Mag-log in“ตัวร้ายแล้วอย่างไร พระเอกแล้วอย่างไร ใช่ว่าหน้าตาดีแล้วจะมารบกวนชีวิตที่แสนสงบของข้าได้หรือ” ใครจะคิดว่าคนธรรมดาที่วันๆโหยหาแต่วันหยุด เพื่อดูซีรีส์หรือไม่ก็อ่านนิยายเงียบๆกับแมวในห้องเล็กๆเท่านั้น วันหนึ่งจะเข้าไปอยู่ในนิยายที่อ่านจบไปนานแล้ว เนื้อเรื่องก็แทบจำไม่ได้ในร่างของหญิงสาวธรรมดา ไม่ได้มีแม่เลี้ยงใจร้าย ตระกูลใหญ่โต ใกล้ชิดเชื้อพระวงศ์ เป็นเพียงคนไร้ตัวตนในนิยายที่ไม่ถูกกล่าวถึงแม้เพียงประโยค เธอตั้งใจจะใช้ชีวิตที่สงบสุขแต่แล้ววันหนึ่งกลับถูกจวนขุนนางใหญ่บังคับให้ไปเป็นอนุผลิตทายาท เพื่อหนีฐานะอัปยศนี้เลยเข้าจวนอ๋องร้ายไปเป็นสาวใช้ที่ทำตัวกลืนกินไปกับกำแพงจวนอย่างเช่นตุ๊กแก จิ้งจก “เว่ยตงหยาง” หรือใครๆที่เรียกเขาว่าเว่ยอ๋อง สมยานามว่าโหดร้ายและป่าเถื่อนอีกทั้งยังเป็นตัวร้ายในนิยายอีกด้วย เอาเถอะอยู่ใกล้คนเช่นนี้ดีกว่าต้องไปเป็นอนุของชายที่ไร้ค่าเช่นนั้น…
view moreBaru saja Isvara membuka mata, ia mendapati dirinya terduduk di atas pembaringan berselimut sutra merah. Jemari Isvara menggenggam sesuatu yang dingin. Sebuah cawan perunggu berisi cairan kekuningan yang berkilat.
Isvara menunduk, menatap busana yang membalut tubuhnya. Sebuah gaun panjang berwarna gading dengan sulaman teratai di beberapa sisi. Potongannya jelas menyerupai busana perempuan bangsawan dari masa kerajaan.
Tunggu… simbol teratai itu tidak asing baginya.
Ingatan Isvara langsung terlempar pada novel "Candrani dan Tiga Suami Tampan" yang ia tamatkan dua malam lalu. Ia menyukai kisah itu, karena sang tokoh antagonis memiliki nama yang identik dengannya.
Pada sampul novel, Putri Isvara yang jahat digambarkan mengenakan gaun bersulam teratai, persis seperti yang ia kenakan saat ini.
Mungkinkah jiwanya telah berpindah ke dalam raga Isvara, sosok putri mahkota yang dibenci seantero kerajaan, lalu ditakdirkan mati mengenaskan?
Belum sempat ia mencerna kenyataan gila itu, hidung Isvara menangkap aroma menyengat dari cawan di tangannya.
Sebagai dokter bedah yang pernah mempelajari toksikologi kuno, insting medisnya langsung mengambil alih. Ini bukan sekadar minuman biasa, melainkan aroma alkaloid yang mematikan.
Detik itu juga Isvara menyadari sesuatu. Ia tidak hanya berpindah dimensi, tetapi sedang berada di tengah adegan bunuh diri yang konyol.
Tok! Tok! Tok!
"Tuan Putri! Tuan Putri Isvara! Tolong buka pintunya! Jangan membuat kami takut!”
Teriakan dari balik pintu membuat Isvara tersentak.
Isvara mencoba bangkit, tetapi tubuhnya terasa seberat batu. Sebelum ia sempat meletakkan cawan itu, pintu kamar didobrak dengan dentuman yang menggetarkan dinding.
BAM!
Engsel pintu nyaris terlepas. Isvara tersentak hebat hingga cairan di dalam cawan tumpah sebagian, membasahi karpet bulu di bawah kakinya.
“S-siapa kau?” tanya Isvara terbata.
Ia melihat sosok seorang pria yang melangkah masuk. Wajahnya sangat tampan, tetapi rautnya sedingin es di puncak gunung.
Pria itu terus mendekat tanpa menjawab pertanyaan Isvara. Bayangannya yang tinggi besar seakan menelan tubuh Isvara yang masih terduduk lemas di tempat tidur.
Ia mengenakan jubah panjang berwarna biru yang disampirkan di bahunya. Sementara di pinggangnya melingkar sabuk kulit dengan ukiran kepala macan, simbol kekuatan yang mengintimidasi.
Dengan sorot mata setajam elang, pria tersebut menatap cawan di tangan Isvara.
"Anda bersandiwara lagi, Putri?" tanya pria itu dengan nada dingin. Suara baritonnya yang berat terasa membekukan seluruh ruangan.
"Setelah gagal mendapatkan perhatian, sekarang Anda menggunakan nyawa sendiri sebagai taruhan?"
Isvara mengerutkan kening, rasa pening di kepalanya semakin menjadi. "Aku... Putri Isvara?"
"Benar. Anda Putri Mahkota Isvara," potong pria itu cepat.
Ia merebut cawan dari tangan Isvara dengan gerakan kasar yang membuat jemari Isvara memerah.
Ketika pria itu mencium aroma cairan yang tersisa, seketika rahangnya mengeras hingga otot-otot lehernya menonjol.
"Racun daun ular? Apa menurut Anda dengan meminum racun, ketiga pria 'suci' itu akan segera datang kemari?"
Ucapan pria tersebut membuat Isvara teringat sesuatu. Dalam kisah novel, Sang Putri Mahkota memang memiliki tiga orang tunangan yang akan mendampinginya dalam memimpin kerajaan.
Masing-masing dari mereka mewakili tiga aspek utama dalam kerajaan, yaitu kekuatan spiritual, ilmu pengetahuan dan perdagangan, serta keadilan hukum. Oleh karenanya, mereka disebut sebagai "Tiga Tiang Dharma".
Sayangnya, tiga pria yang seharusnya mendukung dan mencintai Sang Putri justru bersikap sebaliknya. Mereka selalu bersikap dingin dan menjaga jarak, bahkan lebih memihak pada wanita lain.
Itulah sebabnya Isvara yang asli nekat melakukan berbagai cara, demi menarik perhatian mereka.
Bunyi keras cawan yang diletakkan pria itu memecah lamunan Isvara.
"Berhentilah mengacaukan kedamaian istana, Putri.”
Setelah melontarkan peringatan keras, pria itu hendak berbalik dengan jubah yang berkibar gagah. Namun, saat itulah sesuatu dalam tubuh Isvara meledak.
Rasa panas yang luar biasa tiba-tiba merambat dari perut bagian bawah ke seluruh pembuluh darahnya. Jantungnya berdegup dua kali lipat lebih cepat.
Isvara tersentak. Sebagai dokter, ia tahu ini bukan sekadar reaksi tubuh biasa.
Tampaknya pemilik tubuh yang asli terlanjur meminum sebagian racun, hingga mengalami gejala mirip orang yang terkena afrodisiak. Jika ini benar, ia harus segera mencari pertolongan medis.
Hanya saja, tangan Isvara terlanjur bergerak sendiri tanpa bisa dicegah. Ia pun bangkit dari pembaringan dan menarik jubah biru pria itu dengan tenaga yang entah datang dari mana.
"Apa yang Anda lakukan—"
Kalimat pria itu terputus saat Isvara tiba-tiba berjinjit dan mengalungkan kedua tangan di lehernya. Posisi ini membuat mereka harus beradu pandang dalam jarak yang begitu dekat.
"Tolong aku… tubuhku sangat panas."
Tanpa menunggu jawaban, Isvara menempelkan bibirnya yang pucat ke bibir pria itu, lalu menekannya perlahan. Bagi Isvara, kehangatan dan aroma maskulin pria ini bak oase di tengah gurun api yang membakar tubuhnya.
Namun, rasa lega itu hanya bertahan beberapa detik. Dengan satu sentakan kuat, pria tersebut melepaskan pertautan bibir mereka.
"Jernihkan pikiran Anda. Hamba bukan tempat pelampiasan sesaat," desisnya ketus, napasnya mulai tidak beraturan.
Sebelum Isvara sempat membalas, tubuhnya mendadak terangkat di udara.
Pria itu menggendongnya dalam satu gerakan cepat, lalu menghempaskannya kembali ke pembaringan. Namun, alas tidur yang nyaman bahkan tidak mampu meredam rasa panas yang kian menggila.
Jiwa Isvara kini bergejolak, antara nalar seorang dokter dan insting tubuh yang teracuni.
Di ambang batas kesadarannya, Isvara nekat menarik pria itu hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan.
“Kau ini pria sejati atau bukan?” tantang Isvara dengan napas memburu. Ia bisa melihat pupil mata pria itu melebar.
“Kalau kau tidak berani menyentuhku, lepaskan saja jubah kebesaranmu. Kau tidak pantas menjadi pemimpin pasukan Mahipura!”
Isvara tersentak setelah kalimat memalukan itu meluncur dari bibirnya.
Bagaimana jika pria ini mengabulkan permintaannya? Mungkinkah dia telah kehilangan akal sehat karena menempati tubuh seorang tokoh antagonis?
Suasana kamar tiba-tiba menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan suara deru napas mereka yang saling berkejaran.
Dengan sisa kewarasan, Isvara berusaha untuk meralat ucapannya sendiri. Namun, pria itu terlanjur memandangnya dengan tatapan gelap, seperti seekor serigala yang hendak menerkam mangsa.
"Anda menantang orang yang salah, Tuan Putri.”
10 ปีผ่านไปบรรยากาศภายในโรงเตี๊ยมเต็มไปด้วยลูกค้าหนาแน่น ครานี้กลายเป็นโรงเตี๊ยมอันดับหนึ่งในเมืองหลวงเสียแล้ว โรงเตี๊ยมถูกแต่งเติมให้มีขนาดใหญ่ขึ้น เพื่อรองรับลูกค้าที่มากขึ้นด้วยเช่นกัน ตอนนี้ก็เข้าปลายยามโหย่วแล้ว แต่หลี่ซิ่วอิงยังคงนั่งตรวจสอบบัญชีของทางโรงเตี๊ยมช่วยสหายอยู่เลย จากหุ้นส่วนเพียงไม่มาก ตอนนี้นางถือหุ้นส่วนครึ่งหนึ่งแล้ว"ก๊อกๆ คุณน้าอิงอิงอยู่หรือไม่เจ้าคะ"เสียงเจื้อยแจ้วของเด็กหญิงอายุราวห้าขวบโพล่เพียงหน้าเข้ามาในห้องเอ่ยทักหญิงสาวก่อน หลี่ซิ่วอิงเงิยหน้ามองตามเสียงทันที ก่อนจะยิ้มกว้างทักทายหนูน้อยที่เข้ามากวนตอนที่นางทำบัญชีเสร็จแล้วพอดี"อ้าว ลี่จิ่นหนูมาได้ยังไงเอ่ย"หญิงสาวเอ่ยทักเด็กหญิงตัวน้อยทันที ก่อนที่จะอ้ามือรอรับร่างเล็กมากอด ไม่นานก็ปรากฏกายของบิดาและมารดาของนาง"คารวะคุณชายโจ้วและฮูหยิน""คารวะฮูหยินจวนเว่ย"ทั้งคู่ก็เอ่ยและคารวะตอบหญิงสาว"พวกท่านมาได้เช่นไรกัน"หลี่ซิ่วอิงเอ่ยถามโจ้วยู่ร์เฟิงและจางเซียวเหยียน หลังจากเสนาบดีสกุลจาง จางอู๋ตี๋ออกจากคุก ด้วยความสามรถของนางที่มีบิดาที่มากไปด้วยความรู้แล้วความสามารถ ทำให้เพียง 5 ปีตระกูลของนางก็กลับมา
"หนึ่งเดือนก่อนแต่งเข้าจวนข้า เจ้าก็มิยอมมาอยู่ที่จวน มิรู้ว่าโรงเตี๊ยมมีดีอันใด ถึงรั้งเจ้าเอาไว้ได้ เช่นนี้ข้าน้อยใจหนัก"หลี่ซิ่วอิงมองใบหน้าคมที่ครานี้ทำท่าทีแง้งอนเหมือนเด็กน้อย นี่ใช่หรือไม่ที่เขาว่ากันว่า เมื่อเราอยู่กับคนที่เรารักจะมีนิสัยเด็กลงเว่ยตงหยางไม่ยอมให้นางได้เอ่ยอันใดอีก เขาดันตัวหญิงสาวนอนราบไปกับเตียง เชยคางของหญิงสาวขึ้นมาและมองใบหน้างามเช่นนั้นอยู่ชั่วครู่ วันนี้หญิงสาวงดงามมาก เขาอยากเก็บภาพเจ้าสาวของเขาวันนี้ด้วยตาสองข้าง จมูกโด่งของชายหนุ่มแตะที่ปลายจมูกเรียวเบาๆอย่างเอ็นดู ทั้งคู่สบตากันที่เต็มไปด้วยความรัก "ขอบใจเจ้าที่วางใจให้ข้าได้ดูแลและทะนุทะนอมตลอดไป""ขอบคุณที่ท่านดูแลข้าเป็นอย่างดี"ปากหนาบรรจงจุมพิษที่หน้าผากอย่างอ่อนโยน ไล่มาที่แก้มสองข้าง ปากหนาประกบจูบที่ปากเรียวอย่างแผ่วเบาและนุ่มนวล กลิ่นสุราชั้นดีคลุ้งทั่วทั้งปากของหญิงสาว กลิ่นยังไม่จางหายไปกลับถูกแทนด้วยลิ้นอุ่นของชายหนุ่ม ความหอมหวานของสุราที่เขามอบให้ทำให้นางเคลิบเคลิ้ม หลี่ซิ่วอิงจูบตอบชายหนุ่มอย่างไม่ประสา นั่นยิ่งทำให้ชายหนุ่มได้ใจและนึกเอ็นดูนาง ใบหน้าคมเลื่อนริมฝีปากมาที่ซอกคอขาวผ่อ
ปัง! ปัง! ปัง!เสียงเคาะไม้ดังก้อง เป็นสัญญาณบอกว่าได้เวลาอาหารเข้าแล้ว เหล่านักโทษพากัยื่นนมือรอรับอาหารอย่างน่าสังเวช ดวงตางามที่ไม่รู้ว่าหลับไปตั้งแต่ตอนไหนค่อยๆลืมตาขึ้น และพบว่าตนเองกำลังนอนอยู่บนตักของชายหนุ่ม เว่ยตงหยางตื่นก่อนนางนานแล้ว มือหนาเอื้อมไปทัดผมที่บังใบหน้างามออกอย่างอ่อนโยน พร้อมยิ้มกว้างให้หญิงสาว"อรุณสวัสดิ์"เสียงทุ่มเอ่ยเบาๆ ก่อนที่จะก้มลงจุมพิษที่หน้าผากเนียน หลี่ซิ่วอิงยิ้มตอบกลับไป เวลายามนี้มันช่างดีเหลือเกิน หากผ่านเรื่องพวกนี้ไปได้ นางเองก็จะดีกับเขาให้มากหน่อย"คุมตัวเว่ยอ๋องและแม่นางหลี่ออกไป"เสียงหัวหน้าทหารเอ่ยสั่งเสียงเข้ม ก่อนที่ทหารเหล่านั้นจะเข้ามาคุมตัวคนทั้งคู่ไป "จะพาพวกข้าไปที่ใดกัน"หลี่ซิ่วอิงเอ่ยด้วยท่าทีหวาดกลัวเล็กน้อย แต่ก็มิได้รับคำตอบใดๆกลับมา ทั้งคู่ถูกนำตัวออกมาที่ด้านหน้าคุกหลวง ก่อนจะพบกับฝ่าบาท ขันทีจำนวนหนึ่ง สหายของนาง และผู้ช่วยของชายหนุ่มอีกสี่คน เว่ยตงหยางถูกผลักให้ล้มลงไปกับพื้นน่าสภาพน่าเวทนา และกลับไม่มีผู้ใดกล้าเข้ามาช่วยเขาเลย เนื่องจากฝ่าบาทประทับอยู่ที่นี่ด้วย หลี่ซิ่วอิงรีบวิ่งเข้าไปพยุงชายหนุ่มให้ลุกขึ้น"เป็นเช่น
"ท่านพ่อ"เสียงตะโกนก้องของจางเซียวเหยียน ก่อนที่จะวิ่งเข้าไปกอดผู้เป็นบิดา ที่กำลังเดินออกมาจากคุกหลวงด้านนอก น้ำตาของหญิงสาวไหลอาบหน้า เต็มไปด้วยความดีใจจนหาสิ่งใดเปรียบมิได้ ทั้งคู่กอดกันกลมอยู่เช่นนั้น เหมือนกับว่านี่คือความฝัน จางอิงเย่วเองก็เดินไปหาทั้งคู่ ทั้งสามกอดกันกลม ในที่สุดครอบครัวของนางก็ได้กลับมาอยู่ด้วยกัน คดีของจวนสกุลจางถูกเว่ยตงหยางรื้อขึ้นมาใหม่ จนตรวจสอบได้แน่ชัดแล้วว่ามิได้มีส่วนเกี่ยวของกับการทุจริตเสบียงที่ต้องส่งไปให้ทหารที่ชายแดน จางอู๋ตี๋เช็ดน้ำตาที่ไหลไม่หยุด ก่อนที่แหงนขึ้นมามองที่หอคอยสูง ครานี้มีคนสองคนที่กำลังยืนดูพวกเขาอยู่ ทั้งสามคนทำท่าคารวะมายังพวกเขา ก่อนที่จะเดินกอดกันกลับจวน หนึ่งคือเว่ยหมิงฉิน กษัตริย์แห่งแคว้นฉิน อีกคนเป็นแค่คนธรรมดาหลี่ซิ่วอิง"คนเรายามชีวิตดีจนถึงจุดสูงสุดก็ร่วงหล่นลงมาที่จุดต่ำสุดได้ หรือยามที่คิดว่าตอนนี้คือจุดต่ำสุดแล้ว ก็สามารถค่อยๆไต่ขึ้นจนถึงจุดสูงสุดได้เช่นกัน ทุกอย่างจะเป็นดังที่เราคิดและตั้งใจเสมอ แค่เชื่อมั่นในตัวเองก็พอ"เว่ยหมิงฉินเอ่ยขึ้นก่อน หลี่ซิ่วอิงมองตามแผ่นหลังสามคนที่เดินไปเบื่องล่าง ชีวิตนางก็เคยมีจุดส
ณ จวนสกุลจางละอองเม็ดฝนที่เกาะอยู่ตามใบบัวหลังฝนหยุดตกแล้วได้ไม่นาน เพราะไม่สามารถซึมซับได้จึงกลิ้งไหลลงน้ำในที่สุด สระน้ำที่ถูกสร้างขึ้นเพื่อเป็นสถานที่พักผ่อน เต็มไปด้วยดอกเหลียนฮวาทั่วทั้งสระ กลีบดอกชมพูขาวส่งกลิ่นหอมไปทั่วบริเวณโดยรอบ ทำให้ผู้ที่อยู่ ณ ศาลากลางสระน้ำผ่อนคลายไปด้วย"คุณหนู นายท
หนึ่งสัปดาห์ต่อมาชีวิตประจำวันของหลี่ซิ่วอิงไม่ค่อยมีอะไรให้ลุ้นมากนัก ตื่นมาทำงาน เสร็จงานก็เข้าห้องนอน ไม่ค่อยออกไปที่ใด ส่วนเจ้าของจวนนั้นนางได้ยินมาว่าเขากำลังวิ่งวุ่น เกี่ยวกับคดีการติดสินบนเจ้าหน้าที่ของสกุลจางและสกุลหลิว กรมคลังถูกตรวจสอบใหม่ทั้งหมด และพบว่าสกุลหลิวดูแลเรื่องเสบียงที่ส่งไปใ
ห้องเล็กภายในเรือนบ่าวรับใช้ช่วงกลางวันเป็นเวลาที่ทุกคนทำงาน บ่าวใช้ต่างแยกย้ายกันไปตามเรือนต่างๆเพื่อทำหน้าที่ของตน หลี่ซิ่วอิงกลับจวนเว่ยอ๋องก่อนหนึ่งวันทำให้มีเวลาได้ยืดเส้นยึดสายจากการเดินทางที่เหน็ดเหนื่อย ภาพเจ้าของจวนนี้ที่นางพึ่งพบเมื่อสักครู่ยังตราตรึงจนไม่สามารถสลัดออกไปจากความคิดได้ เล่น
กลิ่นยาขมคละคลุ่มไปทั่วห้องกว้าง อากาศภายในเรือนใหญ่ถ่ายเทได้สะดวก ข้าวของภายในห้องมิได้มีเพียงตกแต่งให้สวยงามและหรูหรา แต่ยังสามารถใช้งานได้ทุกชิ้น ทหารยามพลัดกันเฝ้าเวรอย่างแน่นหนา แม้เพียงหนูสักตัวก็ไม่มีทางรอดพ้นสายตาเข้ามาในเรือนแห่งนี้ ผ้าขาวที่ถูกสับเปลี่ยนซับโลหิตแดงกองโตถูกนำออกจากเรือนทุก


















RebyuMore