Rayuan Maut Para Tetanggaku
Napas Clarissa masih tersengal-sengal, dadanya yang montok naik turun dengan cepat, tapi bagiku badai ini belum benar-benar usai.
Cairan yang tadi kusemprotkan seolah hanya pemantik api yang lebih besar di dalam darahku.
Libidoku, yang dipicu oleh zat misterius dari makanan Mbak Wina dan diperkuat oleh teknik batin Kakek, kembali menggelegak.
Aku tidak membiarkan Clarissa beristirahat.
Dengan kasar, aku menarik rambut panjangnya, memaksanya untuk berlutut di hadapanku yang masih berdiri tegak di tepi ranjang.