Paman, Bawa Aku Pergi
Bagas menarik sudut bibirnya, membentuk seringai tipis penuh kemenangan saat menyadari bahwa tidak ada penolakan yang murni dari menantunya itu.
Anya memejamkan matanya rapat-rapat saat merasakan kecupan hangat dan basah mulai mendarat di ceruk lehernya, membuat tubuhnya refleks melengkung ke depan, kian merapatkan jarak di antara mereka. Rasa sakit hati atas pengkhianatan Gusti yang masih menganga di dalam hatinya mendadak menjelma menjadi amunisi kepasrahan. Jika suaminya bisa bermain api di Surabaya, mengapa ia harus mempertahankan kesetiaan yang tak dihargai di sini?
"Lihat saya, Anya," perintah Bagas lagi, suaranya kini terdengar bagai titah yang tak boleh dibantah.
Hot Chapters