Suami Perkasa
“Aku hancur, iya. Tapi jangan datang karena kamu merasa bersalah. Jangan datang karena kamu pikir aku sendirian. Aku memang sendirian. Dan itu pilihanku.”
Suaranya meninggi, dingin namun tegas. “Kalau aku mau bangkit, itu harus karena aku ingin. Bukan karena tangan masa lalu yang merasa kasihan.”
Hening menyusul. Di seberang, Farel hanya bergumam pelan, “Baik, Sukma. Aku mengerti.”
Klik. Telepon ditutup.