ANAK TUKANG CUCI PIRING
Bendera kuning di dekat pohon nangka melambai terkena sapaan angin, banyak motor yang terparkir di halaman rumah permanen tersebut, orang-orang juga masih terus berdatangan.
Hawa duka langsung terasa saat aku masuk ke dalam, Wa Muniroh selaku Ibu dari almarhumah tak henti-hentinya menangis. Di dekatnya, kulihat Imas juga menumpahkan kesedihan, matanya sembab, kedua tangannya menggenggam Al-Qur’an.
Melihatnya seperti itu, pikiranku kembali bertanya-tanya. Apa iya, wanita yang kuanggap soleha dan alim itu melakukan hal begitu tabu?