Ibu Kost yang menggoda
goresan pena amatir arvian dwi ajarkan akuarti rumah tanpa pintuasmara di balik pintuaku baru
katanya pelan, “tempat ini dulu sering kupakai untuk menyepi. Waktu aku belum punya kos, belum kenal siapa-siapa.”
Arven menoleh. “Sendirian?”
“Ya. Kadang seminggu penuh. Aku capek waktu itu, Arven. Dunia rasanya terlalu ramai, semua orang bicara tapi nggak ada yang benar-benar dengar.”
Ia tersenyum miris. “Aneh ya, sekarang aku malah kangen masa sepi itu.”
Arven bersandar ke dinding, menatap langit-langit yang retak. “Kadang sepi justru bikin kita ngerasa hidup. Soalnya baru di situ kita bisa denger suara diri sendiri.”