Candu Dekapan Kakak Ipar
Tanpa menunggu reaksi, dokter dan perawat itu pun pamit keluar dari ruangan.
Arga melangkah mendekat satu langkah.
“Ibu tenang saja,” ucapnya lebih lembut. “Ini belum tentu permanen. Dengan terapi rutin, kemungkinan pulih itu tetap ada. Ingatannya bisa kembali, dan beliau juga bisa berjalan lagi.”
Namun air mata Djiwa sudah lebih dulu jatuh. Tak tertahan, membasahi pipinya yang pucat.
“Kalau begitu … saya keluar sebentar untuk membelikan Anda makan, Bu,” ujar Arga pelan, memberi ruang.