FREL.
"Maksud lo bunga beneran?"
Dara mengangguk-angguk dengan santai. "Iya, tanaman bunga. Bunga beneran."
"Serius, Ra?" Dara mengangguk lagi. Kutahan tawaku. "Terus lo jawab apa?"
"Gue bilang gini, 'Kak, ngapain sih harus bunga? Malu tau, Kak. Daripada bunga mending saya milih kakak aja. Udah ganteng, manis lagi. Yaaa ... meskipun wajah saya bagaikan bunga semerbak mewangi, tapi tetap aja merayu bunga itu nggak ada kamusnya. Ih, amit-amit, deh. Gimana, Kak, saya boleh dong merayu Kak Ari?' Lo tau, Frel, reaksi Kak Ari apaan? Kak Ari salah tingkah dan senyum-senyum gitu, telinganya langsung berubah merah. Gue gemas banget tau, nggak."
Hot Chapters