สวามีของข้าได้โปรดเขียนใบหย่าให้ชายาเถิดนะ

สวามีของข้าได้โปรดเขียนใบหย่าให้ชายาเถิดนะ

last updateLast Updated : 2025-12-03
Language: Thai
goodnovel18goodnovel
10
4 ratings. 4 reviews
83Chapters
8.5Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

แรกพบหน้าบุรุษผู้นั้นชิงชังไม่เคยยอมรับนางเป็นภรรยาของเขาแต่เมื่อนางเรียกร้องใบหย่าเหตุใดจึงยากนักที่จะยอมเขียนให้ ไม่เคยรักกันก็เพียงปล่อยนางไปต่างคนต่างเริ่มต้นชีวิตใหม่เหตุใดเขาจึงไม่เข้าใจเล่า?!

View More

Chapter 1

บทนำ

"Aku tidak meminta izinmu, Gisel. Aku hanya memberi tahu."

Kalimat itu menghancurkan sisa-sisa harapan yang masih dipertahankan Gisella.

---

Di luar, hujan turun dengan deras sejak sore. Rintik air terus membasahi jendela mansion, sementara suasana di dalam rumah justru terasa begitu sunyi.

Di salah satu sudut rumah, terdapat kamar bayi yang telah dipersiapkan dengan penuh harapan selama beberapa bulan terakhir. Baju-baju bayi masih tertata rapi di dalam lemari. Sebuah ranjang bayi berwarna putih berdiri di dekat jendela, lengkap dengan mainan gantung yang belum pernah digunakan.

Gisella Pramudita, wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu, duduk bersimpuh di atas karpet. Tubuhnya tampak semakin kurus, sementara wajahnya pucat dengan mata yang bengkak akibat terlalu sering menangis.

Dua minggu lalu, Gisel kehilangan segalanya. Bayi yang dikandungnya selama hampir sembilan bulan pergi, bahkan sebelum mereka sempat bertemu. Dan demi menyelamatkan nyawanya, dokter terpaksa mengangkat rahimnya karena pendarahan yang tidak bisa dihentikan.

Gisel tidak hanya kehilangan bayinya, tetapi juga kesempatan untuk menjadi seorang ibu selamanya.

Selama dua minggu terakhir, ia melewati semua itu seorang diri. Arash nyaris tidak pernah berada di sisinya. Malam ini pun sama, Gisel kembali duduk di kamar bayi yang belum sempat dihuni, memeluk selimut kecil sambil menahan isak tangis yang tak kunjung reda.

"Maafkan mama, Nak... Maafkan mama..." bisik Gisel dengan suara seraknya.

Mendengar suara langkah kaki, Gisel mendongak. Di ambang pintu, berdirilah Arash Danendra. Pria berusia 30 tahun itu masih mengenakan setelan jas kantornya. Wajahnya yang tampan menatap istrinya dengan datar, tanpa sedikit pun rasa iba.

Gisel mengusap air matanya dengan pelan. "Mas Arash... kamu baru pulang? Anak kita sudah tidak ada, Mas... Kenapa kamu tega meninggalkan aku melewati semua ini sendirian?"

Arash berdiri di ambang pintu, wajahnya tetap dingin. "Aku datang untuk membicarakan sesuatu. Aku sudah menunda keputusan ini cukup lama."

Ia merogoh saku jas, mengeluarkan sebuah amplop, lalu meletakkannya di atas meja.

Sejenak, Arash menatap mata Gisel yang sayu, seolah menimbang kata-kata berikutnya.

"Aku akan menikah dengan Laras," ucapnya akhirnya, suaranya tenang namun menusuk.

"A-apa...?" bisik Gisel, menggelengkan kepalanya perlahan. "Kamu... mau menikah dengan Laras?"

"Ya," jawab Arash singkat.

"Mas! Aku baru aja kehilangan anak kita. Aku kehilangan rahimku, aku gak bisa punya anak lagi. Aku kehilangan semuanya dan sekarang..." suaranya nyaris tak terdengar. "Kamu juga mau ninggalin aku?"

"Di saat aku hancur seperti ini, kamu bilang mau menikah dengan wanita lain?! Aku gak setuju mas! Aku gak mau dimadu!" teriak Gisel, suaranya pecah oleh emosi yang membuncah.

"Aku tidak meminta izinmu, Gisel. Aku hanya memberi tahu," ulang Arash, suaranya naik satu oktav, terdengar tegas dan tidak bisa diganggu gugat.

Arash menatapnya dengan tatapan dingin. "Pernikahan kita sejak awal adalah sebuah kesalahan, Gisel. Kamu sendiri yang memaksaku masuk ke dalam ikatan pernikahan ini. Selama lima tahun, aku sudah menuruti kemauanmu."

Gisel mencengkeram kain selimut di tangannya dengan kuat. Selama lima tahun ini, dia selalu mengejar cinta Arash dan berharap hati pria itu bisa melunak dengan berjalannya waktum. Namun ternyata, semua sia-sia.

"Sekarang anak itu sudah tidak ada," lanjut Arash tanpa perasaan. "Tidak ada lagi alasan bagiku untuk bertahan di sini. Aku ingin memberikan Laras posisi yang seharusnya. Aku ingin menikahinya secara sah. Dan setelah ini, aku akan menceraikanmu."

Dunia Gisel serasa runtuh sepenuhnya. "Menceraikanku...? Jadi selama ini, kamu sama sekali gak pernah menganggapku sedikitpun, apa aku gak sepantas itu mas? Aku tulus cinta sama kamu! Aku berjuang sendirian selama ini untuk buat kamu bisa menerima aku, bahkan saat kamu gak peduli sama sekali aku gak pernah menyerah. Saat aku butuh, kamu gak pernah ada selalu aja Laras yang kamu utama in, sedangkan aku.. berkali-kali aku cemburu sampai rasanya mati rasa mas! Tapi kamu... kamu sama sekali gak punya hati!"

"Aku tidak pernah meminta mu untuk mencintaiku, Gisel!" balas Arash tegas.

"Kamu... kamu benar-benar kejam, Mas," bisik Gisel dengan bibir yang bergetar hebat. "Lalu bagaimana denganku?! Bagaimana dengan perasaanku, Arash?! Aku ini istrimu!" teriak Gisel, suaranya serak karena tangisan.

"Kamu yang memulai semua ini, jadi jangan menyalahkan ku jika aku yang mengakhirinya. Aku lelah berpura-pura." jawab Arash dengan dingin. Pria itu kemudian membalikkan badannya, berniat untuk pergi dari kamar karena menganggap pembicaraan mereka sudah selesai.

Rasa marah, kecewa, dan sakit bercampur menjadi satu di dalam dada Gisel. Napasnya memburu, sementara air mata terus mengalir tanpa henti. Dia tidak bisa membiarkan pria ini pergi begitu saja setelah menghancurkan sisa-sisa hidupnya. Dengan tubuh yang masih lemah, Gisel segera bangkit dari lantai.

"Jangan pergi, Arash! Kita belum selesai bicara!" teriak Gisel sambil bergegas mengejar Arash yang sudah lebih dulu keluar dari kamar.

Baru beberapa langkah keluar, tubuh Gisel yang belum pulih sepenuhnya kehilangan keseimbangan. Kakinya tersangkut ujung gaunnya sendiri.

"Ah!"

Gisel terpeleset di anak tangga paling atas. Tangannya refleks meraih pegangan tangga, tetapi genggamannya meleset.

Tubuhnya berguling menuruni belasan anak tangga marmer sebelum akhirnya terhempas di lantai dasar.

Brak!

Gisel tergeletak tak bergerak di atas lantai marmer yang dingin. Darah mengalir pelan dari belakang kepalanya, membentuk genangan merah di sekitarnya.

Arash tertegun dan langsung berbalik mendapati istrinya sudah bersimbah darah di lantai. Arash bergegas mendekati dan berlutut di samping tubuh Gisel.

"Gisel! Buka matamu!" panggil Arash panik tetapi tidak ada jawaban dari Gisel. Dia mengangkat sedikit bahu Gisel, lalu Arash menoleh ke arah belakang rumah dan berteriak sekuat mungkin. "Pelayan! Cepat panggil ambulans!"

Gisel menatap Arash yang kini berlutut di sampingnya. Wajah pria itu tampak panik, bibirnya terus memanggil namanya.

Ironis sekali.

Setelah lima tahun menunggu perhatian itu, justru baru ia dapatkan ketika semuanya sudah terlambat.

Pandangannya mulai kabur. Suara Arash terdengar semakin jauh dan samar, seolah berasal dari tempat yang sangat jauh. Rasa sakit di tubuhnya perlahan menghilang, berganti dengan dingin yang menjalar hingga ke ujung jemarinya.

"Kenapa baru sekarang kamu memanggilku seperti itu, Arash?" batin Gisel lirih di tengah sisa-sisa kesadarannya.

Setetes air mata mengalir dari sudut matanya, bercampur dengan darah yang menggenang di lantai. Kelopak matanya terasa semakin berat. Sebelum kesadarannya benar-benar menghilang, di lubuk hatinya yang paling dalam menyisakan satu penyesalan terbesar karena telah menyerahkan hidupnya pada pria yang salah.

"Andai waktu bisa kuputar kembali... aku tidak akan pernah memilihmu, Arash... Aku tidak akan menghabiskan hidupku untuk mengejar.. Seseorang yang tidak pernah mencintaiku."

Dan setelah itu, semuanya berubah menjadi kegelapan yang abadi.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

reviews

Sirinkan Thapsomlorb
Sirinkan Thapsomlorb
เสียน้ำตาตอนท้ายเลยติดแค่ดำเนินเรื่อง งงๆ แต่โดยรวมก็ได้อยู่ ชอบค่ะไม่ยาวจนมีแต่น้ำ
2026-10-02 22:43:16
0
0
Jj Jj Ok
Jj Jj Ok
แรกๆเหมือนจะงงๆ ยิ่งอ่านยิ่งอยากรู้มากขึ้น ลุ้นตอนจบมากนึกว่าจะไม่แฮปปี้ซะล่ะ ขอบคุณคะ
2026-06-13 14:45:18
0
0
Daongok Namwann
Daongok Namwann
สนุกมากๆ สนุกที่สุกเรื่องนึงเลย ไม่ได้อ่านนิยายดีๆแบบนี้มานาน เรื่องนี้เกือบทำให้เสียน้ำตาอยู่นะ เรื่องดี จบดี อย่าพลาดเรื่องนี้นะคะ สนุกจริงๆ
2026-02-23 20:29:49
1
0
Wilaiporn Dangbuddee
Wilaiporn Dangbuddee
มาต่อให้จบนะคะ เรื่องนี้สนุก
2025-11-08 02:28:38
2
0
83 Chapters
บทที่1
บทที่ 1แม่นมจางผู้เคร่งครัดและดุดันที่หลายวันมานี้ถิงเฟยหวาดกลัวยิ่งนัก พลันกลับต้องพ่ายแพ้ถอยทัพกลับไปหาเฝิงกุ้ยเฟยผู้เป็นนายเพียงถูกซู่จิ้งอ๋องกล่าวเพียงสี่คำเพียงเท่านั้น บุรุษนามจ้าวเหลียงอี้ช่างน่ากลัวจริงๆ แต่ถึงจะหวาดกลัวเพียงใด เด็กสาวกลับยังยืนหยัดไม่ทิ้งผู้เป็นนายหญิงของนางไปที่ใด“เจ้าเองก็ออกไปด้านนอกก่อนสักครู่ เปิ่นหวางมี ‘ธุระ’ จะคุยกับพระชายาของเปิ่นหวางสักครู่เท่านั้น” แน่นอนว่าคราวนี้ถิงเฟยไม่รอให้จ้าวเหลียงอี้พูดซ้ำ นางเร่งออกไปทันทีเมื่อเขาจบประโยคเหล่านั้น เนื่องจากนางคิดว่าการออกไปจะเป็นผลดีกับผู้เป็นนายของตนเองมากกว่าที่นางจะดื้อดึงอยู่ต่อไปนั่นเอง ฝ่ายของหานซางจื่อนั้นทำเพียงนั่งเก็บมือและเท้าอย่างสงบ มิได้หวั่นไหวอันใดกับทุกฝีเท้าที่จ้าวเหลียงอี้สืบเข้ามาใกล้ตนเองเลยแม้แต่น้อย“พอดีว่าเมื่อครู่มู่สือเพิ่งมาแจ้งกับเปิ่นหวางว่า ม้าพันธุ์เหงื่อโลหิตของเปิ่นหวางมันเจ็บท้อง คาดว่าคงใกล้จะคลอดเต็มทน ดังนั้นราตรีนี้ห้องหอเจ้าก็ครอบครองไปแต่เพียงผู้เดียวเถิด เปิ่นหวางไม่สะดวกจะนอนเป็นเพื่อนเจ้าหรอกพระชายาหาน” ถึงจะเตรียมใจมาแล้วเป็นอย่างดี แต่หานซางจื่อก็มิคาดว่า ‘
Read more
บทที่2
บทที่ 2หานซางจื่อนั้นปล่อยใจให้นึกย้อนไปถึงเหตุการณ์เมื่อสามเดือนก่อนที่เปลี่ยนชะตาชีวิตของนางไปอย่างสิ้นเชิง จากที่เคยคิดว่าเมื่ออายุครบสิบเก้าหนาว หากนางยังไม่แต่งงานออกเรือนไปกับคุณชายสกุลใดก็จะสามารถออกไปทำการค้าเป็นของตนเองได้แล้วไม่จำเป็นต้องอาศัยและพึ่งพาบารมีของบิดาอีก แต่ใครจะคาดวันนั้นจะทำลายความฝันของนางไปจนสิ้นยากจะหวนคืนกลับมาได้อีกต่อไป“หากเจ้ารับปากแต่งงานกับซู่จิ้งอ๋อง เปิ่นกงรับรองว่าพี่ชายคนรองของเจ้าจะได้แยกจวน และมีตำแหน่งในกองทัพมั่นคง และไม่น้อยหน้าคุณชายใหญ่หานแน่นอน” วันนั้นนางถูกซ่งฮองเฮาผู้มีศักดิ์เป็น ‘เสด็จป้า’ เรียกตัวมาเข้าเฝ้าตั้งแต่ท้องฟ้าของ ‘มหานครจิ้งหยาง’ ยังไม่กระจ่าง แต่สาวน้อยไม่คิดเลยจริงๆ ว่าการเข้าเฝ้าในวันนั้นจะเป็นการบีบคั้นให้นางแต่งงานกับบุรุษที่มีสตรีอื่นในดวงใจอยู่แล้วจนได้แต่เหนือสิ่งอื่นใดก็คือข้อแลกเปลี่ยนอันเย้ายวนใจที่ซ่งฮองเฮาเสนอให้ขณะนั้นต่างหากที่ทำให้หานซางจื่อนั้นหนักใจ เด็กสาวอยากจะเห็นแก่ตัว อยากจะปฏิเสธออกไปใจแทบขาด แต่ความลำบากใจของผู้เป็นพี่ชายและมารดานั้นมันก็รบกวนจิตใจของสาวน้อยอยู่มากโขทีเดียว การเป็นคุณชายรองที่เก
Read more
บทที่ 3
บทที่ 3ซึ่งที่หานซางจื่อคาดเดานั้นไม่ผิดเลย นับตั้งแต่จ้าวเหลียงอี้ก้าวเท้าพ้นประตูห้องหอไปไม่ถึงหนึ่งเค่อเฝิงกุ้ยเฟยก็รับทราบทุกสิ่งจากคนของนางแล้ว ใบหน้าของสตรีวัยสี่สิบหกหนาวแย้มยิ้มสมใจยิ่งนักที่บุตรชายของตนช่างได้ดังใจไปทุกสิ่ง“หึ! พรุ่งนี้เถิด นังเด็กแซ่หานผู้นั้นมันจะต้องซาบซึ้งเชียวละว่า การที่มันคิดใฝ่สูงเป็นคางคกกลับคิดจะกินเนื้อหงส์นั้นผลตอบแทนมันจะเป็นอย่างไร!” เพราะแต่เดิมเฝิงกุ้ยเฟยนั้นหมายตาคุณหนูใหญ่ของสกุลถานที่มีพรรคพวกอยู่เกือบกึ่งหนึ่งในราชสำนักของเทียนสุ่ย ถึงสกุลถานขุนนางบู๊มีลูกหลานเป็นทหารและผู้นำตระกูลยังเป็นแม่ทัพใหญ่ แต่ผู้ใดไม่ทราบบ้างว่าอำนาจนั้นไม่น้อยไปกว่าทางฝ่ายสกุลซ่งของซ่งฮองเฮาเลย ซึ่งหากได้รวมกับฝ่ายสกุลเฝิงของนางก็ไม่แน่ว่ารากฐานอันมั่นคงขององค์ไท่จื่ออาจมีสั่นคลอน ทว่านางยังไม่ทันลงมือซ่งฮองเฮากลับชิงตัดหน้าขอสมรสพระราชทานให้แก่ไท่จื่อกับถานจีเซียงคุณหนูใหญ่ของสกุลถานไปเสียก่อนเพียงเท่านั้นก็แล้วไปเถิด นางยังมองคุณหนูรองของอัครมหาเสนาบดี ‘เว่ย’ เว่ยชิงกุ่ยมาทดแทนพอให้ได้ฝ่ายสนับสนุนให้บุตรชายของตนได้มีรากฐานมั่นคงอยู่ในราชสำนัก แต่ซ่งฮองเฮากล
Read more
บทที่ 4
บทที่ 4ในขณะที่หานซางจื่อเร่งฝีเท้าตรงไปยังตำหนักหนิงอู่ ซึ่งเป็นที่พักอาศัยในยามที่เฝิงกุ้ยเฟยมาอยู่ที่ตำหนักซู่จิ้งอ๋องอยู่นั้น หลินเปียวที่คอยสังเกตการณ์ตามคำสั่งของจ้าวเหลียงอี้ก็ตรงไปรายงานความคืบหน้าให้กับผู้เป็นนายของตนทราบทันที“เช่นนั้นเปิ่นหวางก็ต้องกลับไป ‘ช่วยเหลือ’ พระชายาหานสักหน่อยจึงเหมาะสมสินะ หาไม่ก็จะกลายเป็นสวามีผู้อำมหิตเกินไป ที่ปล่อยให้นางถูกเสด็จแม่รังแก”หลินเปียวและถงมู่สือต่างก็เหลือบสายตามองหน้ากัน แต่ก็ไม่ได้กล่าวอันใดออกไปแม้เพียงครึ่งคำ มีเพียงก้าวตามหลังของบุรุษวัยยี่สิบสามหนาวเช่นจ้าวเหลียงอี้ไปอย่างสงบเท่านั้น ทั้งหมดตรงไปยังตำหนักหนิงอู่โดยไม่รีบร้อนเท่าใดนัก เนื่องจากซู่จิ้งอ๋องของพวกตนไม่รีบ แล้วพวกเขาที่เป็นเพียงบ่าวรับใช้จะรีบร้อนไปไวตลอดเส้นทางที่หานซางจื่อเดินตามซูผิงไปยังตำหนักหนิงอู่ซึ่งอยู่คนละฝั่งกับตำหนักส่วนตัวของจ้าวเหลียงอี้อย่างสงบ แต่สองตาของนางก็แอบลอบสังเกตทุกคนภายในตำหนักไปด้วย หานซางจื่อเห็นทั้งเหล่านางกำนัลและขันที ที่เพียงแค่เห็นนางจากที่ไกลๆ หากหลบหลีกได้ก็รีบหลบในส่วนที่หลบไม่ทันก็ต่างก้มหน้าก้มตาเสแสร้งทำเป็นมองไม่เห็นกันอ
Read more
บทที่ 5
บทที่ 5แต่เจ้าขันทีเฒ่ามากราคะผู้นั้นเขาไปดื่มดีหมีเลือดพยัคฆ์มาหรือไรจึงบังอาจมองพระชายาของซู่จิ้งอ๋องราวกับจะจับนางกลืนกินลงท้องเช่นนั้น เห็นทีตาเฒ่าเหลิ่งคงไม่อยากหายใจแล้วเป็นแน่“เอ่อ…อะแฮ่ม!เป็นเฝิงกุ้ยเฟยที่มีรับสั่งเอาไว้ว่า ห้ามไม่ให้พระชายาหานก้าวเข้าไปภายในตำหนักแม้เพียงครึ่งก้าวพ่ะย่ะค่ะ”“!!?” ซูผิงนั้นบังเกิดความสงสัย แต่ไม่กล้าเปิดปากสอบถามออกไป“!!?”ถิงเฟยเองก็เช่นกัน สาวใช้ตัวน้อยล้วนไม่แจ้งแก่ใจว่า เฝิงกุ้ยเฟยนั้นต้องการอย่างไรกันแน่ ให้คนสนิทผู้หนึ่งไปเร่งให้คุณหนูสามของตนเองมาเข้าเฝ้าโดยเร่งด่วน แต่พอมาแล้วกลับให้คนสนิทอีกคนมาขวางเอาไว้ ทำเช่นนี้เด็กสาวไม่กระจ่างใจเลยสักเพียงนิดเดียวฝ่ายของหานซางจื่อกลับไม่แสดงกิริยาอาการใดออกไปสักนิด นอกจากยังคงยิ้มอ่อนเต็มใบหน้าเท่านั้น แต่ภายในใจของนางกลับรู้แจ้งไปแล้วทั้งหมดถึงจุดประสงค์ของผู้ได้ชื่อว่าเป็น ‘ท่านแม่สามี’“พระชายาหานจะไม่ถามหรือพ่ะย่ะค่ะว่า เหตุใดเฝิงกุ้ยเฟยจึงมีคำสั่งเช่นนี้”อดไม่ได้เหลิ่งกงกงจึงต้องถามออกไปเสียเอง หากแต่เด็กสาวตรงหน้าของขันทีเฒ่ากลับไร้กิริยากังขาแม้แต่น้อยดูไม่ออกสักนิดว่าหานซางจื่อนั้นคิ
Read more
บทที่ 6
บทที่ 6แล้วก็เป็นเช่นที่หานซางจื่อคาดการณ์เอาไว้ทั้งหมด เพราะยังไม่ทันขยับไปทางใด เสียงขันทีหวัง 'หวังเฉาชุ่น' ผู้ดูแลทั้งตำหนักซู่จิ้งอ๋องแห่งนี้ก็รีบร้อนวิ่งเข้ามากระซิบกระซาบกับจ้าวเหลียงอี้ว่า..."คนของซ่งฮองเฮาส่งข่าวออกไปแล้ว คนของเรามิอาจสกัดเอาไว้ได้ทันพ่ะย่ะค่ะ!"มือแกร่งของจ้าวเหลียงอี้พลันกำแน่น ฝ่ายหานซางจื่อนั้นยังคงปล่อยน้ำตาให้ไหลออกมา ทำเป็นไม่รู้ความอันใดทั้งสิ้นใบหน้างามดูบอบช้ำราวกับดอกสาลี่ถูกน้ำฝนจนเปียกปอน ยิ่งมองยิ่งไร้เดียงสาและน่าสงสาร แต่ซู่จิ้งอ๋องกลับกัดฟันจนบังเกิดเสียง เพื่อข่มอารมณ์พ่ายแพ้ของตนเองที่กำลังปะทุเดือดราวกับลาวาของภูเขาไฟอยู่ภายในอกเต็มกำลัง“พวกเจ้าสองคนพาพระชายาหานไปพักผ่อนเถิด”ผ่านไปครู่หนึ่งจึงควบคุมอารมณ์ของตนเองลงได้ เลยรีบออกปากคลี่คลายสถานการณ์ตรงหน้าลงไปก่อน แต่ดูเหมือนเฝิงกุ้ยเฟยจะไม่ทราบถึงความหวังดีของบุตรชายจึงบังเกิดอาการดวงตาแวววาวเต็มไปด้วยอารมณ์โกรธแค้นคิดไปว่าจ้าวเหลียงอี้นั้นเข้าข้างหานซางจื่อ เร่งตรงเข้ามากระชากแขนเรียวของเด็กสาวออกไปเสียจากอ้อมกอดของบุตรชาย จากนั้นก็ออกแรงผลักเต็มแรง เรือนร่างบอบบางจึงปลิวไปตามแรงผลักล้
Read more
บทที่ 7
บทที่ 7ทางด้านตำหนักซู่จิ้งอ๋องนั้นหลังจากหมอหลวงจากไปก็พอดีกับที่คนจากวังหลวงเร่งร้อนมารับตัวเฝิงกุ้ยเฟยกลับวังตามบัญชาของฮ่องเต้ จ้าวเหลียงอี้จึงต้องไปส่งมารดาของเขา ส่วนหานซางจื่อนั้นเพราะข้อมือบาดเจ็บจึงได้รับการยกเว้น ไม่ต้องออกไปส่งมารดาของสวามีตามกฎเกณฑ์ของราชวงศ์ นั่นจึงทำให้สาวน้อยค่อยหายใจหายคอโล่งไม่น้อยเนื่องจากสามชั่วยามที่ผ่านมาจ้าวเหลียงอี้จับตามองไม่ห่าง จะทำสิ่งใดก็ยากไปหมดนี่ก็เลยจากที่นางมีนัดสำคัญคาดว่าคนผู้นั้นคงร้อนใจไม่น้อยแล้ว หานซางจื่อเรียกหาเพียงถิงเฟยโดยอ้างกับซูผิงและหงเจี๋ยว่า ตนเองรู้สึกเหมือนจะมีไข้จึงอยากพักผ่อน ยามนี้เลยไปจนถึงกลางคืนอาจจะนอนหลับยาวห้ามรบกวน“หากมีเหตุฉุกเฉินก็แก้ไขไปตามสถานการณ์เช่นที่ข้าเคยสั่งสอนก็พอ”กำชับถิงเฟยที่ปลอมตัวเป็นนางเช่นทุกครั้งแล้วหานซางจื่อที่แต่งกายจนรัดกุมก็ซ่อนเร้นหลบหลีกเหล่าองครักษ์มากมายภายในตำหนักซู่จิ้งอ๋องออกไปตามนัดทันที กิริยาบอบบางราวกับดอกสาลี่เปียกฝนหายไปราวกับไม่เคยมีอยู่ข้อมือที่เคลื่อนถูกขยับไม่กี่ครั้งก็กลับมาใช้การได้ปกติแล้ว แต่ยุ่งยากอยู่บ้างกว่าจะออกจากตำหนักได้ก็ใกล้ค่ำพอดีนับว่าเลยเวลานัดหมา
Read more
บทที่ 8.1
บทที่ 8แต่ภาพบนเตียงกลับทำเอาจ้าวเหลียงอี้รู้สึกละอายใจขึ้นมาไม่น้อย ใบหน้างดงามของหานซางจื่อดูชอกช้ำเช่นดอกสาลี่ถูกลมฝนสาดซัดมาอย่างหนักจนบอบช้ำชวนใจหายอย่างยิ่ง เท้าแกร่งของจ้าวเหลียงอี้พลันหยุดนิ่งคล้ายดังว่าตัดสินใจไม่ถูกเลือกไม่ได้ว่าตนจะเข้าไปหรือถอยหลังกลับดี“ซู่จิ้งอ๋อง…”ร่างบอบบางค่อยๆ ขยับเท้าก้าวลงจากเตียงลงมาโค้งกายทำความเคารพผู้เป็นพระสวามีด้วยกิริยามารยาทงดงาม จนจ้าวเหลียงอี้ถึงกับวางสีหน้าไม่ถูกไปอีกครู่ใหญ่“ซางจื่อขอบพระทัยซู่จิ้งอ๋องยิ่งนักที่ดึกดื่นถึงเพียงนี้ยังมากน้ำใจมาเยี่ยมดูอาการด้วยตนเองเช่นนี้ ขอบพระทัยเพคะ”หญิงสาวกล่าววาจาที่กินความหมายลึกซึ้งที่หากฟังให้กระจ่างย่อมรู้แจ้งว่านางกำลังแดกดันบุรุษนามจ้าวเหลียงอี้ทุกคำแล้วจึงย่อกายคารวะอีกครั้ง ทุกท่วงท่านั้นอ่อนช้อย แต่ก็ดูพอดี ไม่ดูเสแสร้งจนเกินงาม ดังนั้นต่อให้เขาไม่ชื่นชอบสตรีตัวน้อยตรงหน้ามากเพียงใด จ้าวเหลียงอี้กลับอาละวาดฟาดอารมณ์ใส่นางไม่ลง ยิ่งสภาพของผู้เป็นพระชายาของตนยังดูย่ำแย่ ใบหน้าซีดเผือด แก้มมีรอยช้ำ มุมปากยังเห็นรอยแตก ข้อมือที่มีผ้าพันเอาไว้นั้นบวมจนผิดรูป ทั้งสิ้นเป็นมารดาของเขาที่ลงมือ
Read more
บทที่ 8.2
“ซู่จิ้งอ๋อง...”ยังไม่ทันได้หย่อนก้นลงนั่งบนเก้าอี้ บุรุษที่นางตั้งใจออกมารอก็ปรากฏตัวออกมาราวกับเขาเองก็รอให้นางออกมาจากหอนอนเช่นกัน วันนี้บทบาทสตรีอ่อนแอและบอบบางหานซางจื่อยังครอบครองมันได้อย่างดี จ้าวเหลียงอี้จึงทำเพียงดึงหน้าตึงใส่กัน แล้วก้าวเท้าออกไปขึ้นรถม้าคันโตโดยไม่รั้งรอสตรีบอบบางตัวเล็กแถมยังขาสั้นที่ต้องเดินสำรวมกิริยานับทุกก้าวที่ออกเดินแม้แต่น้อยทว่าหานซางจื่อหรือจะใส่ใจ ก็นางที่มีฐานะเป็นดังฝ่ายปรปักษ์ เป็นญาติของซ่งฮองเฮา และแน่นอนนางยังเป็นเปี่ยวเม่ยของไท่จื่ออีกด้วย แถมยังแทรกกลางแต่งงานเข้ามาเป็นพระชายาเอกก่อนสตรีที่อีกฝ่ายรัก เขาไม่ชิงชังนางน่ะสิแปลก ซึ่งหากเป็นสตรีทั่วไปคงเอาแต่ฟูมฟายเสียใจแทบเจียนคลั่งแล้วเป็นแน่ หากแต่นางนั้นมันต่างออกไปเวลาของนางมีแค่ไม่เกินสามหนาว จบสิ้นภารกิจก็ทางใครทางมัน ดังนั้นในสายตาของนาง จ้าวเหลียงอี้หาใช่สวามี เขาเป็นเพียง ‘นายท่าน’ ที่ตนเองมีหน้าที่คุ้มครองปกป้องชีวิตให้ปลอดภัยเท่านั้น...ก็เพียงงานหนึ่งชิ้นมิใช่หรือไร...ดังนั้นทุกลมหายใจขณะที่นั่งรถม้าร่วมกันเป็นเวลาถึงสองชั่วยามระหว่างนางและจ้าวเหลียงอี้จึงไร้คำพูดใดจะคุยกัน นาง
Read more
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status