Prahara Orang Ketiga
Pada saat seperti ini, ketika aku sangat membutuhkan dukungan keluargaku, mereka sudah sejak lama menyembunyikan pisau di belakang punggung mereka, menunggu untuk memberikan pukulan fatal ketika aku berada pada titik yang paling rentan.
Aku duduk di tepi jalan sambil memeluk lutut. Tiba-tiba, dering ponselku berdering memecah lamunanku.
Suara Bimo terdengar sangat murah hati, seperti sedang membujuk anak kucing.
"Acara sudah selesai. Kembalilah, kamu bisa foto sama kami, jadi nanti ada yang dilihat saat hari perayaan.
"Nggak perlu." Aku menyeka air dari wajahku dan menyadari bahwa hujan telah turun selama satu jam, membasahi tubuhku.
Bab Populer