Suami Pelarian
Batinku terlalu lelah, tak siap menerima fakta konyol ini.
"Shanna." Ibu sempat memanggilku, ketika ia masuk ke ruang tamu tempat aku dan Bapak bicara tadi.
"Aku capek, Bu, mau tidur." Aku menyahut tanpa memandang ibuku. Kuhempaskan tubuhku di ranjang setelah aku berada di kamarku sendiri.
"Mengapa harus begini? Mengapa?" rintihku sedih.
Bapak bercerita, bahwa beberapa tahun lalu, ia berjumpa dengan seorang kawan. Mereka mengobrol seru, layaknya teman lama yang terpisah, dan akhirnya berjumpa kembali.
Hot Chapters