Tukang Pijat Super
Dinda menempelkan tubuhnya ke Juned, kulit kehangatannya menyatu dengan getaran yang selama ini dipendam.
“Aku bukan orang yang suci,” geramnya, gigi putihnya menyinari senyum getir, “tapi aku melakukannya sesuai dengan keinginan hati.”
Lampu kamar meredup, menyoroti bayangan dua tubuh yang akhirnya tak lagi melawan. Di sudut gelap, lukisan abstrak seakan menjadi saksi bahwa hasrat paling purba selalu menang atas logika.