Hati Yang Terpilih
Bisiknya di hati.
Tak berapa lama, mereka telah tiba di depan perumahan rumah Nazwa. Kafka menepikan mobilnya di bahu jalan di boulevard perumahan itu. Ia melepas seat beltnya. “Naz, aku tidak mampir ya. Salam saja untuk ayah dan ibu. Terima kasih sudah mengijinkan aku mengantar kamu dan anak-anak ke sekolah. Aku tunggu hasil pembicaraanmu dengan bapak.” Ujar Kafka pelan.
“Ya,” angguk Nazwa. “Akan aku sampaikan salammu. Aku akan menelponmu nanti,” balas Nazwa.