Menantu On Air : Siaran Rahasia dari rumah mertua
Pak Slamet menunduk, suaranya serak, “Kalau benar dia… berarti semua yang dia sampaikan bukan hanya untuk pendengar. Tapi untuk kita.”
Bu Sri menatap suaminya dengan mata berkaca. “Untuk kita yang sering merasa benar… tapi lupa mendengar.”
Mereka tak sadar, lagu lembut sudah mengisi udara, menutup sesi siaran itu.
Sekar, di loteng rumahnya, menatap mikrofon yang kini diam — air matanya jatuh di atas buku catatan kecil bertuliskan: