Satu Malam Panas Dengan Adik Iparku
Rendra membolak-balik naskah itu di tangannya, “meskipun aku tahu siapa pembunuhnya sebelumnya, aku masih ingin membacanya. Bagaimanapun, ini hanyalah awalnya saja, masih ada halaman-halaman selanjutnya. Dengan pola pikir saat membaca buku ini, kamu tidak akan pernah bisa menebak bahwa pembunuhnya adalah orang itu. Bahkan kalau aku memberitahumu sebelumnya, kamu tetap akan merasa pelakunya bukan dia. Kamu baru percaya kalau sudah sampai akhir cerita.”
Lirea meliriknya, duduk, lalu meraih draft yang sudah tercetak itu dari tangan Rendra dan membukanya perlahan. Bagaimanapun, itu adalah novel yang Rendra terjemahkan khusus untuknya. Lirea tetap ingin membacanya sampai selesai.
Rendra duduk di