Panggil Aku Aisyah
Ucapku.
“Kok buru-buru amat Di, ya sudah hati-hati di jalan yaa.” Jawab beliau.
Aku kembali menaiki motorku dan segera melaju menuju ke sebuah tempat yang entah tak tahu harus ke mana lagi. Dalam perjalanan di atas dua roda ini, kumulai bimbang. Rasa sedih bercampur gelisah mulai datang, seakan diriku memiliki masalah baru sekarang. Ya, sebagaimana janji yang sudah pernah kubilang padanya, bahwa aku akan pergi meninggalkannya di saat dia sudah kembali pulih dan bisa berjalan. Bisa jadi, mulai esok kujuga takkan pernah lagi untuk melihat sosok Aisy, kusudah tidak akan pernah lagi melihat dirinya tertawa dan juga bahagia, karena sepertinya hatiku telah rapuh, tak sanggup lagi bertahan atas per
Hot Chapters