Renungan Kasih Ibu
Setelah mendengar pertanyaan itu, pikiranku secara tidak sadar mengarah pada desa yang sunyi, dimana tempat aku telah dilahirkan, berbaring, merangkak, duduk, terlatih, berjalan, berlari, jatuh, dan bangun kembali.
Desa yang masih sangat jauh dari suatu tempat yang penuh dengan keramaian disebabkan pesatnya pembangunan infrasturktur. Suatu desa yang mempertemukan aku dan saudara-saudaraku yang lain. Suatu tempat dimana aku mulai menyaksikan kehidupan dengan macam-macam warna dan tingkah laku. Suatu desa yang mengaitkan jiwa ragaku beserta yang lainnya. Di suatu desa yang bernama Mukusaki sebagai awal kehidupanku mulai dicatat.