Ketika Mas Gagah Tiba
Dua wanita dengan tinggi badan yang nyaris sama itu berhadapan.
“Takdirmu. Bapak memang lebih menyayangiku.” Wanita dengan tubuh lebih berisi itu naik sebelah alisnya.
“Ya, karena kamu pintar cari muka. Gak punya muka, ya? Kasihan.” Andini melanjutkan langkah. Menaiki teras tanpa membuka sendal, kembali dia melihat pada Wulandari. “Jadi ini dekorasi hasil uang pinjaman? Kalau gitu dijaga lah ya mulutnya, gak enak kan kalau belum apa-apa udah ada yang nagih.”