KAU MENDUA AKU PUN SAMA
“Iya, Bu.“ Aku menjawab malas.
“Kenapa jawabnya singkat gitu? Biasanya juga kamu kan suka mendebat,“ ujar Ibu dengan dahi agak mengerut.
“Terus aku harus jawab apa, Bu? Protes juga percuma kan? Nggak akan mengubah keadaan,“ jawabku pasrah. Lebih tepatnya tak berminat dan ingin segera menyudahi pembicaraan ini, walau tak dipungkiri agak penasaran juga sejak kapan mereka menikah siri.
“Baguslah kalau kamu sadar diri,“ cetus Ibu diakhiri seringai tipis.
Aku mengalihkan pandangan pada Mbak Medina yang ternyata juga tersenyum tipis.
“Ada yang mau dibicarakan lagi nggak?“ tanyaku. Membuat senyumnya langsung sirna, “kalau tidak ada, aku mau pulang. Sudah mau magrib,“ lanjutku.
Hot Chapters