Kontrak Terlarang sang Penulis
lanjut Xavier mantap.
Xavier kembali membalikkan kursinya, menatap draf kontrak hitam yang masih tergeletak di atas meja kerjanya. Jari telunjuknya mengusap nama 'Citra' yang tertera di sana.
"Dia adalah penulis yang berbakat. Alur cerita romansa yang ia bangun di kepalanya begitu indah, namun sayangnya, dunia nyatanya terlalu kejam. Aku hanya ingin membantunya mewujudkan fantasinya secara nyata, di tempat ini, bersamaku," bisik Xavier dengan nada posesif yang kental. "Tunggu saja. Dalam hitungan jam, keputusasaan akan menuntun kakinya sendiri untuk berjalan kembali masuk ke dalam sangkarku."