Malam Pertama Sang Istri Kontrak
Mereka harus melawan dengan suara.
Keesokan harinya, suasana rumah besar berubah menjadi studio darurat. Peralatan kamera lebih besar dibawa masuk, jaringan internet diperkuat, kursi panjang disiapkan dengan backdrop sederhana bertuliskan nama perusahaan Arga. Bukan acara glamor, bukan panggung megah, tapi justru kesederhanaan itu yang direncanakan: publik harus melihat ini sebagai kebenaran, bukan pertunjukan. Arga berdiri di depan kaca besar, merapikan dasinya dengan ekspresi dingin, sementara Aisyah berdiri di sampingnya, mengenakan blus putih sederhana, wajahnya dipoles tipis agar tidak terlihat terlalu pucat. “Kau tidak perlu bicara banyak kali ini,” ujar Arga sambil meraih tangannya, “
Hot Chapters