Akan Selalu Menjadi Milikku
Ia menatapku, seolah menimbang apakah ia boleh mempercayai kata-kataku sepenuhnya.
Aku hanya mengangguk kecil.
“Kalau kamu tidak percaya,” ucapku pelan, “aku bisa membawamu kemari kapan pun kamu mau.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi nada suaranya… cukup untuk membuat udara di antara kami berubah, lebih hangat, lebih dekat, lebih berbahaya.
Seolah aku baru saja menawarkan lebih dari sekadar makan siang.
Raiya menatapku lama, mencoba membaca pikiranku. Namun aku sudah terbiasa menjaga ekspresi tetap datar. Baginya, aku hanya terlihat seperti seseorang yang mengatakan fakta sederhana.
인기 회차