Kubawa Benihmu Saat Kau Menalakku
Aku harus kuat, aku harus sabar, seperti pinta Ibu.
Beranjak dari tempat tidur, kulangkahkan kaki gontai menuju lemari pakaian. Kuambil koper besar di atas nakas. Satu persatu baju yang telah tertata rapi, kumasukkan ke koper. Sesekali, kuusap ujung mata dengan jemari. Cincin pernikahan yang selama lima tahun melekat di jari manis, kulepas lalu kuletakkan di kotak kecil berwarna biru, kuselipkan di antara tumpukan baju suamiku. Aku berjanji, ini adalah terakhir aku menginjakkan kaki di ruang peraduanku dan Mas Herlan. Entah suatu hari takdir akan mempertemukan kami kembali, aku tak bisa menolaknya.
Kurapikan sisa-sisa pergulatan suamiku dan perempuan itu. Aroma parfum itu bahkan masih memenu
Hot Chapters