Mabuk Janda
Dengan membuang wajah, dia menyerahkan handuk itu.
“Tutupi tubuhmu! Simpan perawanmu demi suamimu kelak! Jangan menggoda aku dengan cara seperti itu. Aku sama sekali tidak ingin menjamahmu.” Suara Dani terdengar gentleman. Namun, bagi Maya, itu sangat memuakkan sekaligus penghinaan. Di usianya yang sudah menginjak tiga puluh lima. Belum ada lelaki manapun yang meminangnya. Bahkan, terakhir pacaran saja waktu SMA, lebih tepatnya cinta monyet karena sama-sama siswa yang kuper. Selepas itu, hidupnya selalu dicerca oleh setiap lelaki karena penampilannya aneh. Membuatnya hampir mati rasa dan penuh dendam. Sekarang ketika dia kembali membuka hati, dia justru ditolak dengan sangat hina.