Lamar Kakak, Nikahi Adiknya
Suaranya yang keluar dari bibirnya sedikit bergetar, namun matanya—mata yang biasanya lembut dan penuh kehangatan—kini menatap lurus ke arah Nadia tanpa sedikit pun gentar.
"Apa maumu sebenarnya, Mbak Nadia?" tanyanya, nada suaranya bercampur antara ketegangan dan kemarahan yang ia coba tahan.
Nadia, yang duduk santai di sofa empuk dengan kaki disilangkan, hanya tersenyum tipis. Senyum itu tidak mencapai matanya; ada sesuatu yang dingin dan licik tersirat di baliknya. Ia mengenakan blus modern berwarna merah tua yang kontras dengan kulitnya yang cerah, memberikan kesan percaya diri yang hampir menekan. Dengan gerakan santai, ia mencondongkan tubuh ke depan, menatap Aisyah dari atas ke bawah
Hot Chapters