Terjerembap dalam Pelarian
Aku membiarkan senyum kecil yang hampir mengejek melengkung di bibirku.
Tenang, nyaris tanpa beban, aku berkata, “Kalau begitu berikan saja padanya. Aku ingin sesuatu yang lebih sederhana. Sesuatu... yang normal.”
Cahaya di matanya meredup. Hanya sedikit saja kata-kataku seolah mulai menghapus warna dari dunianya.
“Sederhana... dan normal? Apa maksudnya?”
“Mencintai seseorang... dan dicintai balik,” kataku lirih, membiarkan kata-kataku menggantung di udara bagai asap.