Satu Atap dengan Pria Dingin
"Santai aja kali, aku tahu, kok. Lagian ngapain juga aku buang-buang waktu buat ribut atau cemburu? Kita, kan, nikah cuma main-main buat nyenengin kakek-nenek. Nggak ada cinta-cintaan di antara kita, jadi kamu mau punya seratus rekan kerja kayak gitu juga bukan urusanku."
Avena mengatakan itu sambil diselingi tawa canda, murni karena menganggap pernikahan mereka memang sebatas formalitas saja. Namun, entah karena pencahayaan dapur yang mendadak berubah atau matanya yang salah lihat, rahang Rafsen tampak mengeras.
Tatapan mata elang pria itu mendadak meredup, menciptakan jeda sunyi yang terasa sedikit menyesakkan selama beberapa detik.