Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Belum Siap Patah Hati

Belum Siap Patah Hati

Lelaki itu terlihat fokus dalam menulis jawaban-jawaban yang bersarang di otaknya. Seorang wanita paruh baya mengetuk pintu kamar Kafka lantaran berjalan perlahan menghampiri putra satu-satunya. “Lagi belajar, ya?” katanya bertanya sembari menepiskan senyum teduhnya. Kedua tangannya bertengger pada bahu Kafka sementara netranya menatap lembar kerja putranya. Kafka sejenak menghentikan aktivitasnya, memutar lehernya menatap sang ibu dengan senyum terukir sempurna. “Iya, besok dikumpulkan.”
2.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 83 kali sebagai franz kafka letter to his father
Baca
+Pustaka
About Keenan

About Keenan

Papa-nya. Kafka mendekat, melirik sekilas layar ponsel. "Angkat aja, mungkin penting." Keenan menghela napas panjang, lalu dengan gerakan malas, dia menerima panggilan itu. "Halo, Pa?" Suara ayahnya terdengar jelas di seberang, serius dan langsung pada intinya. "Pulang sekarang. Kita ada pertemuan keluarga."
102.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 63 kali sebagai franz kafka letter to his father
Baca
+Pustaka
Mendadak Jadi Istri Sahabat Kekasihku

Mendadak Jadi Istri Sahabat Kekasihku

Kafka tersungkur dan hidungnya terbentur kencang sampai mengeluarkan darah segar. Kafka tahu bila saat ini tubuhnya remuk redam. Namun, dia berusaha bangkit hanya untuk menatap papanya itu kemudian memberikan senyum miringnya. "Kembalikan uang yang Papa Aster pinjamkan. Dengan begitu, keluarga kita bisa terbebas dari hutang dan balas budi." *****
102.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 77 kali sebagai franz kafka letter to his father
Baca
+Pustaka
Adikku Ingin Jadi Maduku

Adikku Ingin Jadi Maduku

Dia pun meninggalkan mantan adik iparnya di sana sendirian. Kafka hanya tersenyum melihat punggung Melissa yang menjauh. Dalam benak sana dia terus memikirkan rencana yang sempat dia canangkan. "Sepertinya aku harus bicara sama Papa dan Mama dulu." *** Sore hari, Kafka menemui kedua orang tuanya. Dia langsung bergabung duduk di ruang keluarga ketika melihat keduanya tampak duduk berdua.
103.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 94 kali sebagai franz kafka letter to his father
Baca
+Pustaka
Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!

Peraturan Pertama, Jangan Jatuh Cinta!

tambahnya. Papa berdiri mendekat ke arah Kafka, menatap Kafka tajam. Plakk.. Satu tamparan di pipi kiri, Kafka dapatkan dari Ayahnya sendiri. “Jaga ucapanmu, Kafka. Jangan jadi liar!” ujar Papa tegas, suaranya menggema di ruang tamu. “Saya kesini dengan niat baik, ingin membawa kamu pulang ke rumah yang seharusnya kamu tempati. Bukan di apartemen sendirian dan menjadi berandalan!”
103.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 128 kali sebagai franz kafka letter to his father
Baca
+Pustaka
Menjadikanmu Milikku

Menjadikanmu Milikku

Sepertinya sedang melamun. "Pa," panggilnya. Kafka berjalan mendekat. "Kafka." Ia merentangkan tangan, keduanya berpelukan untuk melepaskan rindu. "Sudah lama sekali kamu tidak datang kemari, Nak?" Yarendra menepuk pelan pundak putranya. Satu senyuman Kafka berikan pada papanya. "Apa yang sedang Papa lakukan? Sepertinya ada masalah berat?" Ia mendudukkan diri pada meja kerja sang papa setelah menyingkirkan beberapa buku di sana.
1011.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 227 kali sebagai franz kafka letter to his father
Baca
+Pustaka
Hati Yang Terpilih

Hati Yang Terpilih

“Seperti yang kuceritakan tadi, aku menjemput Salsa dan Hanif ke rumah Nazwa. Karena minggu ini adalah jatah waktuku bersama mereka. Ternyata yang membukakan pintu untukku adalah mantan ayah mertuaku.” “Bilang apa beliau?” “Beliau tidak bilang apa-apa,” keluh Rafi. “Sepertinya beliau masih marah kepadaku.” “Bapak tidak marah. Lebih tepatnya kecewa padamu, Raf,” ungkap Kafka. “Bgaimana kamu tahu?” taut Rafi. “Bapak sendiri yang bercerita sewaktu aku melamar Nazwa,” ujar Kafka.
6.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 186 kali sebagai franz kafka letter to his father
Baca
+Pustaka
MENANTU SETENGAH DEWA

MENANTU SETENGAH DEWA

jawab Hakya. Kafka menangis tersedu sambil memegang tangan Kanaya dengan erat. "Maafin ayah, Nak," ujar Kafka memeluk dan menciumi Kanaya. "Udah ayah, Kanaya gapapa kok. Lihatlah sekarang Kanaya baik-baik saja dan sehat kok," jawab Kanaya sambil menahan tangisnya agar tidak jatuh. Dia merasa sangat bahagia karena akhirnya orang tuanya menyadari kesalahannya dan kembali ke jalan yang seharusnya.
9.888.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 3.5K kali sebagai franz kafka letter to his father
Baca
+Pustaka
Biro Jodoh Pangkalan Hati

Biro Jodoh Pangkalan Hati

Alif tidak akan pasrah meskipun tanda-tanda restu Kafka sepertinya jauh dari jangkauan. “Kafka pasti marah sama gue gara-gara kejadian waktu itu!” pikir Alif. Dia akhirnya tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan sebuah rencana. *** Malam harinya, Kafka memberi kabar kepada Nun bahwa dia ada urusan keluarga di luar kota. Dia sedang melakukan mediasi dengan keluarga besar ayahnya soal Nun, adik yang baru diketahui keberadaannya setelah sekian tahun.
105.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 196 kali sebagai franz kafka letter to his father
Baca
+Pustaka
Kamu Akan Miskin, Mas!

Kamu Akan Miskin, Mas!

"Titip salam buat Mama kamu aja, ya. Kalian udah mau pulang?" Aku mengangguk. Mama langsung mencium keningku. Juga mencium Raja. Aku tersenyjm pada Mama. "Jangan kelamaan gak main ke rumah Mama. Kangen tau. Kamu juga, Kafka. Mama usir kamu dari rumah kalau jarang main." Kafka nyengir. Dia menyalami Mama dan Papa. Papa masih diam saja di sofa, membaca majalah tadi. "Jagain adek kamu. Kalau ada apa-apa, telepon Mama sama Papa, Sayang."
8.5241.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 6.8K kali sebagai franz kafka letter to his father
Baca
+Pustaka
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status