NODA
Sekali lagi, maaf.
Aku beringsut membaringkan tubuh di depannya kemudian menatap wajah yang terlihat begitu payah itu dengan jantung yang terus berdentam. Tanganku terulur mengusap rambut lembut yang terlihat begitu terawat kemudian turun mengusap pipi, mengukir setiap lekuk wajah dengan hidung bangir, alis tebal menggambarkan ketegasan, dan turun ke bawah mengusap bibir tipis yang terus mengeluarkan kata-kata lembut, manis, dan santun meski kadang menjengkelkan itu. Ku kecup bibir lembut itu sekilas dengan rasa penuh penyesalan. "I love you ... Daddy," bisikku tersipu malu meski tak ada yang melihat dan wajahku memanas kemudian bersemu. Aku tahu.
Hot Chapters