Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Dinikahi Ustadz Tampan

Dinikahi Ustadz Tampan

Aku memilih duduk di bangku dekat dengan kipas angin dan menunggu Akang selesai memesan. Dia suamiku, kekasihku, imamku, orang yang paling berhak atas diriku. Izinku ada padanya, surgaku ada dalam ridhonya. Laki-laki yang selamanya akan aku cintai, sampai jantung ini berhenti berdetak. "Ay, kok melamun sih, mikirin apa?" Akang melambai dadah di depan wajahku, sampai aku tersentak kaget.
10129.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 5.0K kali sebagai diaku imamku
Baca
+Pustaka
Suami Adikku Memuja Rahimku

Suami Adikku Memuja Rahimku

"Aku hanya pulang ke rumahku sendiri." Tawa Shaka terdengar pendek. Dingin. "Jangan berpura-pura bodoh. Kamu tahu maksudku." Aku terdiam, membiarkan degup jantungku menjadi musik di keheningan ini. Di kegelapan kamar, aku tidak perlu lagi bersembunyi. Shaka, menantu kesayangan Papa, justru sedang meradang mencariku. Rasa puas itu merayap pelan, semanis madu namun sedingin es.
10579 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 13 kali sebagai diaku imamku
Baca
+Pustaka
Kukembalikan Suamiku pada Istri Pertamanya

Kukembalikan Suamiku pada Istri Pertamanya

Membasuh dadaku yang penuh dengan rasa kecewa. Suara iqomah sudah mulai terdengar dari dalam mesjid. Aku mempercepat langkah dan masuk ke dalam mesjid yang tak terlalu besar itu. Berdiri tegak, kemudian mengangkat kedua tanganku dengan khusuk. Mengikuti gerakan-gerakan imam yang berdiri di depan sana.
1062.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.7K kali sebagai diaku imamku
Baca
+Pustaka
Batas kesabaran seorang istri!

Batas kesabaran seorang istri!

Sakit sekali. "Pak Imam, tolong keponakan saya cepat. Tolong, Pak!" ucap Kakek Alia. Pak tua yang bernama Iman itu mengangguk. Entah itu memang namanya, atau bapak ini seorang Imam. Aku tak tahu. Tapi yang jelas, aku melihat sinar putih yang berkilau dari tubuhnya. Pak Imam memakai baju koko turka Pakistan panjang, berwarna hijau botol. Dengan tasbih di tangan kanan serta kopiah di kepala. Hampir mirip Imam mesjid.
1075.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.4K kali sebagai diaku imamku
Baca
+Pustaka
Aku dan Teman Suamiku

Aku dan Teman Suamiku

Lalu membalas pesan Didu dengan penuh emosi. Kamu harus bangun dari mimpi, jika berani membuat hidup saya kacau. Kamu harus bercermin. Didu tak kalah emosi membaca pesan dari Mei. Rahangnya mengeras. Kamu wanitaku, dan anak yang ada di dalam perutmu adalah darah dagingku, maka aku tidak akan melepaskan kalian. Didu bermonolog, lalu memacu kencang motor maticnya menuju rumah. Niat mengajak Mei menonton ia urungkan. Ia harus cari cara agar bisa memiliki Mei. ****
10130.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 3.8K kali sebagai diaku imamku
Baca
+Pustaka
Aku dan [D]ia

Aku dan [D]ia

Aku Maaf aku ribet ya? Hm maklumin aku cewek. Dzaqi Hahaha gak apa – apa, aku suka. Suka cewek maksudnya. Aku Iya tahu, kan ceweknya banyak ya saking sukanya. Eh sorry aku jujur banget ya? Dzaqi Apa sih Di? Kamu sebenarnya mau ngomong apa kok kaya sinis gitu. Aku
3.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 119 kali sebagai diaku imamku
Baca
+Pustaka
MEMBALAS SUAMI DAN MADUKU

MEMBALAS SUAMI DAN MADUKU

Tubuh dan pikiran segar kembali. Setelah itu, kami sholat berjama’ah. Fajar menjadi imam. Ayat suci berkumandang dengan merdu. Walau sesekali suaranya bergetar menahan duka dalam tangis. Suara pria keturunan arab itu sangat indah dan menggetarkan jiwa. Imamku itu terlihat begitu sempurna. Imamku? Ups. Aku salah menyebutnya. Maksudnya imam sholatku. Ah, aku salah bicara. Entah kenapa bibir ini sangat lancang menyebut fajar sebagai imamku. Namun terasa begitu indah kala aku menyebutnya tadi.
8.9111.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.5K kali sebagai diaku imamku
Baca
+Pustaka
ANAK TUKANG CUCI PIRING

ANAK TUKANG CUCI PIRING

ucapku sembari menarik ritsleting tas hinga membuat benda itu tertutup. “Iya, Ibu tahu, bageur. Tapi ke mana Imas anak Ibu yang dulu? Imas yang sangat pemaaf, Imas yang tak pernah menaruh dendam dan benci pada siapa pun. Imas yang begitu sempurna.” “Imas bukan Nabi, Bu. Imas tidak sempurna. Imas juga memiliki perasaan,” ucapku sambil menahan air mata dengan perasaan menggebu-gebu.
1060.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.8K kali sebagai diaku imamku
Baca
+Pustaka
Jadi Miskin Di Hadapan Mertua

Jadi Miskin Di Hadapan Mertua

CARI MUKA? Imam pun langsung salah tingkah medengar ucapan Dinda. Awalnya dia ingin menggoda gadis itu justru kini malu sendiri karena di samakan dengan Jaja Miharja. Padahal menurut istri dan anaknya dia itu ganteng tiada tara. "Oh tidak! Anu, ini kena debu di jalan jadinya kelilipan," ujar Imam malu melihat Dinda memergokinya dan menganggapnya bintitan.
9.544.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 938 kali sebagai diaku imamku
Baca
+Pustaka
JANGAN GANTUNG MUKENAH DI BALIK PINTU

JANGAN GANTUNG MUKENAH DI BALIK PINTU

Aku melangkah perlahan, mencoba bersikap tenang, hingga tiba-tiba ia menyeletuk pelan. “Cah ayu, aku seng pingin jadi imam kowe.” Nyaris saja aku pingsan saat kuseret langkahku hingga ke ruang tengah. Semua orang sudah berdiri, tinggal aku yang tidak mengisi sajadah. Kukhusyukkan kembali diri. Subuh itu terasa sangat lama, padahal hanya dua rakaat. Aku yang berdiri merasakan hal janggal, lantas kulirik di sebelahku, tapi benar dia adalah Oma. Disebelah kanan Oma sudah pasti Isa. Lantas di depanku sudah pasti Eyang.
1022.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 663 kali sebagai diaku imamku
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
45678
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status