KELAMBU MERAH JAMBU
Entah, bagaimana dengan dirinya?
Uniknya, aku juga nggak berusaha untuk menahan diri di jalan kecil yang dulu menjadi jalan favorit kami---aku dan Elize hampir setiap sore melintasi jalan ini, sering juga duduk-duduk di bangku kayu bawah pohon maple untuk sekedar mengobrol atau curhat---lalu pergi dengan langkah ringan setelah melemparkan senyuman yang kurasa kaku. Pulang. Oooh, masih nggak percaya rasanya, persahabatan kami yang sedekat dan sekuat itu hancur berkeping-keping seperti ini. Ugh! Benar adanya, sikap yang emosional, egois dan berkhianat adalah musuh utama dalam persahabatan. Lihatlah, sekarang kami sudah seperti dua orang yang bermusuhan. Padahal, aku nggak begitu, lho. Hanya se
Capítulos Populares