Masukฉันมองชื่อตัวเองด้วยความดีใจ หลังจากผ่านการคัดเลือกเข้ามหาวิทยาลัยรอบ Portfolio หรือรอบแฟ้มสะสมผลงาน สาขาวิศวกรรมเครื่องกล มหาวิทยาลัยชื่อดังในย่านสนามบินสุวรรณภูมิ ฉันรู้ว่าภาพต้องติดที่เดียวกับฉันแน่นอน เพราะเกรดภาพดีกว่าฉันและเราสองคนตั้งใจเก็บสะสมผลงานตั้งแต่อยู่มัธยมปลาย “เราอยากรู้ว่าในเครื่องยนต์พวกนั้นมีอะไรบ้าง ถ้ามีโอกาสก็อยากซ่อมเครื่องบิน” คำพูดของ ‘ภาพวาด’ ในวัยสิบห้าปีครั้งนั้น ทำให้ฉันเลือกเดินตามความฝันของเขา ขอแค่มีเขาข้าง ๆ สำหรับฉันเรียนอะไรก็ได้ ฉันไม่เคยมีความฝัน ไม่รู้ว่าอยากทำอะไรในอนาคต
Lihat lebih banyak"Sayang, pelan-pelan. Ini pertama kali untukku.” Rose menggeliat saat Zumi mulai menggerakkan tubuhnya lebih cepat. “Sa-sakit sekali.”
Air mata mengalir di pipi Rose dan Zumi langsung mencium bibir Rose supaya dapat mengalihkan rasa sakit yang Rose rasakan, "Tahan, sebentar lagi. Ro-Rose, Sayangku, ti-tidak ... aku su-su-sudah di puncak.”
Terdengar desahan dan erangan dari pasangan penganti baru itu saat mereka sama-sama mencapai puncak.
Zumi menghentakkan senjatanya sehingga cairan hangat memenuhi rahim Rose.
Zumi baring di samping sang istri.
Mereka saling berpelukan.
Namun, momen bahagia itu tidak berlangsung lama ketika Zumi tiba-tiba berbisik di telinga Rose. "Sayang, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.”
"Apa sayang?” tanya Rose.
"Kamu tahu kan kalau aku sedang membangun bisnisku sendiri. Besok aku harus berangkat ke Sydney karena aku harus bertemu dengan investorku di sana," jawab Zumi.
"Berapa lama?" tanya Rose.
“Mungkin sekitar satu minggu. Maaf ya, aku tidak bisa mengajak kamu untuk ikut. Ini urusan sangat penting. Aku harus bertemu investor,” jawab Zumi, kemudian dia tampak murung sebelum mengatakan kalimat perpisahan terakhirnya. “Juga terapiku. Aku ingin kita segera punya anak.”
Rose terpaku. “Te-terapi?”
“Asthenozoospermia,” lirih Zumi. Nampak sekali urat sedih menyelimuti wajahnya. “Dulu, aku mengalami kecelakaan hebat waktu kecil. Orang tuaku meninggal saat kejadian itu dan aku dibesarkan oleh Papa, seorang diri. Karena kejadian itu, aku divonis mandul dan hanya bisa disembuhkan melalui terapi. Aku baru mengetahuinya sebelum kita menikah.”
“Jangan katakan–”
“Arthur adalah papa angkatku. Sejak umur delapan tahun, aku diasuh Papa. Dia membiayai sekolahku, sampai aku lulus kuliah. Aku ingin balas budi. Aku tidak bisa terus berada di bawah bayang-bayang harta Papa. Aku harus segera membangun bisnisku sendiri.”
“Kenapa harus secepat ini?” Rose menangis sejadi-jadinya.
Bayangkan saja, baru kemarin mereka menikah.
Hari pertama, Rose dan Zumi sibuk menjamu tamu undangan dan tidak sempat bermesraan seperti ini.
Hari kedua yang diimpikan Rose akan menjadi hari terindah sepanjang hidupnya, malah menjadi petaka.
Satu minggu.
Itu waktu yang lama untuk pengantin yang baru dua hari menikah.
Terlebih setelah Rose mengetahui fakta bahwa Zumi adalah anak angkat Arthur.
Air mata menetes dari pipi gadis itu, menyapu wajah bahagianya yang baru saja merasakan puncak kenikmatan.
"Aku tahu kamu pasti sedih karena kita akan berpisah untuk sementara waktu tapi aku janji akan terus menghubungi kamu selama aku di sana. Sebenarnya aku juga tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh tapi ini demi masa depan kita juga sayang," ucap Zumi.
Seminggu pertama, Rose sering mendapat kabar dari Zumi.
Hampir setiap malam mereka video call untuk sekedar memecah kerinduan.
Masuk bulan kedua, Zumi mulai sering menghilang.
Setiap hari, Rose coba menghubungi Zumi, tapi tidak ada jawaban.
Psikologi Rose mulai terguncang. Dia sering melampiaskan emosi dan kekhawatirannya pada hal tidak wajar.
Hasratnya.
Memang, Zumi memberi kabar setiap satu minggu sekali dan itu hanya bertahan sampai bulan ketiga.
Bulan keempat hingga sekarang, Zumi tidak pernah mengangkat panggilan dari Rose.
Bahkan, sekedar meninggalkan pesan saja, tidak pernah.
Semua sosial media Zumi menghilang.
Rose semakin tersiksa.
Dia terus terbayang malam pertama itu, serta pengakuan Zumi yang membuatnya sakit hati.
Sambil mengumpat, Rose terus menghardik Zumi sebagai laki-laki tak tahu diuntung.
Enam bulan ini dia semakin gila.
Hanya satu yang bisa membuatnya tenang, yaitu membayangkan kenangan indah malam pertamanya dengan Zumi.
“Sayang ahh. Tolong sayang, aku sudah tidak kuat.”
Tangan Rose menyentuh puncak gunung kembar dan lembah segitiga bermuda miliknya.
Hanya itu yang bisa dia lakukan di saat hasrat ingin di sentuh itu hadir.
Masih teringat jelas bagaimana dia dan sang suami melewati malam panas di malam pengantin mereka enam bulan yang lalu.
Rose terus melakukan itu.
Dia tersiksa dengan kerinduan sentuhan sang suami.
Ini bukan pertama kali dia memuaskan diri sendiri.
Bahkan diam-diam Rose membeli alat yang bisa memenuhi hasratnya.
Desahan Rose terus memenuhi kamarnya.
Tanpa Rose sadari, seorang laki-laki mendengar desahannya dari balik pintu.
Ya, laki-laki itu adalah Arthur Bramasta, papa mertuanya.
“Sayang, kapan kau pulang? Kau tidak merindukan milikku yang sintal ini? Kemari, Sayang, hisap. Ini bagian yang paling kau suka. Cepat hisap aku, cepat masukkan milikmu. Zumi, Sayang, ahh, cepat keluarkan!”
Suara erangan itu sangat keras hingga terdengar ke ruang makan.
Arthur yang waktu itu hanya ingin mengantar makan malam untuk Rose, terjebak dalam belenggu hasrat milik menantunya sendiri.
Klak!
Siku Arthur tidak sengaja menekan gagang pintu.
“Siapa di sana?” Rose mengambil selimut dan melilitkannya.
Jantung Rose berdegup kencang, pandangannya langsung mengarah ke arah pintu kamar.
Rose langsung turun dari ranjang sambil memegang selimut yang menutupi tubuhnya.
Rose berjalan ke arah pintu kamar.
Ia buka pintu kamarnya dan ternyata di luar tidak ada siapa-siapa.
Hanya terdengar bunyi detik jam dinding yang memecah keheningan lantai dua.
“Apa hanya perasaanku saja?” gumam Rose sambil kembali masuk ke dalam kamar.
Rose kembali naik ke ranjangnya karena dia belum sampai pelepasan saat dia melakukan hal itu sendiri.
Memuaskan dirinya sendiri.
Hatinya masih terasa tidak tenang walaupun saat di luar tadi tidak ada siapa-siapa.
Rose sangat yakin mendengar bunyi pintu terbuka.
Di rumah ini hanya ada dirinya, Arthur dan Bi Arum.
Seingatnya tadi, Bi Arum pamit keluar karena ingin pergi membeli sesuatu di supermarket.
Sementara itu, Arthur keluar dari persembunyiannya.
Ya, ia langsung bersembunyi saat tanpa sengaja menekan ganggang pintu kamar Rose.
Arthur tidak ingin Rose tahu jika ia mendengar desahan Rose.
Masih terngiang di telinganya bagaimana desahan dan erangan Rose tadi.
Suara itu membuat dadanya bergetar, membangkitkan sesuatu yang sudah lama terkubur. “Shit!” Arthur langsung menghela napas saat melihat ke bawah, pada benda purbakalanya.
Arthur sudah menduda sejak tujuh tahun yang lalu karena mendiang istrinya meninggal karena kanker hati.
Sejak itu Arthur masih memilih tidak menikah lagi.
Bahkan selama menduda, Arthur tidak pernah main perempuan atau melampiaskan hasratnya dengan wanita di luar sana.
Ia lebih memilih untuk bermain solo karier di kamar mandi.
***
“Papa mana ya, Bi?” tanya Rose karena belum melihat Arthur turun ke bawah.
“Tuan kalau lama turun ke bawah pasti sedang berada di ruang gym yang ada di lantai tiga, Non.” Bi Arum memberikan sepotong roti selai kacang dan segelas susu kepada Rose. “Tadi Tuan Arthur minta dimasakin roti. Dia bilang, biar menantunya mau makan karena dia sangat suka roti selai kacang.”
“Papa?”
Bi Arum tersenyum lebar. “Selama ini, Tuan Arthur yang menentukan menu yang harus Bibi masak.”
“Jadi, selama ini Papa memperhatikan semuanya.” Rupanya Rose mulai nyaman dengan perhatian kecil yang diberikan Arthur.
Sedih dan emosinya perlahan hilang, berganti dengan rasa penasaran tentang sifat asli Arthur seperti apa.
Hampir setiap pagi Arthur berada di ruang gymnya.
Walaupun usianya sudah mencapai empat puluh enam tahun, badannya masih tegap dan gagah.
Arthur masih terlihat seperti laki-laki berumur awal tiga puluhan.
Begitu tiba di lantai tiga, Rose langsung menuju ruangan gym.
Rose terpana melihat Arthur yang sedang melakukan latihan beban.
Keringat yang membasahi tubuh Arthur membuat tubuh Arthur terlihat seksi.
Rose menelan ludah dengan berat.
Tiba-tiba saja badannya terasa panas saat melihat tubuh Arthur.
“Rose” ucap Arthur.
Rose tetap diam karena dia masih terpesona dengan Arthur.
Arthur berjalan mendekati Rose dan berbisik di telinga Rose.
“Rose.”
Rose langsung tersadar dan wajahnya memerah karena menahan malu ketahuan memuja tubuh papa mertuanya.
“Papa, sarapannya sudah siap,” ucap Rose.
Dia ingin meninggalkan gym itu karena Arthur benar-benar memperlihatkan otot-ototnya yang atletis.
Rose takut, hasratnya membuncah.
“Rose!” Arthur menarik tangan kiri Rose. “Malam ini kamu temani aku, ya…”
เด็กหญิงวาดวิวเป็นเหมือนศูนย์รวมจิตใจและความสุขของครอบครัวทั้งสอง การมาเกิดของคนคนหนึ่งช่างมีผลกับความสุขของคนหลายคน “ทวดจ๋ามาถ่ายรูปกันเร็ว” วาดวิวโตมากับผู้สูงวัยเธอจึงเป็นเด็กน่ารักและเข้ากับคนง่าย ไม่แปลกเลยที่ใครจะรักจะหลงลูกสาวของพวกเขา ภาพครอบครัวของผู้ใหญ่บ้านกับครอบครัวของรองผู้ใหญ่แทบล้นเฟรมกล้อง ทุกคนต่างยิ้มและหัวเราะอย่างชอบใจ “วาดเราให้” แต่ภาพของเด็กชายตัวอ้วนกำลังมอบช่อตุ๊กตาหมีให้วาดวิวทำให้ภาพวาดถึงกับหุบยิ้มในทันที แต่เขาก็ถามลูกสาวด้วยเสียงที่พยายามทำให้ธรรมดาที่สุด “ใครเหรอลูก” “นี่ นนท์ค่ะ แฟนวาดเองค่ะพ่อ” คำบอกเล่าของเด็กหญิงทำคนฟังหน้าตึง ให้มันได้อย่างนี้สิ ลูกเขาเพิ่งจะจบอนุบาลแต่กลับมีแฟนเสียแล้ว อาการของผู้เป็นสามีอยู่ในสายตาของภาพวิวมาโดยตลอดหลายวัน ภาพวิวไล่ดูบัญชีรายรับรายจ่ายของอู่ซ่อมรถการเกษตรที่ตอนนี้เปิดให้บริการมาเกือบสามปี ความรู้ที่เรียนมาไม่เสียเปล่าอย่างน้อยก็ได้มาช่วยพ่อและสามี ก่อนหน้านี้กว่าพ่อผู้ใหญ่จะได้ซ่อมเครื่องยนต์สักครั้งต้องรอจากอู่ใหญ่ในตัวจังหวัดเพราะไม่มีใครซ่อมและเข้
“ใช่จ้า” “แล้วตอนนี้ผีโพงไปไหนหมดแล้วจ๊ะ” เด็กหญิงวัยห้าขวบถามอย่างอยากรู้ แต่ถามว่าเธออยากเจอไหม ไม่อยากเจอหรอกแต่ก็อยากรู้ “ผีโพงเป็นผีที่กลัวคน กลัวแสงไฟเดี๋ยวนี้ไม่ค่อยมีแล้วมั้ง ผีไม่น่ากลัวเท่าคนหรอกทุกวันนี้” ผู้เป็นทวดบ่น “เหรอ” เด็กหญิงตัวน้อยฟังยายทวดแล้วก็งุนงง ไม่ค่อยเข้าใจมากนัก คนน่ากลัวกว่าผีแล้วเหรอทุกวันนี้ “คนสวยของพ่ออยู่ไหน” เสียงเรียกลูกสาวทำให้คนนอนดูหน้าจอใหญ่เด้งตัวลุกวิ่งไปหาผู้เป็นพ่อทันที “พ่อจ๋า” เด็กหญิงตัวเล็กกระโดดกอดพ่ออย่างคิดถึง ภาพนั้นทำให้คนมองอย่างภาพวิวถึงกับต้องสั่นศีรษะกับความเวอร์ของสองพ่อลูกคู่นี้ เพิ่งห่างกันยังไม่ทันข้ามวันคิดถึงอะไรกันขนาดนั้น “กินข้าวยัง” “ยังจ้า รอพ่อ” “เหรอ เดี๋ยวไปกินที่ร้าน อยากกินอะไร” “เก็ตตี้แดง” เก็ตตี้แดงที่เด็กหญิงวัยห้าขวบหมายถึงคือสปาเกตตีซอสมะเขือเทศซึ่งเป็นเมนูที่วาดวิวชื่นชอบ “อุลไปด้วยกันครับ” ภาพวิวหันไปเรียกอุลลูกพี่ลูกน้องของภาพวาด เด็กชายอุลในวันวานบัดนี้โตขึ้นแทบจะเป็นหนุ่มเต็มตัวแล้ว พุงย้อย ๆ ในวันวานหายไปหมดแล้ว ยิ่งโ
“วิวร้องไห้ทำไม” ผมตกใจเมื่อกลับมาจากประชุมหมู่บ้านในตอนเย็นมาถึงบ้านเวลาสองทุ่มเห็นเมียนั่งร้องไห้ อยู่ตรงระเบียงดูดาว “เจ้ทราย ฮึก เจ้ทราย” “เจ้ทรายทำอะไร” ผมใจคอไม่ดี ไม่ใช่ทะเลาะกันอีกเหรอเนี่ย “เจ้ทรายไม่ให้กินลิ้นจี่ ฮือ เราอยากกิน ลูกก็อยากกิน เจ้ทรายให้เรากินนิดเดียว” คนท้องที่ตอนนี้ท้องโตขึ้นมากกว่าเดือนก่อน และสิ่งที่โตตามท้องคือการเอาแต่ใจ ทั้งยังอารมณ์ขึ้น ๆ ลง ๆ วัน ๆ ร้อยเรื่องราว “เจ้ไม่ให้กินเลยเหรอ” ผมถามเพื่อย้ำอีกครั้ง เจ้ทรายไม่น่าจะงกถึงขั้นไม่ให้กินสักลูกนะ เพราะลิ้นจี่ตอนนี้ก็มีเยอะมาก เจ้แกก็ไม่น่าหวง “ให้กิน แต่ไม่อิ่ม” นั่นไงว่าแล้ว “กินไปแค่ไหนทำไมไม่อิ่ม” ผมถามอย่างใจเย็นก็เข้าใจว่าเธอท้อง ข้าวเธอก็ไม่ชอบกิน อาศัยกินพวกผลไม้นี่แหละ แต่ผลไม้ก็น้ำตาลสูงไม่ต่างกัน ผมไม่อยากให้เมียเป็นเบาหวานจึงสั่งเจ้ทรายไว้ว่าให้จับตาการกินของวิวให้หน่อย อะไรห้ามได้ก็ห้าม ถามว่าทำไมผมต้องสั่งเจ้ทราย อ้าว ผมห้ามเมีย ได้ที่ไหนกันเล่า แค่วิวทำตาละห้อยพร้อมกับน้ำตาที่ไหลไม่หยุดและบอกว่า “ลูกอยากกิน ไม่ใช่เรา
“คนสวยทำไมทำหน้าอย่างนั้นละ” ผมถามคนสวยที่ใบหน้างอหงิก เมื่อเห็นผลตรวจของตัวเอง “เราท้อง เรายังไม่อยากท้อง” มันเกิดความผิดพลาดครับ เพราะเราสองคนไม่ได้ป้องกันอย่างอื่นเลยนอกจากคิดว่าวิวฝังยาคุม แต่เพราะเราสองคนลืมคิดไปว่ายาคุมแบบฝังออกฤทธิ์ได้ห้าปีเท่านั้น แล้วหลังจากแต่งงานมันก็เกินมาแล้วตั้งหลายเดือน เมื่อไม่กี่วันก่อนวิวก็เวียนหัวมากสุดท้ายพอตรวจแล้วก็เป็นอย่างที่เห็นนั่นแหละครับ สองขีดแบบชัดเจนไม่ต้องให้กังขากันอีก “ที่ตรวจห้าอันสองขีดหมดเลย ไม่ท้องก็ต้องท้องแล้วละวิว” ภาพดึงคนตัวเล็กเข้ามากอด แต่งงานก็แต่งแล้วจะท้องก็ไม่เป็นไรหรอก “แต่เรายังเด็ก” เธอว่า ทั้งยังบ่นอุบอิบต่อ “เด็กตรงไหนกัน อายุเท่านี้แหละจะได้มีลูกทันใช้ไงครับ” ผมปลอบคนที่ยังไม่พร้อมจะมีลูก “เรายังมีอะไรที่ต้องทำอีกเยอะเลยอะ” วิวบ่นสิ่งที่เธออยากทำ มีอีกหลายอย่างที่เธออยากทำและกลัวว่าจะไม่มีเวลาให้ลูกและงาน “ลูกเป็นของขวัญของเรา อย่าคิดอย่างนั้นเลย อีกอย่างยายกับย่าคงอยากเห็นหน้าเหลนแล้ว คนช่วยเลี้ยงเยอะแยะ อย่าเครียดเลยนะครับที่รัก” ผมซุกหน้ากับกลุ่มผมหนานุ่มข
พิธีการต่าง ๆ ที่วัดเสร็จสิ้นประมาณแปดโมงเช้า ฉันกับภาพต้องรีบกลับบ้านเพราะเรามีพิธีการที่ต้องทำหน้าที่กันอีก เรียกได้ว่าวันนี้พวกเราคงต้องเหนื่อยไปอีกเกือบครึ่งวันหรือทั้งวันนั่นแหละ ดีที่ว่าโฮมสเตย์มีเจ้ทรายกับเต้ช่วยงาน เพราะวันนี้ภาพบอกว่าต้องพาฉันไปรดน้ำดำหัวญาติผู้ใหญ่ รดน้ำ
“ได้ ๆ ตกลงช่องแกชื่ออะไรวิว” “ภาพวิวเล่าเรื่อง” “เออ ง่ายดีใช้ชื่อตัวเอง คิดบ้างก็ได้นะเพื่อน” “เจ้าของช่อง ‘จินนี่และพู่กัน’ แบบมึงไม่น่าจะว่าใครได้นะ” ตัวเองก็ใช้ชื่อตัวเองกับผัว ยังจะมาว่าคนอื่นอีก “เออว่ะ กูลืม” นั่นไง “ชื่อกูเพราะตั้งเป็นอะไรก็เพราะหมด
“วิว!!!” “ทำงานได้เงินเดือนเท่าไหร่เหรอ” ฉันดันนามบัตรใบนั้นไว้ตรงหน้าคนที่เป็นเจ้าของบัตร มาร์คไม่ตอบคำถามฉัน ทำไมฉันจะไม่รู้เงินเดือนระดับพนักงานจบใหม่ ฉันเองก็เคยไปสัมภาษณ์งานมาแล้ว แต่ฉันไม่เคยคิดจะเปรียบเทียบหรือดูถูกใคร แต่วันนี้อีวิว อยากจะทำในสิ่งที่ไม่น่ารักดูบ้าง ทำไมเราต้
ผมก้มมองลูกชายของตัวเอง สมองสั่งว่าให้อดทนไปก่อน แต่ไอ้หัวใจกับไอ้หัว…นี่สิ มันสั่งตรงข้ามตลอด จะให้ปี้ก่อนอย่างอื่นค่อยว่ากันลูกเดียว ไอ้พวกไม่มีหัวคิด ผมได้แต่ใช้หัวสมองด่าพวกมันสองหัว ทั้งหัวใจและหัว… แต่มันสองหัว มีเหรอสมองหัวเดียวจะสู้มันได้ “ภาพเหรอ” วิววางมือเ





