NODA PERNIKAHAN
Apalagi bisa saja masih ada barang-barang Mas Wildan di rumah itu.
Ponselku berdering. Aku yakin itu pasti Handi yang menelpon, karena tak ada yang tau nomor baruku selain Nafisa, Handi dan keluargaku di Bandung.
[Mbak, siang ini jadi kan ketemu di Jingga?] tanya Handi.
[Mbak usahakan ya. Ndi.]
[Kalau bisa jangan ditunda-tunda lagi, Mbak. Saya jadi nggak enak sama orangnya, takutnya dikira saya nipu.]