Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya
Janjinya ditepati; tak akan ketua OSIS paling muda itu mangkir dari sini, sebelum memastikanku patuh meminum enam butir bodoh vitamin warna-warni.
“Vitamin A, untuk pagi, setelah sarapan. Dan C, nanti untuk sore. Kemarin, sudah kamu minum semuanya?” Di balik cermin kacamatanya mengintai punggung botol plastik obat, iris Jonathan mengamati. Terus digodanya pipi gembungku memaksa untuk menjawab. Usai kuhardik ganas lengannya, baru Jonathan melepaskan.
“Aku bukan anak kecil, paham? Taruh saja obatnya di sini, nanti juga aku minum,” jengkelku tak tahan uring-uringan.
Bab Populer