Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Sebelum Cinta Itu Hilang

Sebelum Cinta Itu Hilang

Suara kipas angin tua di sudut ruangan berderit pelan, menemani napasnya yang belum juga stabil. Di tempat baru ini, sepi terasa berbeda. Bukan lagi sepi yang menakutkan seperti malam-malam di rumah dulu, saat ia menunggu Raka pulang entah jam berapa. Sepi ini lebih sunyi, lebih jujur. Sepi yang tak menawarkan harapan palsu, tapi juga tak menuntut penyesalan yang terus-menerus.
1.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 30 kali sebagai dalam sepi utopia
Baca
+Pustaka
Istri yang Kau Sia-siakan, Dilamar CEO Tampan

Istri yang Kau Sia-siakan, Dilamar CEO Tampan

ujar Diaz sambil sekali lagi mengecup pipi Mutia. "Iya, sampai jumpa lagi." Entah kenapa rasanya Diaz sangat kehilangan mana kala Mutia sudah turun dari mobil, kenapa rasa sepi tiba-tiba menyusup ke dalam dirinya? Ah, sepertinya dia memang ingin selalu berdekatan terus dengan perempuan itu. Tidak ingin berpisah walaupun sedetik.
1045.6K DibacaTertahanDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.5K kali sebagai dalam sepi utopia
Tampilkan Ulasan (11)
Baca
+Pustaka
Nainamira
Hallo kakak-kakak pembaca Selamat datang di karya baru nainamira. Naina ucapkan terima kasih untuk mampir ke sini, jangan lupa tinggalkan jejak ya kak, beli ulasan dan vote untuk karya ini, biar Nai lebih semangat untuk update dan menyelesaikan ceritanya.
maya sari
menunggu Diaz datang n menjemput mutiara, pdhal aku kasian sama si tom tom krna tom tom sebenar nya cinta sama Mutia tp krna ego, n gengsi terlalu tinggi menghancurkan si tom tom itu sendiri ... si tom2 menjerumuskan diri dlm pelukan Siska huh gak level banget si tom tom ne yah huh
Baca Semua Ulasan
Rimba Memburu Senala

Rimba Memburu Senala

Satu kalimat terpahat rapi di atasnya: “Setiap peradaban butuh penjaga di batas waktu. Kalianlah itu.” Rimba tersenyum sembari memegang dada kirinya yang nyerinya menghilang selepas Alanes pergi. --- Mereka melanjutkan perjalanan ke arah utara, ke jalanan yang menuju Tanjung Sepi—wilayah yang kabarnya diliputi kabut abadi dan di sanalah, menurut kisah tua, banyak suara yang lupa tubuhnya mencari arti. Malam mulai turun. Cucu menyalakan api kecil di sisi sungai kecil. Sementara itu, Rimba duduk, memperhatikan liontin itu di bawah cahaya remang-remang.
102.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 75 kali sebagai dalam sepi utopia
Baca
+Pustaka
Pernikahan tanpa Bahagia

Pernikahan tanpa Bahagia

Di langit, bulan sabit menggantung rendah, seperti mata setengah terbuka yang mengawasi dunia. “Tahu nggak?” kata Naira tiba-tiba. “Dulu aku takut sendirian. Tapi sekarang, aku mulai belajar menikmati sepi. Karena ternyata, sepi tidak selalu berarti kesepian.” Raka menatapnya, matanya lembut. “Itu artinya kamu sedang sembuh.” Naira mengangguk pelan. “Dan kamu?” Raka menghela napas panjang. “Mungkin aku baru mulai belajar sembuh sekarang.”
1.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 48 kali sebagai dalam sepi utopia
Baca
+Pustaka
DARI BENCI JADI PASUTRI

DARI BENCI JADI PASUTRI

Sekotor itu. Apa Casa peduli? No. Casa tidak peduli. Tidak sedikitpun. Justru pandangan yang seperti itu bisa sangat membantunya untuk mengakhiri hubungan yang tidak ia inginkan ini secepat mungkin. Makanya dia tidak mau repot-repot meluruskan kesalahpahaman Utara. Utara bisa menilainya bagaimanapun, dan bisa menganggapnya apapun. * Semuanya berawal di satu pulau kecil di tengah Indonesia. Di malam yang dingin di zona tropis.
101.6K DibacaTertahanDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 50 kali sebagai dalam sepi utopia
Baca
+Pustaka
Samaran Terakhir

Samaran Terakhir

Lokasi: Perpustakaan Akhir — Di Luar Realitas Setelah kejadian dengan Oblivion, Solace perlahan mulai menjadi kota yang “hidup”. Tak ada lagi sistem sempurna, tak ada lagi matahari yang selalu tepat waktu, tapi semua terasa benar. Namun, Elena belum bisa tenang. Di dalam dirinya, muncul mimpi-mimpi aneh… tentang lautan tinta, tangan-tangan tak terlihat yang menulis namanya berulang-ulang di langit kosong.
1.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 54 kali sebagai dalam sepi utopia
Baca
+Pustaka
Sepuluh Tahun Saling Menatap, Tak Seindah Saling Melupa

Sepuluh Tahun Saling Menatap, Tak Seindah Saling Melupa

“Aku hanya … tidak memperhatikan detail-detail itu. Dalam hatiku hanya ada dirimu.” Dulu, kata-kata manis seperti itu adalah hal yang paling ingin kudengar. Namun sekarang aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi. Di belakang kami, petugas bandara mulai mengumumkan waktu keberangkatan. Aku mendorong tangannya menjauh. “Semua ini sudah tidak penting lagi.” “Karena kita sudah tidak punya masa depan.” Pintu boarding tertutup tepat di depannya.
1.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 45 kali sebagai dalam sepi utopia
Baca
+Pustaka
TUAN MUDA WIJAYA YANG BERGAIRAH

TUAN MUDA WIJAYA YANG BERGAIRAH

Mereka tidak lagi hanya mengikuti perintah; mereka merayakan kehidupan dengan cara mereka sendiri. Surya duduk di tahtanya, namun kali ini ia tidak duduk sendiri. Meiling berada di sampingnya, dan Adnan Junior berdiri tegak di sisi kanannya. Sisi pria dominan yang bijaksana terpancar saat ia memandang hamparan kotanya yang bercahaya. Ia telah berhasil menciptakan sesuatu yang mustahil: sebuah peradaban yang berdaulat secara mutlak tanpa kehilangan kemanusiaannya. "Inilah duniaku," bisik Surya kepada Meiling, menggenggam tangannya erat. "Dunia di mana tidak ada lagi akhir yang tertulis, hanya awal-awal baru yang tak terhingga."
992 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 28 kali sebagai dalam sepi utopia
Baca
+Pustaka
Istri Imutku

Istri Imutku

Udara pagi yang menyejukkan, Kevin mendorong kereta Varka, jalan-jalan santai di taman. Beberapa orang terlihat jogging, berlari dengan hewan peliharaan, ada pula yang menaiki sepeda. “Kamu setuju gak kalau kita luangkan waktu hanya berdua saja?” “Maksud kamu?” Liora menoleh. “Semenjak kita bersama, aku gak pernah ajak kamu jalan-jalan, kita sebentar lagi mau setahun loh, emang kamu gak pernah berpikir punya waktu berdua aja sama aku? Kayak honeymoon gitu.”
9.7217.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 7.2K kali sebagai dalam sepi utopia
Baca
+Pustaka
Utari

Utari

ucap Edo. "Tapi..." "Ah sudahlah...aku gak mau denger alasan. Jahit dan pakailah..." titah Edo. "Iya..." "Aku mau ke kampus..." ucap Edo. "Terimakasih tuan..." Edo hanya melambaikan tangan kirinya dan pergi. ****** Malam itu, Utari sedang membereskan koridor kamar. Tidak sengaja, Utari mendengar percakapan Bibi Rita di telepon.
2.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 46 kali sebagai dalam sepi utopia
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
9
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status