Masukบอกว่าไม่อยากมีเมีย แต่แม่ก็ยังส่งยัยเด็กเตี้ยน้องสาวต่างสายเลือดมาให้ "ขิม แต่เราเป็นพี่น้องกันนะ" "พี่น้องเขาไม่จูบกันนะคะเฮียธีร์"
Lihat lebih banyak"mas. kita jalan-jalan yuk! Habis itu kita makan malam di restoran pinggir pantai. Gimana?" Ajak Amira pada suaminya.
"Hmmm gimana ya. Oke deh." Jawab Amar suami Amira. Mereka berdua pergi jalan-jalan ke pantai. Sore hari tempat itu sangat ramai. Banyak para turis yang datang untuk melihat sunred. Setelah petang. Mereka berdua mampir ke restoran untuk makan malam. Amira sudah menyiapkan kado kecil untuk suaminya. Sebagai hadiah kejutan di hari jadi mereka. Saat menunggu makanan di sajikan. Amira dan Amar berfoto bersama. Mengabadikan momen berdua di restoran bintang lima. Tiba-tiba ponsel milik Amar berdering. Pria itu segera mengangkatnya. "Halo. Iya pak. Gimana?" Ucap Amar. "Ah sinyalnya jelek. Sebentar ya sayang. Mas keluar dulu nyari sinyal." Ucap Amar lagi. Pria itu pamit keluar untuk mencari sinyal. Karena di dalam sinyalnya tidak bagus. Amira mengizinkan suaminya keluar. Lagian cuma menerima telefon dari bosnya. Sampai makanan yang di pesan sudah datang. Amar masih belum kembali. Tapi Amira masih tetap menunggu dengan sabar. Mungkin mereka sedang membahas masalah kantor. Pikir Amira. "Maaf mas. Saya mau keluar sebentar. Meja saya jangan di beresin dulu ya!" Ucap Amira pada seorang pelayan restoran. "Iya. Baik nyonya." Jawab pelayan itu. Amar mendapatkan hadiah dari kantor tempatnya bekerja. Menginap di hotel dan makan di restoran dengan gratis. Karena semua sudah di tanggung oleh bosnya. Bosnya Amar adalah sahabatnya sendiri. dia memberikan hadiah liburan itu sebagai kado pernikahan mereka. karena saat menikah dulu Amar tidak bisa ambil cuti. Kecuali hari H nya. Amira celingukan melihat ke kanan kiri. Dia juga bertanya pada setiap orang yang lewat. Menanyakan keberadaan suaminya. "Maaf mas. Apa melihat seorang pria sedang tinggi, putih, memakai kaos dan celana warna putih?" Tanya Amira pada seorang yang lewat di depannya. Amira mencoba menelfon suaminya. Tapi nomernya sudah tidak aktif. Sejak tadi wanita itu ingin menghubunginya. Tapi dia tahu kalau tadi yang menelfon adalah bosnya. Jadi tidak berani untuk mengganggunya. Tapi ini sudah sangat lama sekali. Tak biasanya Amar seperti ini. Tak pernah mematikan ponselnya. Apalagi menghilang tidak jelas seperti ini. "Kamu di mana sih mas? Kenapa ponselnya tidak aktif?" Amira bertanya-tanya sendiri. Wanita itu berjalan. Melangkah ke manapun. Mencari keberadaan suaminya. "Loh Amira. Kamu di sini? Amar mana? kok sendirian? Tanya seorang wanita cantik. Amira melihat wanita itu. Ternyata dia adalah Seila. Teman mereka saat masih sekolah dulu. "Tahunih. Tadi katanya nyari sinyal. Tapi sekarang gak tahu dimana." Jawab Amira. "Tunggu saja di dalam. Siapa tahu Amar di sana." Ujar Seila. Mereka berdua masuk ke dalam restoran. Amira kembali ke tempat duduknya lagi. Seila ikut duduk di sampingnya. "Kamu sudah pesan makanan dari tadi?" Tanya Seila. "Iya. Sampai makanan dingin. Jadi tak berselera." Jawab Amira lirih. "Panas atau dingin. kalau aku mah sama saja. yang penting makan." Ucap Seila. "Kalau kamu mau makan saja punyaku ini. belum ku sentuh dari tadi." Tawar Amira. "Enggak ah. ini makanan mahal. Takut gak bisa bayar." Tolak Seila. "Gak perlu bayar. Ini semua sudah di bayar. Kamu tinggal makan saja." Jelas Amira. "Beneran?" Tanya Seila memastikan. Seila menghabiskan semua makanan yang tersedia di meja itu. Wanita itu bisa menghibur Amira sesaat. Sambil menunggu kedatangan suaminya. Tapi setelah Seila pergi dan hari semakin larut. Amar masih belum juga kembali. Amira masih tetap menunggu suaminya di tempat itu. Hingga restoran itu sudah mau tutup. Amira masih setia menunggunya. Sampai mendapat teguran dari pelayanan restoran itu. "Maaf Bu. Restoran sudah mau tutup. Ibu bisa meninggalkan tempat ini sekarang." Ucap pelayan itu dengan sopan. Amira meninggalkan tempat itu. Dia masih tetap menunggu suaminya di depan restoran mewah itu. Hingga pagi menjelang. Wanita itu masih tetap menunggu. ponsel di dalam tas Amira berbunyi. Wanita itu bergegas mengambil dan langsung menerima panggilan itu. Tanpa melihat nomer siapa yang menghubunginya. "Halo mas. Kamu di mana sekarang? Aku menunggumu lama banget." Ucap Amira. "Ini Kak Lisa. Bukan Amar." Jawab Alisa. Kakaknya Amira lewat sambungan telefon. "Oh iya kak. Ada apa?" Tanya Amira. "Kamu cepetan pulang ya! Gak usah nunggu sampai seminggu. Kakak tunggu ya!" Tegas Alisa. "Memangnya ada apa kak?" Tanya Amira penasaran. "pokoknya cepetan pulang! Udah dulu ya. Kakak tunggu!" Ucap Alisa. kemudian sambungan telefonnya terputus. Amira langsung memesan taksi. Mengambil semua barang-barang miliknya di hotel. Kemudian cek out. Wanita itu tidak membawa semua milik suaminya. Membiarkan saja barang itu tetap di kamar hotel. Setelah cek out dari hotel. Amira langsung menuju ke bandara. Beruntung masih ada tiket untuk hari ini. Meskipun harus menunggu tiga jam lagi. Sesaat Amira lupa tentang suaminya. Karena pikirannya tertuju pada kakak dan ibunya di rumah. Ucapan Kakaknya tadi membuat Amira jadi tidak tenang. *** Sampai di rumah. Keadaan tempat itu sepi. Tak ada seorang pun di dalam rumah. Termasuk juga Art yang bekerja di rumah itu. "Assalamualaikum. Kak Lisa, ibu. Aku pulang. Dimana kalian?" panggil Amira. Tak ada sahutan dari siapapun. Amira duduk di sofa ruang tamu. Wanita itu menghubungi kakaknya dan menanyakan keberadaan mereka. "Halo kak. Kakak dimana sekarang? Ibu juga gak ada. Ibu bareng Kak Lisa gak?" Amira memberondong pertanyaan pada kakaknya. "Iya. ibu lagi bareng kakak. Sekarang kamu ke sini ya! Ke rumah sakit tempat Kak Farel bekerja!" perintah Alisa. "Memangnya ada apa sih kak? Kak Lisa mau bikin kejutan ya buat aku?" Tebak Amira. "Kamu datang cepetan ya!" Ucap Alisa lagi. Amira penasaran. Sebenarnya ada apa sih? Apa yang ingin di tunjukkan oleh kakaknya itu. Amira pun kembali memesan taksi kemudian pergi ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit. Amira kembali menghubungi Alisa. Menanyakan keberadaan kakak dan ibunya sekarang. "Halo kak. Aku sudah sampai nih. Kak Lisa dimana?" Tanya Amira. "Kamu langsung ke ruang ICU saja!" Jawab Alisa. Mendengar kata ICU. Perasaan Amira menjadi tidak enak. Siapa yang sedang sakit? Kemarin saat dia pamit pergi ke Bali. Ibu dan kakaknya baik-baik saja. Termasuk juga Farel suami dari Alisa. Sampai di depan ruang ICU. Amira memanggil Alisa yang sedang duduk sendiri sambil menangis. Amira bingung. Apa yang sebenarnya terjadi? "Kak Lisa?" Panggil Amira. Alisa menoleh. Melihat keberadaan Amira. Wanita itu langsung memeluk erat adiknya. Sambil menangis dan mengatakan bahwa ibu mereka sedang di ruang ICU. "Mira. Ibu kecelakaan. Ibu jadi korban tabrak lari saat pergi ke pasar tadi pagi." Jelas Alisa sambil menangis. Amira ikut menangis. Kedua wanita itu berpelukan saling menguatkan. Mereka sama-sama tidak ingin kehilangan ibu tersayangnya.การมาบาร์วันนี้ต่างออกไปจากเดิมเล็กน้อย เนื่องจากคนเป็นเจ้าของต้องมาที่นี่เพียงคนเดียว ใจหนึ่งก็อยากจะหยุดอยู่คอนโดเพราะว่าสายขิมดันป่วยขึ้นมาเฉย ๆ ด้วยอาการแพ้อากาศ อยากจะดูแลอยู่ข้าง ๆ แต่ทางภรรยากลับไล่ให้ออกมาที่บาร์ เธอไม่อยากให้ตัวเองกลายเป็นภาระขนาดนั้น และบอกว่าให้เขามองงานสำคัญเป็นที่หนึ่งเสมอ...ห้ามเกเร ห้ามดื้ออีก อาจเพราะสภาพอากาศในช่วงนี้ที่ช่างน่าเบื่อหน่าย การที่ผู้คนเลือกจะหาสถานที่ดื่มด่ำผ่อนคลายจึงกลายเป็นเรื่องที่นิยมขึ้นมา ยูนิคอร์นบาร์จึงแทบไม่เหลือที่ว่าง มันประสบความสำเร็จมากกว่าที่คิด แต่ก็รองลงมาจากการประสบความสำเร็จเรื่องราวความรักอยู่ดี... ธีร์ธวัชดินตรวจดูรอบ ๆ ร้าน พูดคุยกับลูกค้าสอบถามความเห็นและปัญหาอย่างใกล้ชิดเพื่อสร้างความประทับใจให้กับผู้ใช้บริการ สิ่งนี้คืออีกเสน่ห์หนึ่งที่ทำให้บาร์ของธีร์ธวัชประสบความสำเร็จได้และติดลมบนอย่างรวดเร็วจนกระทั่งเขาเดินตรงไปยังบาร์เครื่องดื่ม ที่เวลานี้บาร์เทนเดอร์กำลังโชว์ลวดลายลีลาเชคผสมรังสรรค์เมนูเลิศรสให้กับลูกค้าชายหนุ่มสองคนที่นั่งอยู่ก่อนแล้ว มองจากข้างหลังก็ยังรู้ว่าเป็นใคร
เธอยังคงสดในเหมือนกับวันแรกที่ได้เจอ... ธีร์ธวัชลอบมองใบหน้าจิ้มลิ้มยามหลับใหลของหญิงสาวอันเป็นที่รักเงียบ ๆ เธอยังไม่ตื่น อาจเพราะเมื่อคืนบทรักที่ร่วมบรรเลงคงยาวนานไปหน่อยสำหรับเด็กดื้อเสียงลมหายใจดังขึ้นแผ่วเบา แสงอาทิตย์ยามเช้าที่ลอดผ่านม่านพลิ้วไสวสาดทับใบหน้าเนียนยิ่งทำให้ความน่าเสน่หาของสายขิมเปล่งประกาย ปลายนิ้วละเลียดสัมผัสปอยผมด้วยความรักใคร่ ทุกครั้งเวลาที่ได้อยู่ด้วยกัน ธีร์ธวัชไม่เคยนึกฝันว่าสุดท้ายแล้วตัวเองจะได้ลงเอยกับใครสักคนแบบนี้หนึ่งเดือนพ้นผ่านหลังจากงานวิวาห์ จะว่าตนเองคือรางวัลของพยายามที่สายขิมตามจีบตามตื๊ออย่างไม่ว่างเว้นก็คงไม่ผิด แต่ถึงอย่างนั้น คนที่ไม่เคยอยากจะมีเมียกลับรู้สึกอบอุ่นและโชคดีที่ได้เธอคนนี้มานอนกอดไม่ต่างกัน รัก...รัก...รัก...รักที่สุด ขิมของเฮีย! ใบหน้าหล่อเหลายิ้มกริ่มขึ้นมาในความเงียบงัน เป็นเวลาเดียวกับที่แพขนตาสวยขยับเปิดขึ้น สายขิมลืมตาขึ้นมาอย่างแช่มช้า ขยับตัวไปมาในวงแขนของสามี ก่อนที่จะได้เห็นว่าอีกฝ่ายตื่นอยู่ก่อนแล้ว “เฮียธีร์...ตื่นนานหรือยังคะ” เสียงใสเอ่ยถาม พอสายตาได
“เฮียธีร์...เป็นอะไรคะ” สายขิมเอ่ยถามพร้อมกับใช้สายตามองดูสามีที่นอนคว่ำอยู่บนที่นอน ทั้งยังใช้กำปั้นทุบบริเวณไหล่ตัวเองไม่หยุด “ปวดไหล่เหรอคะ”“อืม...” ธีร์ธวัชพยักหน้ารับอย่างช้า ๆ“ถ้าอย่างนั้นขิมช่วยนวดให้นะ” มือนุ่มวางสัมผัสลงไปบนแผ่นหลังกว้าง เปลือกตาคมปิดลงให้ภรรยาตัวน้อยช่วยนวดคลายความปวดเมื่อย “ไปทำอะไรมาคะ ทำไมจู่ ๆ ถึงได้ปวดหลัง ปวดไหล่ได้ หรือว่าเฮียไปยกอะไรหนัก ๆ มา” “เมื่อคืนช่วยเด็กยกลังใส่โซดาน่ะ เดินผ่านเห็นคนไม่พอ น่าจะผิดท่าไปหน่อย” มือนุ่มเริ่มขยับออกแรงกดลงไปหนัก ๆ ใบหน้าคมเอียงซบลงไปบนหมอนนิ่ม เอียงข้างหันมาด้านหนึ่ง เมื่อเส้นตึงได้รับการบีบนวดถูกอกถูกใจ จึงเผลอครางออกมาผ่านลำคอ เหมือนต้องการอยากบอกกับหมอนวดส่วนตัวว่าตนพออกพอใจเพียงใด “อืม...ขิมนวดเก่งจัง ตรงนั้นแหละ” “ตรงนี้เหรอคะ” คนตัวเล็กขยับตัวขึ้นมาอีกนิดเพื่อจะได้กดน้ำหนักลงบนไหล่แกร่งได้สะดวก ทำให้ตอนนี้ลำตัวของเธออยู่ระดับสายตาของคนที่นอนอยู่อย่างพอดิบพอดี “อืม...”เจ้าของไหล่กว้างปรือตาขึ้นมาเล็กน้อย ก่อนจะเห็นว่าตอนนี้สายตา
โห่...ฮี้โห่...ฮี้โห่...ฮี้โห่...ฮิ้ว.... จบเสียงโห่นำก็ตามมาด้วยเสียงกลองยาว ฉิ่ง ฉาบ ที่เริ่มบรรเลงดนตรีเป็นจังหวะสนุกสนาน พร้อมกับคนที่เดินอยู่ในขบวนขันหมากต่างยกไม้ยกมือขึ้นฟ้อนรำมาตามถนน ธีร์ธวัชในชุดเจ้าบ่าวสีขาวสะอาดพาดบ่าด้วยสไบสีทองเดินอยู่หน้าสุด ข้าง ๆ กันเยื้องไปด้านหลังนิดหน่อยมีเพื่อนสนิทสองคนที่เดินถือพานสินสอดตามมาด้วย “หน้าบานเหมือนจานข้าวหมา” เป็นเสียงของกิตติภพพูดขึ้นปนหมั่นไส้ เนื่องจากสีหน้าของคนเป็นเจ้าบ่าววันนี้ดูจะเบิกบานเกินหน้าเกินตา ไม่เหมือนกับไอ้คนที่ประกาศปาว ๆ ว่าจะไม่แต่งงานเมื่อหลายเดือนก่อนเลยสักนิดเดียว “เรื่องของกู” คนโดนแขวะตอบกลับทั้งที่สายตายังจ้องมองไปยังถนนที่ตรงไปยังบ้านของเขา รอยยิ้มกว้างที่อยู่บนใบหน้าไม่ได้หุบลงแม้แต่วินาทีเดียว ไม่เชื่อก็ต้องเชื่อว่าตัวเองจะพ่ายแพ้ยับเยินให้กับเด็กดื้อที่เคยตั้งใจเอาไว้ว่าจะไม่แต่งงานด้วยเด็ดขาด แต่ใครใช้ให้เธอน่ารัก น่ามอง แถมยั่วเก่ง นาทีนี้อดใจไหวก็คงไม่ใช่ผู้ชาย แต่ที่มากกว่านั้น ก็คงเป็นความจริงใจที่สายขิมมีให้ หากคิดทบทวนกลับไปให้ดี
แสงแดดในยามบ่ายตกกระทบน้ำทะเลจนเป็นประกายระยิบระยับราวกับเพชรที่กำลังต้องแสง สายลมพัดโชยพาเอาไอเค็มของทะเลมาแตะต้องผิวหนัง ธีร์ธวัชเอนกายอยู่บนเก้าอี้ชายหาดสีขาว สายตาคมกวาดมองไปทั่วบริเวณจนกระทั่งไปหยุดอยู่ที่ร่างบางของเด็กดื้อที่กำลังเล่นน้ำทะเลอยู่ไม่ไกล สายขิมในชุดบิกินี่สีชมพ
“ทำไมจู่ ๆ มึงอยากไปเที่ยวทะเล” ธีร์ธวัชยืนพ่นควันบุหรี่อยู่ที่ระเบียงคอนโด ในมือถือโทรศัพท์กำลังคุยกับกิตติภพ เขาถามออกไปอย่างนั้น เพราะเมื่อครู่เพื่อนสนิทบอกว่า สุดสัปดาห์นี้จะไปเที่ยวทะเลกันและเป็นการชวนกึ่งบังคับที่เขาจะต้องไปด้วย //ก็หมวยเพิ่งกลับจากจีนไง กว่ามหา’ลัยจะ
เช้าวันต่อมา ในรถยนต์คันใหญ่ที่มีธีร์ธวัชเป็นคนขับ เบาะนั่งข้าง ๆ ไม่ใช่ยัยตัวเล็กของเขาที่นั่งอยู่ แต่เป็นคเชน ลูกนายหัวชัยที่แม่ขอร้องกึ่งบังคับให้เขาพาไปเที่ยวที่วัดด้วย ส่วนสายขิมนั้นนั่งอยู่เบาะหลังเพียงคนเดียว ใจจริงก็ไม่ได้อยากจะนั่งข้างไอ้ผู้ชายคนนี้สักเท่าไหร่ แต่ถ้าจะให้
เกือบบ่ายสอง มีรถไม่คุ้นตาคันหนึ่งมาจอดหน้าประตูรั้วบ้าน ทำให้คนงานที่กำลังทำสวนอยู่นั้นได้แต่ชะเง้อคอมองอย่างสงสัย พอประตูรถเปิดออกพร้อมกับใครบางคนที่สวมเสื้อเชิ้ตสีขาวคู่กับกางเกงยาวและแว่นกันแดดก้าวลงมา ก็ยิ่งทำให้สงสัยหนักเข้าไปอีก “มาหาใครครับ” คนงานชายถามออกไปด้วยสำเนียงภาษาใต





