Membaca pertanyaan ini bikin aku teringat betapa kompleksnya dinamika keluarga dalam cerita-cerita fiksi. Ada satu novel psikologis Jepang yang pernah kubaca, judulnya 'Out' oleh Natsuo Kirino—meski bukan tentang hubungan ayah-anak, tapi menggali sangat dalam soal tekanan sosial dan emosi terpendam. Kalo mau eksplor tema 'hubungan terlarang' dengan depth, sastra seringkali lebih berani daripada medium lain. Misalnya, 'Lolita'-nya Nabokov yang kontroversial itu justru kuat karena narasinya yang ambigu.
Tapi sebagai penikmat cerita, aku selalu lebih tertarik pada ketegangan psikologisnya daripada sekadar adegan panas. Di 'The Kiss' karya Kathryn Harrison, hubungan ayah-anak perempuan digarap dengan intensitas emosi yang bikin merinding. Yang menarik justru bagaimana konflik batin, rasa bersalah, dan tarik-menarik destruktif itu dituliskan.