Perjalanan Waktu Sang Penjelajah Takdir
"Ada satu cara lagi: jika kalian bersatu dalam cinta sejati di puncak pertempuran melawan kegelapan, kalian bisa menciptakan celah waktu yang mengubah takdir. Tapi kalian harus siap kehilangan segalanya."
Air sungai tiba-tiba berubah menjadi api biru, menyelimuti Raka dan Dyah dalam lingkaran cahaya yang hangat namun menusuk. Di dalam api itu, mereka melihat bayangan masa depan: Gilingwesi hancur, istana runtuh menjadi debu, Ki Jagabaya duduk di tahta dengan wajah setengah manusia-setengah naga, dan Dyah terbaring tak bernyawa di altar batu, rambutnya terurai seperti aliran sungai yang kering.
"Kita harus bertarung," bisik Raka, tangannya menggenggam erat tangan Dyah, seolah takut kehilangan
Hot Chapters