Bukan Pilihan Suami, Tapi Jadi Idaman Presdir
Arka yang sejak tadi mencuri pandang segera berlari kecil, tangan mungilnya menggenggam jemari Elara erat-erat.
Elara tersenyum tipis, lalu memberikan kantong kertas yang sejak tadi dibawanya. “Ini untuk Arka. Ada buku sama talking pen. Belajar yang rajin, ya, Sayang. Jadi anak yang baik. Nanti Ibu akan datang lagi.”
Mata Arka berbinar. Ia langsung memeluk ibunya erat karena tak ingin melepaskan.
Rahayu melangkah mendekat. Dengan pelan-pelan, ia menunduk dan menyentuh bahu Arka. “Ada Nenek di sini, Arka.”