Malam Pertama Sang Istri Kontrak
Jemarinya gemetar saat menyentuh kertas itu, bukan karena takut, tapi karena sadar setiap kata yang akan ia ucapkan bisa mengguncang dunia.
Ia membaca ulang kalimat pertama, kali ini dengan suara lantang: “Aku berdiri di sini bukan hanya sebagai seorang istri, tetapi sebagai saksi hidup bahwa kebenaran bisa dipenjarakan, namun tidak bisa dimatikan.” Suaranya bergetar di awal, namun semakin lama semakin tegas. Halusinasi Arga masih berdiri di samping papan tulis, mendengarkan dengan senyum tipis. “Itu bagus, Aisyah,” suara itu bergema dalam pikirannya, “ucapkan dengan keyakinan, dan dunia akan percaya.”
Hot Chapters