Kembalilah Padaku
Itu dia, masih berpegang teguh pada penolakannya.
“Akan tetapi, kita sudah membicarakan hal ini, Stef. Kamu harus pergi sekolah,” kataku padanya.
“Namun, aku tidak mau, Ma. Aku tidak tahu apa keuntungannya,” katanya.
Aku menghela napas dengan lantang dan duduk di samping sandaran tangannya. “Kenapa tidak? Bolehkah aku tahu?”
Dia memutarkan kursinya ke arahku. “Untuk banyak alasan. Pertama-tama, teman-teman sekelasku sangat berisik, mengganggu konsentrasiku,” ujarnya.
Bab Populer