Terjerat Pesona Papa Temanku
Di luar sana, Arunika masih memasak dengan harapan, dengan cinta, dan dengan hati yang nyaris runtuh.
Arunika memindahkan masakan itu ke dalam wadah satu per satu dengan tangan yang sedikit gemetar, bukan karena lelah, melainkan karena harapan yang ia genggam terlalu erat. Aroma udang saus tiram masih hangat, begitu juga kuah sup iga yang bening dan menggoda. Ia menutup setiap wadah dengan rapi, seolah sedang menyiapkan sesuatu yang sangat berharga, bukan sekadar makanan, tapi potongan kenangan.