ANAK TUKANG CUCI PIRING
ucapku sembari menarik ritsleting tas hinga membuat benda itu tertutup.
“Iya, Ibu tahu, bageur. Tapi ke mana Imas anak Ibu yang dulu? Imas yang sangat pemaaf, Imas yang tak pernah menaruh dendam dan benci pada siapa pun. Imas yang begitu sempurna.”
“Imas bukan Nabi, Bu. Imas tidak sempurna. Imas juga memiliki perasaan,” ucapku sambil menahan air mata dengan perasaan menggebu-gebu.