ko tuloy ang labi ko. “Masyado ka nang cheesy… baka maihi ako…”“Ayos lang, maihi ka lang… kasi mamaya, sa honeymoon natin, hindi mo na magagawa ‘yan…”“Hoy, Bart!” gigil kong sita, sabay kurot ng palihim. “Wala nang ibang laman ‘yang utak
Agad akong pumagitna nang halos magtama na ang dibdib nina Bart at Jyrone. Mainit ang hangin sa pagitan nila—hindi dahil sa hininga nila, kundi dahil sa nag-aalab na ego. Hinawakan ko silang pareho sa dibdib at sabay itinulak palayo.“Talaga bang wala nang katahimikan ang buhay ko?” gigil kong bulon
Napalunok si Bart habang nakatitig sa akin. Saglit lang ang titig niya, saka agad na umiwas. Para bang natatakot siyang salubungin ang mga mata ko. Syempre, sa talim ng tingin ko, parang hinahalukay ko ang loob ng utak niya.“Oo nga pala, mayaman ka. Kayang-kaya mong gawin kahit ano. Maski ang i-sta
Umawang ang labi ni Anessa. Napatitig sa akin. Ang mga mata niya, klarong naghahanap ng kasagutan—ng matinong rason kung totoo ba ang lahat ng sinabi ko kanina.Huminga ako nang malalim. Sa ngayon, ‘yon lang muna ang kaya kong sabihin. Ang importante, maging aware sila sa nakaabang na panganib.“Bar
Napatitig ako sa pinto nang bigla itong bumukas.At para bang biglang uminit ang kwarto nang bumungad si Jyrone—mata niya ay nag-aapoy, nakatutok kay Bart na ni hindi ko namalayang nakayakap pala sa akin. Sira-ulo siya. Sinamatala niya ang pagiging lutang ko. Sa sobrang pag-aalala ko kay Mama, naka












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
Bewertungen
RezensionenMehr