Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Adakah Jalan Untuk Kembali

Adakah Jalan Untuk Kembali

NADIA - 22 Berdebar-debar "Bos," sapa Tobi sambil berdiri. Dewa menyambut uluran tangan Tobi, kemudian duduk. Seorang pelayan kafe mendekat dan Dewa memesan capucino.
10145.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 3.6K kali sebagai dibawa
Tampilkan Ulasan (43)
Baca
+Pustaka
Weneedta
Ceritanya bagus banget kak... Izin promo ya. Sambil nunggu update buku ini, mampir yuk ke cerita aku. "Antara Kamu dan Putraku". Kisah seorang wanita menikah 30an yg tergoda dengan pria muda pelatih basket putranya. Makasih ^_^
Adelia
Ijin promosi novel judul: Amnesti Sang Eksekutor Aku hanya ingin satu malam pelarian untuk melupakan pengkhianatan mantan kekasihku. Sialnya, pria yang kutemui di bar dan hampir tidur denganku semalam adalah Arkana Wijaya, eksekutor perusahaan yang dikirim untuk memecat seluruh departemenku
Baca Semua Ulasan
Dia Gampang Dibujuk

Dia Gampang Dibujuk

Dia adalah seorang pedagang dengan latar belakang misterius, sekaligus pelanggan tetap toko bungaku. Setiap hari dia selalu datang membeli setangkai mawar putih, tanpa peduli turun hujan atau cuaca terik. Dia tahu masa laluku, tetapi tak pernah bertanya. Hanya saja, setiap kali aku terbangun dari mimpi buruk dan wajahku pucat, kopi yang dia antarkan akan diberi satu porsi gula ekstra. Aku memahami perasaannya, tetapi aku belum siap menerima hubungan yang baru.
3.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 125 kali sebagai dibawa
Baca
+Pustaka
Dewa Beladiri Pengguncang Langit

Dewa Beladiri Pengguncang Langit

Bagaimana mungkin Yi Chen tidak bersemangat? Ia berjalan ke tengah halaman, di sana berdiri sebatang pohon willow setebal pinggang orang dewasa. Sudut bibir Yi Chen terangkat. Ia pun langsung mengerahkan jurus itu, tinju yang disertai suara angin menerjang menghantam batang pohon. Seketika terdengar suara krek-krek, dan pohon willow itu patah berkeping-keping sebelum roboh ke tanah. “Kalau begitu, kita sebut saja Pukulan Pemecah Angin.”
636 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 20 kali sebagai dibawa
Baca
+Pustaka
Diam-Diam Menikmati

Diam-Diam Menikmati

tanyanya. Jacob menaikkan alisnya, "Aku curiga pada kalian, apa yang sudah kalian lakukan pada Luna?" Diana mengedikkan bahu, lalu pandangan Jacob teralihkan ke pintu, dimana sebuah kain dibentangkan oleh kakak kembar Diana. Seakan mereka siap menunjukkan sebuah hadiah besar secara spesial. "Dari hitungan ke tiga, kau siap?!" seru Diana, "Satu...dua...tiga!"
9.9116.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 3.4K kali sebagai dibawa
Baca
+Pustaka
DIKEJAR DUDA KEREN

DIKEJAR DUDA KEREN

Tubuh bagian belakangnya tidak sengaja disenggol oleh Dian yang datang dengan tergopoh-gopoh. “Sori, Mbak. Eh, Jena? Gue kira Lo ada di bawah.” Dian baru saja duduk di balik kubikelnya. Menyadari ada tatap aneh yang ditujukan untuknya, Dian kembali melanjutkan ucapannya. “Iya … soalnya Brian ada di bawah, kata Pak Ajri—”Belum sempat omongannya selesai, Jena sudah ngibrit lari ke lantai satu.
1.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 65 kali sebagai dibawa
Baca
+Pustaka
Disayang Duda Kaya

Disayang Duda Kaya

“Jangan bermain-main, Dimas. Kalau cocok lakukan dengan sungguh-sungguh. Pepatah lama bilang kalau tidak mau terbakar jangan bermain api. Tapi kamu tahu? Walaupun hanya coba bermain api dan berhasil dipadamkan, pasti ada ujung yang hangus. Ujung yang sudah jadi abu itu, tidak akan pernah jadi bentuk semulanya karena dia sudah jadi serbuk abu. Kaca bisa dilem lagi, kertas masih bisa rekatkan, tapi abu akan selamanya jadi abu. Mengerti?” Dimas mengangguk. “Tapi, saya tidak bermain api, Bu. Saya bekerja dengan sungguh-sungguh.” “Syukur kalau begitu,” ucap Diani yang kemudian berbalik menuju dapur dimana Lila sedang mempersiapkan makan malam dengan Saimah.
6.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 251 kali sebagai dibawa
Baca
+Pustaka
Sang Dewi

Sang Dewi

Sore itu Larasati pergi ke Gunung Pucangan, dia harus melewati perbukitan terjal hingga kemudian menemukan Gua Selobale yang menjadi kediaman Buta Locaya—Perdana Menteri Panjalu di masa lalu. Ketika Larasati menghentikan langkah di depan mulut gua, beberapa makhluk segera menampakkan diri dengan posisi siap menyerang. Namun, setelah mengenali Larasati sebagai Putri Panjalu, mereka segera berlutut sembari menunduk dan menyatukan telapak tangan di kening. Tak berselang lama, hadir pula sesosok makhluk tinggi besar. Dari mata bulat kemerahan, rambut gimbal, taring, serta kulit hitam legumnya, sudah dapat dikenali kalau dia bangsa Danawa. “Dewi Putri!” Buta Locaya terkejut saat melihat Larasati,
2.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 58 kali sebagai dibawa
Baca
+Pustaka
Daniel Si Pengembara

Daniel Si Pengembara

ucap Trev Aku terdiam untuk sesaat hingga Trev menagihku untuk melanjutkan percakapan ini dan kulanjutkan bercerita. "jadi saat aku menyuruhmu lari, saat itu seorang pria berpakaian putih dengan garis merah muncul di hadapanku dan saat itulah orang itu menggunakan semacam kekuatan yang kurasa dia menyebut itu D apalah aku hanya mendengar D tapi tak mendengar lanjutannya karena setelah itu dia hanya bergumam seperti hanya ingin memberitahu soal D nya saja" ucapku.
103.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 102 kali sebagai dibawa
Baca
+Pustaka
ARWAH SI KEMBAR

ARWAH SI KEMBAR

"Ya Allah, Nduk ... Kamu kenapa?" Ibu beringsut mendekatiku sembari memperhatikan darah segar menganak sungai di kaki ku. Aku mengerang akibat rasa sakit luar biasa pada perut yang seperti diremas-remas. Namaku Dewi Arnita Sari, panggil saja Dewi. Wanita berusia 22 tahun yang tengah dilanda badai nestapa.
103.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 129 kali sebagai dibawa
Baca
+Pustaka
Tiba-Tiba Dimadu

Tiba-Tiba Dimadu

desisku mendelik melihat panciku yang seharga 8 juta gosong dan lengket sedangkan bagian luarnya juga menghitam. Dumprang! Kubanting sekuat tenaga benda itu sehingga menimbulkan suara yang begitu keras. "Jannah. ..." mas Ikbal membulatkan matanya. "Apa, Mas mau marah? Mas ga terima, hah! Lihat semua ini, lihat kulkas dan lemari, lihat kompor yang menjijikkan ini, apakah ini adalah hasil pekerjaan seorang wanita dewasa?" Aku membeliak marah sekali.
1060.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.7K kali sebagai dibawa
Tampilkan Ulasan (15)
Baca
+Pustaka
Kiky
endingnya sangat mengecewakan..! padahal secara jelas udah kentara banget kamu itu cuma cadangan Jannah..! seandainya aib nya angel gak ketahuan, gak akan mungkin Rafiq mau nyariin kamu.. ini malah balikan lg ma Rafiq.. astaga harga diri wanita di novel² skrng pada gak ada ya...??
anne annisa
versi disini berakhir indah buat jannah. makasih thor udah kasih ending yg lbh baik buat rafiq dan jannah. dulu waktu baca di inn****sama kabeem, sumpah aku pengen protes. gitu amat nasib jannah maupun rafiq. sukses selalu buat author. tetap semangat untuk berkarya.
Baca Semua Ulasan
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status