เข้าสู่ระบบคุณอินน์ อินทฐานนท์ ชื่อนี้ทำให้คุณหมอใบบุญญาถึงกับนิ่วหน้ากับสิ่งที่ได้ยิน ไม่อยากเชื่อว่าหนุ่มเจ้าสำราญอย่างเขาที่มีฉายา เจ้าชายคาสโนว่าเนี่ยนะจะ...เวอร์จิ้น ลิงออกลูกเป็นควายคุณหมอสาวยังจะเชื่อเสียกว่า "ผมพูดจริง ๆ นะ" "เอ่อค่ะ แล้วคุณอินน์อยากให้หมอรักษาเรื่องอะไรคะ" ใบบุญญาได้ฟังมาจากเจ้าป้าของชายหนุ่มว่าเขาเป็นโรคประหลาด ซึ่งผลตรวจสุขภาพของเขาก็ปกติทุกอย่างแต่ที่ไม่ปกติน่าจะเกิดจากจิตใจของเขานี่แหละ "คุณห้ามบอกใครนะ" "หมอ เป็นหมอนะคะ ต้องรักษาความลับคนไข้ คุณอินน์ไม่ต้องกังวลนะคะ" สายตาของชายหนุ่มยังกังวลไม่น้อย เขาลูบหน้า ลูบตาหลายต่อหลายครั้ง ภาษากายแบบนี้ทำให้เรารู้ว่าผู้ฟังกำลังกังวล "คุณอินน์ ไม่ชอบผู้หญิงเหรอคะ" "ชอบ" "คุณอินน์ ไม่แข็งหรือเปล่าคะ" "แข็ง" อืม ฟังดูก็ไม่น่าจะมีปัญหาอะไรกับความเวอร์จิ้นของเขา แล้วปัญหามันอยู่ตรงไหนกันนะ "แข็ง แต่มันหดทันทีที่โดนจับ" "อ๋า..." จิตแพทย์เจ้าของไข้เข้าใจทันที เขาแข็งแต่เขาหดเมื่อจะร่วมรัก เคสนี้ยากกว่าที่คิดนะเนี่ย....งานเข้าแล้วหมอใบ
ดูเพิ่มเติม"Mau dijemput pukul berapa, Nyonya?"
"Bara! Sudah berapa kali kukatakan, jangan panggil aku Nyonya saat si Tua Bangka itu tidak ada!" "Ta-tapi Nyonya, eh Bu...." "Tidak ada tapi-tapian! Panggil aku Nola! N, O, L, A. No--la! Jemput aku pukul lima atau nanti kutelpon!" "Ba-ba-baik, Nyo--, eh maksudku, Nola." Tergesa kutinggalkan bangku kemudi lalu mengitari moncong mobil. Setelah membuka pintu penumpang bagian tengah, dengan kepala membungkuk aku persilahkan wanita yang sudah menjadi majikanku sejak pertama datang mencoba peruntungan di kota ini. "Tidak perlu juga berlebihan kayak gini dong, Bara," katanya saat menjejakkan kaki di tanah. "Kamu ini gimana, sih? Baru saja juga dibilangin." Nyonya Nola sangat jelas frustrasi. Tapi mengingat status diriku, jangankan.mengatakan apa-apa, untuk menegakkan wajah pun aku tidak punya cukup keberanian. Namun, siapa yang menyangka kalau pada saat sedang menunduk dalam inilah Nyonya Nola justru memberiku sesuatu yang benar-benar tidak masuk akal! Wanita bersuami ini tiba-tiba saja mengecup pipiku! Demi Tuhan, aku seperti baru saja menerima sengatan listrik arus pendek. Darahku benar-benar tersirap dibuatnya! Jelang enam bulan menjadi pembantu di rumah wanita 'high class' ini, ini adalah kali pertama dia memberiku sesuatu yang entah apa maksudnya. "Jangan sampai terlambat!" katanya lagi dan melenggang anggun menuju pintu utama sanggar kebugaran. Aku hanya menjawabnya dengan satu anggukan kecil seraya diam-diam menikmati wangi tubuh yang dia tinggalkan. Jeda kemudian, aku memejamkan mata, coba meresapi kembali apa yang baru saja terjadi. Namun, alih-alih. Bahkan, untuk beberapa saat lamanya, dunia seperti berhenti berputar. Semuanya tampak bergeming. Sampai-sampai udara yang mengalir di rongga jantung ini pun seolah ikut terhenti. Kecupan kecil Nyonya Nola barusan, rasa-rasanya itu lebih tuak dari tuak manapun yang ada di muka bumi ini. Dahsyatnya melebihi kedahsyatan serangan candu anggur merah yang pernah menjajal pembuluh darahku. Sungguh, aku sudah lebih dulu mabuk bahkan hanya dengan membayangkan betapa nikmat aromanya. Akan tetapi, apalah halusinasi. Lagipula, memangnya siapa aku di matanya? Baru beberapa menit meninggalkan halaman sanggar kebugaran, ponselku berdering. Ada telepon masuk. Dari Tuan Edy Hidayat. Segera kupinggirkan mobil lalu menerima panggilannya. "Iya, Tuan, saya?" Berbicara dengan yang 'kastanya' berada di atasku seperti Tuan Edy Hidayat, mau tidak mau aku harus mengikuti ritme keformalan mereka. Bukan untuk memanipulasi status sosial, tapi lebih kepada tuntutan profesi. Supir pribadi dan yang setara, atau yang lebih rendah darinya, memang boleh dikatakan hanyalah seorang pembantu. Tapi apa pun sebutannya, tetap saja suatu profesi. "Mungkin itu, Tuan. Nyonya lagi senam sampai tidak sempat angkat telepon." Aku mereka-reka kalimat supaya dapat mengimbangi Tuan Edy Hidayat. "Baik, Tuan, nanti saya sampaikan pesan Tuan." Tuan Edi Hidayat tidak lagi menambahkan, dan langsung memutus sambungan telepon. Sebelum pukul lima, aku sudah 'standby' di halaman sanggar kebugaran yang lokasinya berada tepat di jantung ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara. Nyonya Nola baru keluar setelah kira-kira dua puluh menit aku menunggu. "Nyonya, tadi ... eh maaf-maaf, maksudku, Nola." Lagi-lagi aku mempertontonkan watak asliku yang 'kelas coro'. Namun, apa boleh buat. Ujung lisan ini sepertinya masih butuh pembiasaan supaya tidak belibet ketika harus menyebut nama langsung, tanpa harus menyertakan embel-embel apa pun. "Iya, tadi Tuan nelpon," lanjutku seraya fokus menyetir. Sekarang mobil kami mulai merayap di jalan raya. "Hm, terus, si Tua Bangka itu ngomongin apa saja?" Nada bicara hingga isi kalimat Nyonya Nola sangat jelas menggambarkan ketidakempatian. Padahal, orang yang sedang kami bicarakan tidak lain adalah suaminya sendiri. Mengetepikan sikap dia yang sejatinya tak ada hakku untuk ikut campur, kulanjutkan saja dengan tenang apa pesan Tuan Edy Hidayat untuk dia. Dari Nyonya Nola ini 'ngapain' saja, kenapa tidak angkat telepon, tidak juga membalas pesan singkat via W******p, adalah sedikit dari beberapa pertanyaan Tuan Edy Hidayat yang kuinformasikan. Terakhir, kusampaikan pesan Tuan Edy Hidayat yang katanya akan berada di luar kota hingga lima atau enam hari ke depan. "Enam hari? Wah, bagus dong!" Nyonya Nola sudah tidak ubahnya seorang pegawai negeri 'nyambi influencer amatiran' yang mendapatkan voucher libur gratis. Entahlah jika dia sengaja ingin memperlihatkan wajah lain yang tersembunyi di balik status sosialnya yang boleh dibilang serba formal, khususnya ketika sedang berurusan dengan masyarakat kelas bawah sepertiku. "Kok gerah, ya?" ucapnya tiba-tiba. Tidak yakin dia sedang berbicara denganku, aku coba mencari bayangannya pada kaca cermin di langit-langit mobil sejajar dashboard. "Oh astaga?" Aku mendesis dalam kemudian cepat-cepat menarik pandang. Wanita ini ternyata sedang mencopot baju senam yang dia kenakan. Meskipun hanya sekilas, tapi aku sudah melihat dari dekat tubuh bagian atasnya. Kulitnya seputih susu. Sepasang bukit kembarnya, tampak kepenuhan. Size-nya aku perkirakan, paling tidak size 40 kalau bukan size 42. Sudahlah begitu, itu barang ya, tampak menjulang ke depan. Dan... adalah kelemahanku. Entah kenapa, aku selalu tidak bisa menahan diri untuk tidak menelan liur saat melihat barang bagus seperti punyanya Nyonya Nola. Hah... memprihatinkan diriku ini. "Oh ya, Nola, ini langsung pulang atau gimana?" Selain sebagai pengalihan suasana, kebetulan juga boleh dikatakan ini adalah hal wajib untuk ditanyakan. Masalahnya, adakalanya Nyonya Nola ini akan lebih dulu singgah di sana-sini sebelum minta diantar pulang ke rumah. Nyonya Nola menyebut satu nama tempat. Tanpa banyak bicara aku langsung mengarahkan mobil menuju sana. Kendari Beach, demikianlah orang di kota ini menamai tempat dimaksud. Lazimnya pembantu pada majikannya, entah itu akan masuk atau keluar dari mobil, sudah menjadi kewajibanku untuk selalu sigap membukakan pintu, lalu menyeru dengan hormat pada Nyonya Nola atau Tuan Edy Hidayat. Hal ini berlaku juga pada keluarga inti mereka. Sedangkan pada awal senja ini, begitu mobil kami berhenti, Nyonya Nola tidak lagi menunggu. Dia langsung turun sendiri dari mobil. "Temanin aku sebentar, yuk!" "Maaf, Nola, aku di sini saja." "Sudah ... tidak apa-apa. Ayok!" Nyonya Nola meraih lalu menautkan lengannya ke lenganku, memaksa aku untuk melangkah bersama. Kami sudah tidak ubahnya sepasang kekasih di tempat umum begini, jelas ini tidak baik. "Oke oke, tapi tidak perlu juga sampai harus gandengan tangan kayak gini, 'kan?" Aku coba menepis, khawatir ada yang mengenali lalu melaporkan kami pada Tuan Edy Hidayat. Bukan takut, tapi karena suatu alasan, aku tidak boleh sampai kehilangan mata pencaharian. "Memangnya kenapa kalau gandengan tangan?" "Nola ...." Aku mendesis frustrasi. "Demi kebaikan semua pihak, mohon kondisikan dirimu." Nyonya Nola pada akhirnya menurut. Tapi yang tidak aku sangka-sangka adalah, tangannya mendadak luput dari pantauanku. Tiba-tiba ada sentuhan di bawah perutku, dan tanpa basa-basi langsung menjalar ke bawah. Sampai di sini barulah aku sadar, Nyonya Nola ternyata sudah kehilangan akal! "Pegang tangan 'kan tidak boleh, ya? Tapi kalau pegang ini boleh, dong."ครั้งที่แม่เล่าให้เธอฟัง มนทนาคิดว่าแม่น่าจะโม้เพื่อไม่ให้เธอกลัวแค่นั้นใครจะคิดว่าสิ่งที่แม่พูดเป็นจริง ความเจ็บที่เคยมีหายไปจนหมดแทบๆไม่มีความเจ็บปวดอะไรเหลือค้างเลยแม้แต่น้อย เจ้าลูกชายตัวอ้วนกลมแก้มน่ารักน่าหยิก หน้าตาออกมาเหมือนพ่อราวกับโขกออกมาจากใบหน้าของผู้เป็นพ่อ“น้องตฤณ ตฤณกุล (ตริน-กุล) – ผู้ที่สร้างความสมบูรณ์ให้กับตระกูล เพราะไหมครับปู่ทวดของลูกเป็นคนตั้งชื่อนี้ให้นะครับ”เจ้าสัวไตรเป็นผู้ตั้งชื่อตฤณกุลให้เหลนตัวน้อยเพราะว่าเหลนคนนี้เป็นคนที่มาสร้างความสมบูรณ์ให้กับตระกูล หลังจากที่ท่านเจ้าสัวได้หมดหวังเรื่องการมีทายาทไปแล้วสองปีผ่านไปเด็กชายตฤณกุลกำลังนั่งเขี่ยแก้มเด็กหญิงเล่นอย่างอารมณ์ดี เด็กหญิงที่ว่าคือน้องตชญา (ตะ-ชะ-ยา) ซึ่งเป็นน้องสาวแท้ ๆ ของเขานั่นเองพ่อบอกเขาว่าต้องรีบออกมาไม่อย่างนั้นเขาจะไม่มีน้อง เขาก็เลยรีบออกมาทันทีและเวลานี้เขาก็มีน้องเป็นของตัวเองแล้ว อยากให้น้องพูดได้เร็ว ๆ น้องจะได้เรียกเขาว่าพี่“ฟี่” เด็กชายวัยสองขวบที่พูดยังไม่ค่อยชัดกำลังสอนเด็กหญิงที่เพิ่งคลอดได้สามวันพูด“ไม่ใช่พี่ครับตฤณ นี่เรียกว่าน้อง” ตระการบอกกับลูกชายที่เรียกน
แต่ผัวรักอย่างตระการทั้งอาเจียน ทั้งเวียนหัว ทั้งอยากกินอะไรแปลก ๆ แทบทุกวัน อาการที่เป็นมันยิ่งกว่าบทพิสูจน์ว่าเขากำลังแพ้ท้องแทนเธอแต่ในเมื่อผัวรักบอกไม่ใช่ เมียที่รักผัวมากอย่างเธอจะทำอะไรได้นอกจากตามใจผัวว่าไงเมียก็ว่าอย่างนั้นมื้อเช้าของวันในบ้านหลังใหญ่ที่มีเจ้าสัวไตรเป็นประธานนั่งหัวโต๊ะ เจ้าสัวย้ายมาอยู่เชียงใหม่ตั้งแต่ปลูกบ้านให้หลานชายกับหลานสะใภ้เสร็จเป้าหมายของชายสูงวัยคือได้อยู่เลี้ยงเหลนที่กำลังจะมาเกิดแต่วันนี้ทุกคนต้องขมวดคิ้วกับเมนูตรงหน้าทันที“นี่อะไรเหรอ” เจ้าสัวไตรเอ่ยถามแม่บ้านคนพื้นที่ทันที“อันนี้แอ๊บอ่องออเจ้า หมอต่ออยากกินเจ้า” แอบอ่องออหรือสมองหมูนั่นเอง“แล้วอันนี้ละ” เจ้าสัวถามอีกเมนูที่หน้าตาคล้าย ๆ กันแต่เขาต้องถามให้แน่ในเพราะบางอย่างท่านเจ้าสัวก็ไม่แน่ใจว่าท่านจะกินได้หรือเปล่า“อันนี้ แอบปลาเหยี่ยนเจ้า” คำตอบของแม่บ้านทำเจ้าสัวขมวดคิ้วหนักกว่าเดิม“ปลาไหลไทยนะคะ” มนทนาอธิบาย ส่วนคนที่ขอเมนูนี้กำลังเดินไหล่ห่อเหี่ยวลงมาจากชั้นสอง ทันทีที่ได้เห็นเมนูทั้งสองที่ตัวเองอยากกิน จากไหล่ห่อเหี่ยวก็กลับตั้งตรงมีชีวิตชีวาทันที“น่ากินทุกอย่างเลย” สายตาเป็นป
‘มหากิจบำรุงสกุล’แน่นอนว่านามสกุลนี้ในประเทศไทยอาจไม่รู้จักทุกคน แต่เชื่อเลยว่าวงสังคมชั้นสูงหรือแม้แต่พวกข้าราชการอย่างพวกเขารู้จักเป็นอย่างดีไตร มหากิจบำรุงสกุลเป็นเจ้าสัวระดับหมื่นล้านแสนล้านด้วยอำนาจเงินและบารมีที่สร้างสมมาอย่างยาวนาน ใครจะกล้ามีเรื่องด้วยธวัชรีบพิมพ์ชื่อของตระการ พร้อมทั้งนามสกุลลงบนช่องทางการค้นหาทันทีและภาพที่ชายหนุ่มถ่ายรูปกับผู้เป็นปู่และพ่อในงานวันเกิดเมื่อไม่กี่เดือนของเจ้าสัวก็ปรากฎชัดหลาบนหน้าจอโทรศัพท์มือถือ“เพราะแบบนี้สินะ อีมณีถึงได้กล้าหือกับกู”ธวัชเอ่ยอย่างโมโห แต่เขาคงทำอะไรไม่ได้ ก็ใครจะกล้าเอาไม้จิ้มฟันไปงัดกับท่อนซุงขนาดใหญ่แบบเจ้าสัวไตรบทที่ 6 อารมณ์ไม่ดีหกเดือนผ่านไปน้องชายของมนทนาเดินทางไปเรียนต่อตามที่เขาได้ตั้งใจ“ค่าเทอมแค่นี้เองเหรอ” มณีเอ่ยถามลูกชายในวันที่ต้องจ่ายค่าเทอม ค่าหอ ค่าตัวเครื่องบินให้ลูกเป็นจำนวนเงินแสนกว่าบาท“ก็เท่านี้แหละแม่ โฟว์เรียนดีไงได้ส่วนลด”“เข้าไปเถอะได้เวลาแล้ว” มนทนาเอ่ยตัดบทสนทนาระหว่างแม่กับลูกชายกลัวว่าน้องชายเธอจะหลุดจำนวนเงินที่แท้จริงออกมาจำนวนเงินที่แท้จริงมากกว่าที่ชายหนุ่มแจ้งผู้เป็นแม่ไปมากโข
แต่วันนี้เธอไม่กลัวคนตรงหน้าเพราะมีลูกสาวและว่าที่ลูกเขยอยู่เคียงข้าง“ทำอะไรกันอยู่ทำไมเปิดประตูช้า” ชายวัยเกือบหกสิบบ่นทันทีที่ลูกสาวเปิดประตูร้านให้เข้ามาด้านใน นานแค่ไหนแล้วนะที่เธอไม่เคยพบเจอคนตรงหน้าเธอคงลืมหน้าเขาไปแล้วหากไม่มีทีวี ใช่ตลอดเวลาที่เธอ แม่และน้องโดนไล่ครั้งนั้นพวกเราก็ไม่เคยพบเจอผู้ชายตรงหน้าอีกเลยจนเมื่อไม่นานมานี้มีอินฟลูท่านหนึ่งมาถ่ายรีวิวร้านข้าวแกงของแม่เธอทำให้ผู้ชายคนนี้กลับเข้ามาในวงจรชีวิตของพวกเธอสามแม่ลูกอีกครั้ง“ขอน้ำหน่อยร้อน”“มีอะไรก็พูดมา” มณีเอ่ยถามทันที พร้อมทั้งปลายตาไปยังป้ายที่ติดหร่าอยู่กลางร้าน ‘น้ำดื่มฟรีบริการตัวเอง’ อยากกินก็เดินไปเองควายมันต้องเดินหาปลัก ไม่ใช่ให้ปลักต้องเดินมาหาควายนั่นคือคำพูดที่เธอพอคิดออกในใจ แต่เพราะอีกฝ่ายเป็นพ่อของลูก เธอไม่อยากให้ลูกระคายใจ“คุยกับโฟว์หรือยังเรื่องเปลี่ยนนามสกุล” เมื่อไม่มีใครเอาน้ำมาให้ดื่มกินธวัชจึงเข้าเรื่องที่ต้องการพูดวันนี้ทันที“โฟว์จะใช้นามสกุลฉัน” มณีตอบอย่างมั่นใจ เรื่องนี้เธอคุยกับลูกแล้ว“หึ! เธอนี่เห็นแก่ตัวจริง ๆ มณี ถ้าลูกเปลี่ยนกลับมาใช้นามสกุลฉันรู้ไหมว่าลูกจะได้อะไร ลูกจ
“แผนการชีวิตแกเลื่อนเร็วขึ้น งั้นหมายความว่า แกจะแต่งงานใช่ไหม” ตระการนึกขึ้นได้กับแผนการอีกสองปีที่ใบบุญญาเคยวางไว้ แต่เมื่อออกจากงานทุกอย่างก็เลยร่นขึ้นมาเร็วขึ้นอีกสองปี “ถูกต้องคร้าบ เพื่อนต้องเตรียมตัวเป็นเพื่อนเจ้าสาวนะจ๊ะ” ทั้งสามคนต่างส่งเสียงเฮลั่น พร้อมทั้งกอดกันกลม เป็น
ธีมงานแต่งสีชมพูซึ่งเป็นสีโปรดของว่าที่เจ้าสาว โชติภิวรรธต่างออกแบบและแต่งกายด้วยชุดสีชมพูกันทั้งตระกูลไม่เว้นแม้แต่ผู้ชาย “กูรู้สึกแปลก ๆ ไงก็ไม่รู้” ไธม์บ่นกับชุดสูทสีชมพูของผู้ชายทั้งตระกูล ไอ้วัย ๆ อย่างพวกเขามันก็ไม่เท่าไหร่ แต่รุ่นพ่อนี่สิใส่กันทุกคน “ทำไมวะ” ธาร์ถา
ใบบุญญาซุกเข้าอ้อมกอดของคนแพ้ท้อง อินน์หอมหัวเธอไปหลาย ๆ ที ก็น่ารักขนาดนี้จะไม่ให้เขาห่วงทั้งแม่ทั้งลูกได้อย่างไร “เป็นห่วงครับ กังวลหลายอย่าง อีกทั้งตื่นเต้นด้วยครับ ไม่คิดว่าลูกจะมาเร็ว” อินน์คิดไว้ว่าลูกน่าจะมาหลังจากแต่งงานสักปี ใครจะคิดว่าลูกเขามาเร็วขนาดนี้ “ไม่ต้องกังวลหรอ
“ประชดสิ ประชดให้พวกนั้นอิจฉาจนจะขาดใจตายไปเลย คนขี้อิจฉาต้องเจอแบบนี้แหละ แล้วคลินิกใบที่ ‘ฐานนท์พาร์ก’ ใกล้เสร็จยังคะ” ‘ฐานนท์พาร์ก’ ใช้เวลาก่อสร้างเกือบสองปี ศูนย์การค้ากึ่งสวน กึ่งตลาดถือเป็นแลนด์มาร์กแห่งใหม่ของเชียงใหม่ เจ้าประกายแก้วรัตนาเพิ่มบ้านหลังไม่ใหญ่มากในมุมหนึ่งของ
ความคิดเห็น